× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Pemerintah Bersama Le Minerale Gagas Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional

By Redaksi
Penandatangan MoU antara ADUPI, IPI dan Le Minerale Disaksikan Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah di Jakarta, Selasa (23/2/2021). Foto : Nest PR ArgoAsia

MajalahCSR.id – Untuk mengatasi persoalan limbah termasuk limbah plastik perlu dilakukan tiga pendekatan. Pertama adalah pendekatan zero waste melalui perubahan perilaku, kedua pendekatan teknologi, dan ketiga pendekatan ekonomi sirkular. Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal PLSB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Rosa Vivien dalam konferensi pers virtual dan penandatangan kerja sama multi stakeholder untuk pilot project Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional, Selasa (23/2/2021).

“Indonesia memiliki kewajiban mengambil langkah nyata dalam pengelolaan sampah melalui upaya pengurangan dana penanganan secara benar, termasuk penanganan sampah plastik baik di darat maupun di lautan,” terang Rosa.  

Rosa menyebutkan prinsip 3R yaitu reduce, reuse, recycle, dan ekonomi sirkular sudah menjadi kerangka kerja (frame work) dalam kebijakan nasional dan strategi pengelolaan sampah di darat maupun laut. Pemerintah, menurutnya, sudah menetapkan target penanganan sampah melalui Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017. Targetnya, pada tahun 2025, dilakukan 30% upaya pengurangan dan 70% upaya penanganan sehingga sampah 100% terkelola dengan baik.

Rosa menegaskan perlunya pelibatan dari pelaku usaha, industri, importir, perusahaan jasa, makanan, dan minuman, terhadap penanganan prinsip tanggung jawab produsen atau extended producer responsibility (EPR).

“Untuk mendukung EPR tersebut pada Desember 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan (Roadmap) Pengurangan Sampah oleh Produsen,” papar Rosa.

Peta jalan ini disebutkan menjadi pedoman bagi produsen dalam pengelolaan sampah (produk) mereka. Mulai dari pemilihan bahan baku, desain produk, penggunaan kemasan, hingga penanganan kemasan bekas pakai dari para konsumen, terutama kemasan yang terbuat dari material plastik.

Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional merupakan salah satu upaya penanganan sampah yang memiliki tambahan nilai baru yaitu ekonomi dan sosial melalui pemberdayaan masyarakat.

“Ekonomi sirkular merupakan peran kolaboratif  pemangku kepentingan di sepanjang rantai pengelolaan persampahan. Ada pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sehingga target tujuan dari poin 12 sustainable development goals (responsible consumption and production) bisa tercapai,” jelas Rosa.

Indonesia tidak hanya menerapkan prinsip 3R melainkan juga mengimplementasikan, mempromosikan ekonomi sirkular. “Jadi, ada bank sampah, tempat pembuangan sampah 3R, pusat daur ulang, dan dukungan sektor informal,” tambahnya. Rosa berhadap pada pelaku usaha dalam hal ini Le Minerale, asosiasi daur ulang plastik ADUPI, sektor informal melalui Ikatan Pemulung Indonesia, dan Waste for Change bekerja sama agar rantai daur ulang sekaligus aktivitas ekonomi sirkular bisa dipastikan berjalan.

Sementara itu, Ronald Atmadja, Direktur Sustainablity PT Tirta Fresindo Jaya, menyebutkan, dalam penanganan limbah plastik Le Minerale mendukung konsep 3 R dan prinsip ekonomi sirkular. “(Iklim) Ekonomi sirkular (terutama dari botol PET) sudah terbukti dan terbentuk di Indonesia. Namun, masih memerlukan penyempurnaan agar daya serap (limbah untuk daur ulang) menjadi lebih tinggi sehingga menjadi solusi sampah yang lebih efektif,” sebut Ronald.

Plastik PET, lanjut Ronald, dipilih karena sangat aman untuk pangan dalam kondisi panas dan dingin, dan juga ramah lingkungan karena 100% dapat didaur ulang karena sifatnya yang stabil untuk kembali dijadikan bijih plastik. Alhasil, plastik PET bernilai ekonomi tinggi sebagai bahan baku untuk pembuatan produk baru. Kelebihannya ini membuat plastik PET lebih unggul penanganan limbahnya di antara jenis plastik lain. Dengan catatan, pelaksanaan ekonomi sirkularnya pun sama baiknya.

Dalam pilot project Gerakan ekonomi Sirkular Nasional, Le Minerale memiliki tiga target kerja, pertama, meningkatkan volume pengambilan limbah plastik PET dari lingkungan sebesar 20% di tingkat pengepul. Kedua, menciptakan sistem kerja terpadu yang mampu menyambung dan mengukur hasil daur ulang negara. Ketiga, melakukan penyempurnaan sistem kerja dan penambahan kota kerja di ujung periode pengujian.

“Sebagai produsen, Le Minerale dan produsen lainnya harus memastikan produk-produknya cocok untuk diserap dan berpartisipasi aktif dalam proses memaksimalkan penyerapan hingga pabrik produk daur ulang,” kata Ronald. Menurutnya, konsumen pun perlu diedukasi agar memahami konsep ekonomi sirkular. Le Minerale, dijelaskannya, bersama partner media tv, digital, serta stake holder ekonomi sirkular, memulai inisiatif edukasi masyarakat yang bersifat jangka panjang.

Selain itu, Le Minerale juga memberikan perhatiannya pada keberadaan bank sampah hingga kesejahteraan para pengepul limbah plastik yang merupakan garda terdepan dalam proses kegiatan ekonomi sirkular.

Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Christine Halim menyatakan bahwa Industri daur ulang memerlukan sampah plastik PET dalam jumlah besar. Dalam catatan ADUPI, setiap tahunnya permintaan PET meningkat rata-rata 7 Persen. Angka ini termasuk dalam kondisi saat pandemi Covid-19. PET menjadi primadona karena bernilai jual tinggi dan menjadi rebutan pemulung. Seperti botol dan gallon PET Le Minerale yang jernih, mudah di daur ulang untuk menjadi barang bermanfaat seperti polyester, dakron sintetis, geotextile, bantal, busana musim dingin, kancing, dan lainnya.

Program kerja sama yang dilakukan antara ADUPI dan Le Minerale menurut Christine ada 4 tujuan, yaitu  meningkatkan serapan sampah daur ulang plastik, memberikan bantuan sarana dan teknologi pengolahan sampah, membangun poros sirkular ekonomi pengelolaan sampah nasional, dan memperkuat kerjasama antar institusi/instansi.

Menurut Christine, plastik PET dapat didaur ulang hingga 50 kali dan menghemat bahan baku produksi.

“Tren permintaan ekspornya pun terus naik. Ini sejalan dengan program pemerintah dalam menjadikan sampah bahan baku ekonomi dan plastik sekali pakai tidak masalah apabila manajemen sirkular ekonomi dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Terakhir, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Prispolly Lengkong mengatakan bahwa melalui kerja sama ini Le Minerale telah membantu menyejahterakan pemulung di tanah air, memanusiakan dan meningkatkan harkat pemulung secara berkesinambungan.

“Sehingga ada sinergi antara produsen dan pelaku di bawah, terutama para pemulung yang merupakan pemeran utama dalam mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang,” jelasnya.

Selain pemaparan, ada penandatanganan kerja sama dan nota kesepahaman (MoU) antara PT Tirta Fresindo Jaya, ADUPI, IPI dalam pilot project Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional yang disaksikan Dirjen Pengelolaan Limbah Sampah B3 KLHK, Rosa Vivien.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]