banner
Peneliti Ecoton menunjukkan popok sekali pakai yang ditemukan di aliran Sungai Brantas. Masih banyak kotoran yang menempel di sebagian besar sampah popok yang ditemukan. Foto: Tommy Apriando/Mongabay Indonesia
Editorial

Pembunuh Tersembunyi Bernama Sungai

61 views

Merebaknya polio setelah hampir satu dekade menghilang dari Nusantara memberikan pelajaran penting soal menata lingkungan, apalagi cakupan imunisasi yang rendah di banyak provinsi membuat banyak anak rentan terpapar penyakit yang disirkulasikan melalui air.

Jakarta, MajalahCSR.id – Nurhayati (58) dan suaminya sekarang punya kebiasaan baru. Pagi hari ia pergi ke kebun depan rumahnya dan mengubur popok bekas pakai cucunya. Kebiasaan itu muncul setelah cucu pertama mereka terjangkit polio dan bidan desa menunjuk sungai kecil yang mengalir di belakang rumah sebagai sumber penyebarannya. “Rumah di sini semua membuang popok ke sungai. Semuanya ke sungai,” ungkap Nurhayati, merasa beruntung karena cucunya tidak sampai mengalami kelumpuhan dan ia sekarang jauh lebih berhati-hati.

Seperti banyak warga Kampung Mane di Pidie Aceh, Nurhayati memanfaatkan air yang mengalir di belakang rumah mereka sebagai sarana MCK dan air minum. “Kalau tidak ada aqua, kami alirkan air ke bak untuk wudhu dan sebagian ditampung untuk dimasak.” Tetangga mereka Azhar, mengamini cerita Nurhayati.

“Ada pemerintah membangun toilet kampung di meunasah, tapi karena pagi antriannya panjang, banyak yang memilih buang air di sungai,” katanya.

Sejak bulan November 2022 Kementerian Kesehatan menetapkan Kejadian Luar Biasa polio di Aceh.  Sempat dinyatakan bebas polio sejak 2014, temuan satu kasus polio tipe 2 di Pidie dan enam lainnya di Aceh Utara dan Bireuen memaksa pemerintah menetapkan KLB di tiga wilayah tersebut. Selain Indonesia, terdapat 15 negara yang melaporkan kasus virus polio tipe 2, yaitu Yaman, Kongo, Nigeria, Central African Republic, Ghana, Somalia, Niger, Chad, Amerika Serikat, Algeria, Mozambik, Eritrea, Togo, dan Ukraina.

Deretan rumah di sepanjang parit di Danau Laut Tawar Takengon Aceh Tengah. Warga umumnya tidak memiliki septic-tank dan membuang langsung sampah ke aliran sungai menuju danau. Danau ini menjadi sumber untuk air bersih, sanitasi, dan kebutuhan air masyarakat di Aceh Tengah. Foto: Salman/MajalahCSR.id

Polio biasanya menjangkiti anak balita sampai di bawah usia 13 tahun meskipun bisa menulari siapa pun yang tidak mendapatkan vaksinasi polio. Penularan virus polio bisa terjadi akibat kontak dari orang ke orang, makanan dan minuman yang terkontaminasi feses, maupun lalat yang menyebarkan virus dari feses ke makanan. Penyakit ini termasuk berbahaya karena dapat menimbulkan kelumpuhan permanen hingga kematian.

Virus polio ini bereplikasi di dalam usus kemudian dikeluarkan melalui tinja. Jika tinja tersebut mencemari sumber air atau lingkungan dengan sanitasi yang buruk, maka virus akan menyebar dengan cepat ke seluruh lingkungan. Selain itu, virus polio juga bisa menular lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi feses.

Kondisi sanitasi ditambah rendahnya cakupan vaksinasi menyebabkan virus poliomyelitis menyebar jauh dan berpeluang mencemari jutaan anak dari konsumsi makanan dan minuman yang tercemar tinja dari pasien yang positif. Di Aceh dan banyak tempat lainnya, sungai yang seharusnya menjadi berkah, kemudian menjadi pembunuh tersembunyi.

Berhenti Mengabaikan Sungai

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) dalam lamannya menyatakan bahwa secara global, setidaknya dua miliar orang mengkonsumsi air yang tercemar tinja. Pengunaan air yang tercemar mikroba untuk air minum dan sanitasi berisiko besar terpapar banyak penyakit berbahaya, termasuk polio. Di Indonesia sendiri, masyarakat menghadapi masalah dengan sungai yang tercemar.

Pencemaran sungai sendiri memang bukan hal yang baru, Andreas Agus Kristanto, peneliti Ecoton pernah mengungkapkan, berdasarkan pendataan yang dilakukannya 2009 silam, ada sekitar sejuta popok yang dibuang ke sungai Brantas dari hulu di Malang hingga hilir di Surabaya dan sekitarnya.

Tema pentingnya kesadaran untuk memanfaatkan dan mengelola air menjadi tema sentral dalam peringatan Hari Air Sedunia tahun 2023. Mengusung tema “Accelerating Change”, peringatan yang jatuh pada hari ini mengajak semua orang mengubah perilaku mereka menjadi lebih baik dalam menggunakan dan mengelola air, termasuk merawat badan air.

Kerusakan sungai yang masif di Indonesia, memang berpangkal dari dari cara masyarakat, dan industri memanfaatkan dan mengelola sungai. Kebiasaan membuang sampah atau limbah ke sungai pada akhirnya memang merugikan masyarakat sendiri. Pesan serupa disampaikan Loïc Fauchon, President of the World Water Council, ketika menutup kick-off World Water Forum di Jakarta, Kamis (16/02/2023), ia mengajak semua peserta, untuk berhenti mengabaikan air karena ketersediaan air adalah jaminan masa depan.

“Kita semua sekarang berjalan bersama sebagai tim, bergandengan tangan, dan menunjukkan pada dunia bahwa sejak pertemuan ini kita  BERHENTI MENGABAIKAN AIR dan kita telah memutuskan demi masa depan kemanusiaan kita harus berbagi air untuk berbagi kesejahteraan.”

Memang diperlukan kesadaran, peran, dan partisipasi semua pihak untuk merawat dan menjaga sungai dengan baik. Tanpa itu, aliran air yang seharusnya menjadi penopang hidup masyarakat berbalik menjadi ancaman bagi kehidupan.

Selamat merayakan Hari Air Sedunia.

banner