× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Pemberdayaan Perempuan dalam Dunia Kerja dan Usaha Dinilai Masih Minim

By Redaksi
Ilustrasi Permberdayaan Perempuan. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Keterlibatan/partisipasi perempuan di dunia kerja dan bisnis dinilai masih belum maksimal. Budaya patrilineal yang berlaku di masyarakat turut menyumbang minimnya peran perempuan di dunia kerja dan bisnis. Alhasil, kondisi ini berpengaruh terhadap kesejahteraan sosial masyarakat. Padahal dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable development Goal’s) nomor 5 menyinggung soal gender equality atau kesetaraan gender.

Menurut studi International Labor Organization (ILO) 2017, partisipasi kerja perempuan hanya 47,8% dari total populasi.  

Menurut Chrysanti Hasibuan Sediyono, Board of Management Indonesia Business Links, kondisi tersebut salah satunya disebabkan budaya patriarki yang masih berlaku (di sebagia warga dunia).

“Hal ini pada umumnya berlaku di Asia, di mana anak laki-laki dalam keluarga selalu mendapat prioritas, seperti akses pendidikan. Anak laki-laki biasanya disekolahkah ke lembaga pendidikan terbaik, sementara anak perempuan yang biasa saja,” kritik Chrysanti.

Kritikan itu disampaikannya dalam ajang webinar, diskusi online “Pemberdayaan Perempuan dan Penguatan Integritas Bisnis : Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Dunia Usaha pasca COVID-19” yang dihelat Indonesia Business Links, beberapa waktu lalu.

Jika kesetaraan gender dikedepankan, Chrysanti melanjutkan, perusahaan yang memasukkan perempuan menjadi bagian dari jajaran direksi, biasanya memiliki profit yang di atas rata-rata.

Sementara itu, Irianto Almuna dari UN Women, mengungkapkan, adanya pengaruh yang signifikan terkait masa pandemi dan perempuan di dunia kerja dan sektor bisnis.  “Perempuan juga mengalami ancaman oleh virus (corona) ini. Salah satunya pengurangan jumlah tenaga kerja di berbagai belahan dunia yang juga salah satunya perempuan,” ujar  pria yang akrab disapa Anto ini.

Anto menambahkan, data dari Kementerian Pemberdayaan Anak dan Perempuan, menyebut tingkat partisipasi perempuan Indonesia di dunia kerja belum mencapai 55% dari total jumlah usia angkatan kerja perempuan.

Kebijakan kantor yang menerapkan work from home turut berpengaruh pada perempuan. Rumah yang merupakan ranah yang aman, tak melulu seperti itu bagi perempuan. Kerja work from home menjadikan perempuan juga melakukan tugas ganda sebagai pengemban tanggung jawab domestik. Hal ini terjadi karena beban domestik lebih diserahkan pada perempuan.

Situasi bisa memburuk ketika pasangan adalah pelaku kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga, bekerja dari rumah menjadi kontra produktif bahkan tak lagi aman.

“Work form home adalah challenging bagi sebagian perempuan, terutama dari sisi produktivitas karena beban domestik, dan ancaman kekerasan bagi perempuan,” ungkap Anto. Di sisi lain, akses terhadap layanan konseling dan hukum menjadi terhenti karena aturan sosial di saat pandemi.

“Dari kacamata gender juga kala recovery business nanti, pertimbangan gender diharapkan menjadi salah satu prinsip yang terintegrasi,”cetusnya. Hal ini turut membantu akses dari partisipasi perempuan yang lebih besar saat masa pemulihan sosial nanti.

Di sisi lain, Erna Witoelar, Founder Partnership-ID National consultant UN Women, menjelaskan soal prinsip kesetaraan yang disebut Women Empowerment Principle (WEPs).

“Women Empowerment Principles adalah prinsip-prinsip yang ditujukan kepada dunia usaha dan atau tempat kerja tentang pemberdayaan perempuan baik di lingkungan kerja, tempat usaha, maupun komunitas,” terang Erna. Terdapat 7 prinsip, namun menurut Erna ketujuh prinsip tersebut bukanlah hal baru. Ketujuh prinsip ini mencakup leadership (kepemimpinan), equality (kesetaraan), safety (keamanan), learning (pembelajaran), transperancy (keterbukaan), community (komunitas), dan market (pasar).

“Perlu dipahami ketujuh prinsip ini janganlah dilihat satu per satu. Ketujuh prinsip ini saling mendukung dan saling terkait, sehingga perlu dilakukan dengan pendekatan holistik,”katanya mengingatkan. WEPs, lanjut Erna sama halnya dengan SDGs merupakan kesepakatan global. Penerapan SDGs , menurut perempuan kelahiran 6 Februari 1947 ini, terbukti memberikan dampak positif bagi pihak mana pun yang melakukannya. WEPs bisa diterapkan melalui program-program perusahaan yang sudah diterapkan, ataupun kemitraan dengan pihak lain.

“Masih sangat sedikit perusahaan di Indonesia yang menandatangani komitmen WEPs,” ungkap Erna prihatin. Padahal dengan penerapan WEPs dari beberapa studi yang dilakukan, terbukti bisa berdampak positif bagi kemajuan perusahaan termasuk didalamnya lingkungan kerja.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]