× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Pembangunan Rumah Layak Berbasis Komunitas di Tengah Pandemi Berdampak Ekonomi

By Redaksi
Ilustrasi Bedah Rumah Warga. Foto : Dok. Kementerian PUPR.

MajalahCSR.id – Rumah haruslah sesuai dengan standar layak huni. Apalagi di saat pandemi yang belum sepenuhnya teratasi, rumah adalah vaksin sementara sebelum vaksin utama dinyatakan lolos uji. Namun harus diingat, rumah dimaksud yang layak huni karena sudah memenuhi standar ketersediaan air bersih, sanitasi, dan ventilasi udara.   

Tidak semua masyarakat mampu membangun rumah yang layak. Terutama bagi masyarakat yang masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Untuk sekedar punya tempat beristirahat dan terlindungi dari panas dan hujan, bagi mereka sudah cukup. Oleh karena itu pembangunan perumahan yang layak bagi masyarakat perlu terus dilakukan. Hal ini juga sejalan dengan program Presiden Joko Widodo yang salah satu kebijakannya akan membangun satu juta rumah layak.

Membangun perumahan juga akan menimbulkan “multiplier effect” atau dampak domino bagi pertumbuhan ekonomi. Selain menghasilkan program padat karya, kebutuhan bahan, proses pembangunan rumah, hingga setelah menjadi permukiman seluruhnya mendatangkan dampak ekonomi. Apalagi jika prosesnya mengandalkan sumberdaya lokal. Bahan bangunan sampai tenaga kerja lokal yang dilibatkan dalam proses, turut mengerek pertumbuhan ekonomi secara makro maupun mikro.

Hal lainnya, pembangunan perumahan yang berbasis komunitas adalah keniscayaan di Indonesia karena dinilai lebih sustain (berkelanjutan). Hal ini mencuat dari Webinar “Pembangunan Rumah Berbasis Komunitas Sebagai Pemicu Ekonomi di Saat Pandemi COVID-19” yang diselenggarakan Habitat for Humanity dan Filantropi Indonesia, Rabu (18/11/2020).  

Menurut Dhony Rahajoe, Managing Director President Office, Sinar Mas Land, pembangunan perumahan akan mendorong 175 industri ikutan dan 350 jenis usaha terkait. Industri tersebut adalah industri baja, semen, cat, tambang rakyat, dan industri kecil lain. Sementara jenis usaha yang terlibat mulai dari industri mebel, industri alat rumah tangga, pariwisata, pertanian, kuliner dan lain-lain.

“Total seluruh pekerja yang ada di industri perumahan dan properti baik secara langsung dan tidak langsung melalui 175 industri ikutannya sebanyak 30.343.934 orang,” ungkap Dhony dalam paparannya. Data tersebut merujuk pada hasil kajian bersama Kadin, Apindo, dan REI.

Pemerintah Canangkan Program BSPS

Pembangunan perumahan berbasis komunitas pun sudah menjadi program pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dalam kaitan ini, pemerintah sudah mencanangkan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

“Definisi dari program BSPS ini adalah rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat,” ujar Mitha Hasti Suryani, Kasubdit Keterpaduan Penyelenggaraan Perumahan, Direktorat Jenderal Kementerian PUPR. Regulasinya tertuang dalam Permen PUPR Nomor 7/PRT/M/2018 tentang Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.

Jenis bantuan yang diberikan berupa uang dan bahan bangunan dengan skema peningkatan kualitas rumah tidak layak huni. Jenis yang kedua adalah pembangunan baru rumah tidak layak huni melalui pemberdayaan masyarakat.

Adapun penerima bantuan adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang punya rumah sendiri tapi tidak layak huni dan yang belum punya rumah tapi memiliki tanah resmi sendiri. Bantuan ini nantinya akan melibatkan penerima bantuan dalam proses penentuan bentuk rehab yang akan dilaksanakan, perhitungan biaya, dan peolaksanaan rehab.

“Proses pelaksanaannya tidak melibakan kontraktor, melainkan dilaksanakan oleh penerima bantuan sehingga berupa padat karya,” jelas Mitha. Selain itu penerima bantuan pun akan didampingi oleh Fasilitator. Bantuan tersebut akan digunakan untuk pembelian material bangunan dan ongkos tukang. Program ini menurut Mitha sebagai upaya penanganan permukiman kumuh perkotaan.

Lantas apa syaratnya untuk penerima bantuan BSPS? Syaratnya lanjut Mitha ada 6, yaitu WNI yang sudah berkeluarga, memiliki atau menguasai tanah dengan alasan hak yang sah, belum memiliki rumah atau memiliki dan menempati rumah satu-satunya dengan kondisi tidak layak huni, belum pernah menerima bantuan BSPS atau bantuan pemerintah  untuk program perumahan, penghasilan lebih kecil atau sama dengan Upah Minimum Provinsi (UMP), serta berswadaya dan membentuk kelompok penerima bantuan (KPB). Pemerintah hingga sekarang memberikan bantuan maksimal senilai Rp 17,5 juta dan rencananya akan dinaikkan menjadi Rp 20 juta.

Rumah kumuh memperparah penyebaran COVID-19

Sementara itu, menurut James Kendall, Appropriate Construction Technology Senior Specialist. Habitat for Humanity, Masyarakat yang tinggal di rumah dengan kondisi yang buruk, jorok, tidak sehat, ditambah jumlah jiwa dalam keluarga yang banyak/penuh sesak, memiliki risiko penularan COVID-19 dan juga kematian yang lebih tinggi. Hal ini juga disebabkan sanitasi yang buruk.

“Pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah seringkali tidak terukur/terdata. Di Indonesia ini diperkirakan bernilai setidaknya 36,2 M USD,” cetus James.

Dalam kaitan ini, James merekomendasikan 3 hal, yaitu:

  • Pemerintah lebih melibatkan Lembaga/Yayasan/Forum yang fokus pada sektor Pemukiman dan Perkotaan untuk Program Pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah
  • Sektor Swasta, Developer mendukung program Pembangunan rumah berbasis masyarakat dan pelokalan bagi MBR yang tidak memiliki akses ke Bank, dan
  • Pemerintah perlu memberikan perhatian atau sumber daya lebih untuk perumahan swadaya, pendampingan masyarakat/tukang agar bisa memahami standard kualitas bangunan, struktur, dan metode Pembangunan karena kontribusi selfhelp ke jumlah rumah sangat besar.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]