× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Peluncuran GRI Standards 2018: Membaca Arah Akuntabilitas Masa Depan

By Semerdanta Pusaka

Pada tanggal 8 Juni 2017 yang lalu, Global Reporting Initiative (GRI) meluncurkan GRI Standards di Indonesia. Bertempat di Hotel Mulia, Jakarta, GRI menghadirkan para pembicara dalam dua sesi acara utama yang dihadiri oleh berbagai stakeholder yang berkepentingan terhadap laporan keberlanjutan, seperti akademisi, korporasi, asosiasi, dan konsultan.

Pada sesi pertama, para pembicara terdiri dari Bob Eko Kurniawan sebagai Country Program Manager GRI di Indonesia, Paul Westin sebagai Counselor for Energy Kedutaan Swedia di Indonesia, dan Asthildur Hjaltadottir sebagai Director of Services GRI yang berpusat di Belanda. Sesi pertama fokus pada penjelasan mengenai GRI Standards dan tren praktik laporan keberlanjutan secara global.

Sesi kedua menghadirkan narasumber yang seluruhnya perempuan Indonesia, yaitu Sinta Kurniawati sebagai General Manager Yayasan Unilever Indonesia, Juniati Gunawan sebagai Direktur Trisakti Sustainability Centre (TSC) Universitas Trisakti, dan Rahajeng Pratiwi yang mewakili International Finance Corporation (IFC). Acara dipandu oleh Josephine Satyono sebagai Executive Director dari Indonesia Global Compact Network (IGCN). Pada sesi kedua, masing-masing narasumber memberikan pandangan mengenai pentingnya laporan keberlanjutan dan praktiknya di Indonesia.

Tulisan ini akan membahas GRI Standards secara umum dan memberikan pandangan tentang arah akuntabilitas di masa depan, khususnya di Indonesia. Dengan demikian, korporasi diharapkan dapat mempersiapkan diri dan mengambil kebijakan yang tepat terkait akuntabilitas organisasi dan pelaporan perusahaan.

 

Perjalanan Panduan Laporan Keberlanjutan GRI

Perjalanan panjang panduan laporan keberlanjutan (sustainability reporting guidelines) yang dimotori GRI berawal dari tahun 1997. Saat itu GRI baru dibentuk di Boston, Amerika Serikat, oleh United Nations Environment Programme (UNEP), Coalition for Environmentally Responsible Economies (CERES), dan Tellus Institute. Setelah dibentuk, GRI melahirkan panduan laporan keberlanjutan untuk pertama kalinya pada tahun 2000.

GRI kemudian melakukan revisi terhadap panduan laporan keberlanjutan dalam kurun waktu tertentu dan pada umumnya menggunakan penamaan atau pengkodean yang spesifik. GRI G2 atau versi 2 diterbitkan pada tahun 2002. Kemudian GRI G3, GRI G3.1, GRI G4 diluncurkan berurutan pada tahun 2006, 2011, dan 2013.

Di antara perubahan berbagai versi GRI, transformasi GRI G3.1 ke GRI G4 memiliki perubahan yang cukup signifikan dalam hal penyusunan laporan keberlanjutan. Panduan GRI versi G3.1 dan versi yang sebelumnya masih mengusung konsep “application level”. Skema ini membagi laporan ke dalam tiga level, yaitu A, B, dan C sesuai kriteria tertentu dan berdasarkan jumlah indikator yang diungkapkan. Pengungkapan indikator pada level C relatif yang paling sedikit dan level A relatif yang terbanyak sesuai konteks perusahaan masing-masing.

Pada panduan GRI G4, “application level” ditiadakan karena perusahaan berlomba-lomba “melaporkan indikator sebanyak mungkin” pada laporan keberlanjutannya agar mencapai level A. Perusahaan dan para penyusun laporan keberlanjutan saat itu banyak yang memiliki persepsi bahwa semakin banyak melaporkan indikator akan semakin baik. Padahal, laporan keberlanjutan idealnya fokus pada isu-isu yang relevan dan material terhadap konteks keberlanjutan ekonomi, sosial, lingkungan perusahaan, dan para pemangku kepentingan sekitarnya.

Pada tahun 2015, GRI membentuk Global Sustainability Standard Board (GRI GSSB) yang secara spesifik bertugas menangani pengembangan standar laporan keberlanjutan. Menjelang kuartal keempat tahun 2016, GRI GSSB mulai memperkenalkan GRI Standards yang kemudian diluncurkan di Indonesia pada tahun 2017. GRI Standards akan mulai efektif berlaku pada tanggal 1 Juli 2018.

 

Dari GRI G4 Menuju GRI Standards: Fleksibel dan Dinamis

Penggunaan GRI Standards mungkin tidak akan berdampak signifikan bagi perusahaan yang telah membuat laporan keberlanjutan berbasiskan GRI G4. Secara umum, isi keduanya tidak jauh berbeda. Hanya ada 2 indikator spesifik yang “discontinued” dan total 42 yang direvisi.  Selebihnya mengalami perubahan minor atau perubahan klasifikasi indikator.

Baik GRI G4 maupun GRI Standards juga memiliki penekanan yang sama. Keduanya sama-sama memperhatikan isu kesetaraan gender dan keterlibatan value chain dalam setiap aspek keberlanjutan. Prinsip-prinsip laporan keberlanjutan juga masih sama. Materiality dan boundary masih menjadi landasan dalam menentukan isi laporan.

Kemudian, GRI G4 dan GRI Standards juga tetap mendorong proses assurance oleh pihak independen atas laporan keberlanjutan yang diterbitkan. Pilihan core dan comprehensive dalam menyusun laporan juga masih berlaku. Lalu, apa yang membedakan?

GRI Standards mengusung perubahan signifikan dalam hal struktur dokumen dan penggunaan bahasa. Pertama, GRI Standards menggunakan skema dokumen modular dengan total 36 modul. Dengan demikian, setiap modul dapat ditambah, dikurangi atau diubah kapan saja sesuai dengan dinamika aspek keberlanjutan.

Misalnya, jika GRI ingin menambah indikator pada topik energi, maka GRI akan menerbitkan GRI 302-6, GRI 302-7 dan seterusnya, melanjutkan GRI 302-5 yang saat ini sudah ada. Penambahan tersebut dapat dilakukan kapan saja. Ini berbeda dengan versi panduan GRI sebelumnya yang memerlukan revisi secara periodik dengan menerbitkan versi terbaru secara keseluruhan, misalnya GRI G4.1 atau GRI G5.

Hal ini juga yang menjadi alasan penyebutan “GRI Standards”, bukan “GRI Standard” (dalam Bahasa Inggris, “standards” berarti “standard dalam bentuk jamak” atau lebih dari satu). Artinya, setiap modul-modul panduan laporan keberlanjutan dapat diakui sebagai unit-unit modul tersendiri meski saling terkait satu sama lain.

Yang kedua, GRI Standards mengubah penggunaan kata dan gaya bahasa agar lebih mudah dimengerti oleh para pemangku kepentingan. Misalnya, menggunakan kata “disclosure” daripada “indicator”, menggunakan kata “topic” daripada  “aspect”, dan menggunakan kata “management approach disclosure” untuk menggantikan istilah “disclosure of management approach” atau DMA.

Selanjutnya, GRI Standards menempatkan pembahasan “management approach” pada GRI 103 bersama-sama dengan pembahasan materiality dan boundary. Pada versi sebelumnya, management approach, disebut dengan DMA, dibahas khusus dan tersebar pada berbagai indikator. Sepanjang pengalaman penulis saat melakukan assurance, banyak perusahaan merasa kesulitan memenuhi ketentuan DMA pada setiap indikator. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan pemahaman tentang management approach akan lebih mudah dan penulisannya di laporan juga menjadi tidak terlalu sulit karena terpusat pada satu bagian pengungkapan saja.

Dalam hal struktur penulisan, GRI Standards dengan jelas membedakan klausul yang harus dipenuhi (requirements) dan yang direkomendasikan (recommendations). Hal ini akan memudahkan penyusun laporan keberlanjutan untuk menentukan prioritas penulisan data dan informasi pada hal-hal “requirements” terlebih dahulu.

Keywords: , ,

Semerdanta Pusaka

Redaktur Ahli MajalahCSR.id, Tenaga Ahli dan Pengamat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]