× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Pelaku Bisnis Perlu Merangkul WASH

By Claire Quillet

Jakarta – MajalahCSR. Secara global, diperkirakan bahwa lebih dari 1,8 miliar orang kekurangan akses untuk air bersih dan lebih dari 4 miliar orang tidak memiliki akses ke sanitasi yang memadai, menempatkan mereka pada risiko penyakit (WBCSD, 2016).

Di Indonesia, menurut Air, Sanitasi & Hygiene (WASH) program monitoring yang dilakukan oleh UNICEF dan WHO (JMP, 2015), 51 juta orang Indonesia masih berlatih buang air besar terbuka termasuk di ibu kota Jakarta, 72% dari masyarakat Indonesia masih mengandalkan pada air berkualitas rendah untuk di konsumsi sebagai air minum.

Jelas ini sangat mengejutkan karena bahkan di Jakarta, tingkat sanitasi secara keseluruhan masih sangat rendah. Kematian dan penyakit yang disebabkan oleh air jelas tidak beralasan karena mereka semua dapat dicegah, jika saja orang-orang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang praktik kebersihan yang baik dan sederhana seperti mencuci tangan yang benar dengan mamakai sabun sudah dapat mengurangi risiko penyakit diare sebesar 42 menjadi 47 persen.

Sayangnya, masalah ini jarang dibicarakan secara terbuka di Indonesia, setidaknya tidak sejak saya memulai bekerja di sini 17 tahun yang lalu pada proyek-proyek pembangunan WASH. Tentu saja, karena kurangnya kesadaran tentang WASH, ada kesalahan persepsi di kalangan pengusaha yang WASH hanya berhubungan dengan perusahaan air dan infrastruktur, sehingga tidak cukup strategis untuk bisnis mereka karena tidak benar-benar mempengaruhi mereka.

Sementara sebaliknya, beberapa studi kasus menunjukkan bahwa akses ke WASH harus dilindungi – terutama sanitasi dan kebersihan – bisa menjadi masalah di negara-negara yang berpenghasilan tinggi. Apalagi di Indonesia, tercatat sebagai salah satu dari 5 negara teratas dengan kebersihan yang buruk dan sanitasi yang buruk, yang memakan biaya anggaran negara sekitar Rp 56 triliun atau 2,3% dari GDP untuk biaya pengobatan dalam mengobati penyakit bawaan air (UNICEF issue briefs, 2012).

Jadi faktanya dalam hal ini, kita semua terpengaruh. Walaupun dalam praktek status ekonomi, latar belakang pendidikan dan bahkan dalam praktek kebersihan, kesehatan kita masih berisiko ketika sanitasi dan kebersihan secara keseluruhan di negara ini benar-benar memprihatinkan.

Dunia bisnis memiliki alasan yang sangat kuat kenapa mereka harus terlibat dalam masalah air dan kebersihan. Pertama, arus urbanisasi dan peningkatan jumlah populasi menimbulkan kompetisi/persaingan untuk mendapatkan sumber air yang sifatnya terbatas.

Alhasil,kesalahan dalam mengatur penggunaan sumber mata air ini dapat menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar yang dapat juga menyebabkan kerugian pada perusahaan;seperti perusahaan produsen produk konsumen yang ditutup bisnisnya oleh pemerintah karena dianggap telah menggunakan sumber mata air dari tanah secara berlebihan.

Kedua, menerapkan WASH dapat mengurangi angka ketidakhadiran karyawan karena sakit. Ketiga,pengadaan air bersih bisa menjadi hal penting dalam pertumbuhan/peningkatan bisnis perusahaan.

Unilever menyatakan bahwa dengan menjadikan air, sanitasi, dan kebersihan sebagai sesuatu yang umum/dapat dijangkau oleh umum telah menawarkan/mendatangkan kesempatan bisnis tersendiri bagi mereka dan juga perkembangan bagi masyarakat. (The Guardian, 2015)

Dengan demikian, saya percaya bahwa dengan menerapkan WASH perusahan-perusahandapat diuntungkan secara internal maupun eksternal. Dari sisi internal, menerapkan WASH di tempat kerja dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.

Sedangkan dari sisi eksternal, perusahaan dapat mulai turut andil dalam kegiatan-kegiatan CSR yang ada di sekitaran daerah di mana bisnis mereka beroperasi seperti mengadakan pendidikan dan pelatihan mengenai kebersihan di sekolah-sekolah, mengajak masyarakat sekitar untuk menerapkan sanitasi dan pengaturan saluran air ke rumah-rumah mereka secara baik, contoh-contoh tersebut adalah beberapa program terjangkau dan dapat dilakukan oleh perusahaan bersama dengan pemerintah dan NGO.

Manfaat lainnya yangdapat dirasakan oleh perusahaan di antaranya termasuk meningkatnya brand value/nilai perusahaan, memperkecil risiko yang bersifat reputasional dan menjamin izinpengoperasian usaha, memperluas pasar, serta sebagai contoh dalam mendukung tujuan global seperti yang disebutkan dalam SDG.

Sungguh melegakan bahwa beberapa perusahaan di Indonesia sudah dapat memulai WASH – program dasar CSR. IKEA dan Indomaret memanfaatkan beberapa keuntungan mereka untuk perbaikan sanitasi di sekitar operasi bisnis mereka, mulai dari pendidikan kesehatan termasuk penyediaan tempat cuci tangan di sekolah-sekolah untuk perbaikan sanitasi di masyarakat.

Jika lebih banyak perusahaan mengikuti langkah dan meningkatkan kesadaran tentang WASH, Bisnis mereka akan terus berkelanjutan dan secara bersamaan mendukung agenda pemerintah Indonesia untuk mencapai akses air minum yang aman dan sanitasi pada tahun 2019.

Akhirnya, bisnis Anda juga dapat menjadi bagian dari gerakan WASH secara global. Dengan menandatangani ikrar WASH, bagian dari kerangka Action 2020 dipimpin oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), Anda akan mempelajari praktek terbaik di WASH dan Anda bahkan dapat menunjukkan dan menyampaikan bahwa perusahaan anda sebagai pemimpin yang baik di dalam WASH.

Mari kita buat WASH sebagai tanggung jawab kita. Untuk menjadikan Indonesia yang baik dan sehat.

 

Claire Quillet (claire.quillet@tsb.co.id )

 

Keywords: , , ,

Claire Quillet

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]