banner
Berita

Pekerja H&M dan Gap Disinyalir Selalu Alami Kekerasan

1098 views

Jakarta – Majalahcsr. Sustainability yang menyangkut supply chain memang sulit untuk diterapkan. Butuh komitmen kuat dan pengawasan dari masing-masing pihak.

Tengok saja laporan dari aliansi LSM buruh dan HAM dalam laporannya yang dipublikasikan 28 Mei lalu. Laporan tersebut disusun berdasarkan hasil riset lapangan beberapa LSM seperti Asia Floor Wage Alliance (AFWA), CENTRAL Cambodia, Global Labor Justice, Sedane Labour Resource Centre (LIPS) Indonesia, dan Society for Labour and Development (SLD) India.

Dalam laporannya, seperti yang dilansir oleh Tirto.id, mereka menyatakan pekerja garmen perempuan di pabrik dua jenama fesyen ternama, Gap dan H&M, cabang Asia kerap mengalami kekerasan seksual dan fisik akibat tuntutan target perusahaan. Tindak kekerasan ini meliputi pelecehan verbal, ancaman, sampai pemaksaan lembur. Kekerasan tak sebatas terjadi di lokasi kerja, tetapi juga di luar pabrik.

Global Labor Justice menegaskan ada faktor sistematis yang membuat pekerja perempuan seringkali jadi sasaran aksi kekerasan dalam mata rantai industri garmen. Faktor itu antara lain kontrak jangka pendek, target produksi dan jam kerja yang berlebih, pemenuhan upah yang minim, sampai ketidakamanan tempat kerja.

Lebih dari 540 pekerja di pabrik pemasok dua jenama tersebut menggambarkan pengalaman buruknya. Kejadian rata-rata terjadi selama Januari dan Mei 2018 di Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, dan Sri Lanka.

“[Ia berkata] kamu pelacur. Orang-orang di kastamu memang cocoknya disimpan di tempat sandal!” aku pekerja di Bangalore menceritakan ulang kekerasan verbal yang ia terima. Sebelum kalimat itu meluncur, ia terlebih dulu “dicengkeram rambutnya dan dipukul.”

Lalu, di pabrik pemasok H&M di Sri Lanka, pekerja perempuan berkata bahwa para pengawas tak ragu memarahi mereka apabila target kerja tidak terpenuhi. Sementara di Indonesia, pekerja garmen di pabrik pemasok Gap menyebut dirinya seringkali “disebut bodoh, diejek karena tidak bekerja lebih cepat, serta diancam pemutusan kontrak.”

Direktur CENTRAL Cambodia, Tola Moeun, yang juga aktif dalam penelitian ini mengungkapkan pelecehan merupakan kenyataan sehari-hari yang harus diterima pekerja garmen perempuan. Kekerasan tersebut, catat Moeun, adalah “produk tuntutan pemenuhan target yang tidak realistis dalam rantai pasok H&M dan Gap.”

Menanggapi laporan tersebut, Gap dan H&M menyatakan prihatin dan berkomitmen akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu. Keduanya menegaskan segala tindak kekerasan yang dialami pekerjanya bertentangan dengan semangat perusahaan.

banner