× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

PBB Rancang Program Keragaman Hayati Tangkal Perubahan Iklim

By Redaksi
Ilustrasi Keanekaragaman Hayati. Grafis : unpri.org

MajalahCSR.id – Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Keragaman Hayati (U.N. CBD) merencanakan upaya pengembalian kerusakkan ekologis untuk menghentikan laju kepunahan sekaligus mengampanyekan manusia hidup berdampingan dan alam. Rencana ini juga demi melindungi sekurang-kurangnya 30% lautan dan daratan unutk mencapai mitigasi krisis iklim secara signifikan pada 2030.

Mengutip The Guardian, rancangan program sudah muncul usai pembahasan rencana biaya dan ilmuwan yang terlibat pada Mei dan Juni kemarin. Rancangan termasuk pembahasan terapan sains, implikasi finansial dan rencana konservasi alam. Namun, rancangan ini masih menjadi subyek pengawasan oleh pemerintah sejumlah negara dan para penentu kebijakan sebelum dibawa ke pertemuan tingkat tinggi PBB di Kunming, China. Pertemuan ini bahkan sudah 2 kali ditunda mengingat kondisi pandemi COVID-19 sebelum dipastikan digelar pada awal 2022.

Selain target 2030, PBB juga berupaya mengurangi tingkat kepunahan keragaman hayati hingga 90%. Salah satu program kerjanya adalah meningkatkan integritas ekosistem dan menyediakan sumber finansial untuk mencapai visi yang telah dicanangkan. Menurut informasi dari PBB program ini bakal melibatkan dana sebesar USD500 miliar atau lebih dari Rp 7 ribu triliun.

Basile van Havre, Wakil Pimpinan kelompok kerja CBD yang merancang perjanjian, menyebutkan, target dari program ini mengacu pada hasil terbaru data ilmiah. Ia menambahkan, rancangan bertujuan untuk mengembalikan lahan pertanian dan lahan terpakai yang berdampak pada ekosistem kembali ke metode pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.

“Perubahan sudah datang,” ucap van Havre, “jumlah manusia akan lebih banyak pada 10 tahun mendatang dan butuh makanan. Jadi ini bukan sekedar menurunkan aktivitas. Ini soal meningkatkan output sambil memberikan yang terbaik bagi alam.”

Salah satu target adalah menghentikan pemakaian pestisida yang membahayakan, dan mengurangi dampak buruk zat kimia terhadap ekosistem. “Mengurangi residu hingga setengah, mengurangi pestisida sampai dua pertiga dan menghilangkan pembuangan plastik, dan semua itu adalah masalah besar. Saya yakin beberapa orang akan mengernyitkan alisnya terhadap perubahan ini, terutama di sektor pertanian,” imbuh van Havre.  

Para ilmuwan sebelumnya mengingatkan, aktivitas manusia selama ini berdampak pada kepunahan sejumlah spesies, menjadikan episode keenam dari proses kepunahan dalam sejarah bumi. Namun demikian, ilmuwan pun menyebut, kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan bumi dan mengampanyekan ekosistem yang bisa mendukung keberadaan manusia dan spesies lain.   

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]