× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Orang dengan Gangguan Jiwa Juga Butuh Perhatian

By Redaksi

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat di Rumah Sakit Jiwa apalagi dokter.

Berbicara tentang disabilitas psikososial atau ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), maka tak bisa lepas dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang menempati persentase paling atas untuk jumlah ODGJ dibandingkan jumlah ODJG di wilayah lain di Indonesia.  Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan DIY pada tahun 2016, terdapat lebih dari 12.000 jiwa penduduk DIY yang adalah ODGJ. Sementara di DIY sendiri, Kota Yogyakarta berada di urutan ketiga setelah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul dengan total penderita ODGJ lebih dari 1.900 jiwa.

Theresia Titaning Ruci atau akrab disapa Tice, wanita kelahiran Ungaran, Jawa Tengah merupakan satu dari sedikit orang yang memperhatikan ODGJ. Terlahir di keluarga yang memiliki anggota keluarga yang disabilitas, membuatnya menjadi bahan olok-olok teman sepermainannya kala itu dengan panggilan “adine tekle” yang berarti “adiknya si pincang”. Peristiwa ini bermula pada 1974, saat itu daerah tempat tinggalnya terserang wabah polio. Akibatnya, beberapa dari penduduk terjangkit wabah tersebut, tak terkecuali sang kakak. Penghinaan dan ejekan di masa silam inilah yang menjadi motivasinya bekerja untuk kemanusiaan dan berupaya menghilangkan stigma dan diskriminasi.

Terbiasa berinteraksi dengan orang dengan disabilitas tidak lantas membuatnya mudah untuk berinteraksi dengan ODGJ. “Saya juga dulu mungkin takut. Namun akhirnya saya sadar mereka ada di sekitar kita.” Setelah mengikuti beberapa pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM dalam Program Peduli, Tice menjadi kader aktif. “Jadi ada yang namanya ‘PANTAU’. Itu artinya kita memantau jarak radius 5 meter dari rumah kita apakah ada ODGJ. Kalau di deretan rumah saya saja, itu ada 10 ODGJ. Jadi di Baciro memang banyak.” Tidak tersedianya data khusus ODGJ juga menjadi masalah. Program tidak dapat dirancang dan dilakukan jika jumlah data ODGJ masih belum jelas. Tidak tersedianya survei khusus serta pihak keluarga yang malu untuk mengakui dan menyembunyikan anggota keluarganya juga menjadi permasalahan tersendiri.

Tice mengikuti pelatihan pertama akupresur khusus untuk orang dengan gangguan jiwa. Setelah mendapatkan pembekalan mengenai terapi alternatif tersebut, ia makin bersemangat untuk belajar penanganan ODGJ dengan mengikuti tahap selanjutnya berupa pembentukan Kelompok Swabantu atau SelfHelp Group (SHG) sebagai wadah agar OGDJ dapat mandiri melakukan aktivitasnya sehari-hari yang kemudian dilanjutkan dengan terapi aktivitas kelompok (TAK). Dalam TAK, ODGJ, keluarga, dan kader saling berbagi.

Pengetahuan yang Tice peroleh, pada gilirannya ia gunakan untuk merangkul ODGJ di sekitar tempat tinggalnya yang berada di Kelurahan Baciro Yogyakarta. Salah satu program yang dijalankannya adalah upaya pendampingan ODGJ dan keluarganya melalui aktivitas kunjungan yang ia lakukan setiap minggu.

Selain mengunjungi ODGJ dan keluarganya, Tice juga berupaya menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri dengan melibatkan mereka dalam sejumlah acara seperti bazar dan acara-acara lain yang membahas ODGJ. Adapun program yang tak luput ia lakukan bersama kader lainnya adalah upaya advokasi terhadap ODGJ.

“Saat paling membahagiakan untuk saya adalah ketika ODGJ yang saya dampingi setelah mendapat pelatihan akupresur ternyata bisa mandiri. Orang tadinya tidak mau berinteraksi dengan ODGJ karena mereka tidak mandi, bau, dan sebagainya. Tapi mereka ternyata bisa mandiri kok. Saya bawa mereka ke berbagai acara untuk menjadi terapis pijat akupresur. Itu yang paling membahagiakan untuk saya.”

Bekerja dengan ODGJ butuh konsistensi dan tidak instan. Butuh waktu yang cukup  panjang mulai dari membuka komunikasi agar mereka nyaman. “Sebisa mungkin saya selalu menyempatkan diri menengok mereka. Itu harus terus-terusan berkesinambungan.” Melihat ODGJ dapat keluar dari rumah dan diterima masyarakat menjadi sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri untuk Tice. Hal kecil seperti keikutsertaan ODGJ binaannya dalam lomba 17an dan rajin beribadah menjadi penyemangat dan mendorongnya untuk terus berupaya dan memupuk harapan untuk ODGJ.

Selama terjun membantu ODGJ telah banyak manis getir pengalaman yang ia telan. Beberapa di antaranya berupa momen membahagiakan yakni ODGJ binaannya kembali sembuh dan diterima dengan baik oleh masyarakat tempatnya berada. Pengalaman lain yang juga membuatnya bahagia adalah saat ia berhasil meloloskan binaannya untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi sesuai kebutuhannya saat ditangkap aparat Satpol PP Oktober lalu.

Tice juga memiliki mimpi kelak suatu saat nanti diskirimasi terhadap ODGJ benar-benar terhapuskan. “Siapa saja bisa jadi ODGJ. Kita yang sehat, putus cinta, bisa jadi ODGJ. Kita terkena sakit yang lama dan berkelanjutan, tekanan ekonomi, angan-angan yang tidak kesampaian juga bisa menjadi ODGJ.” Ia berharap usahanya ini sedikit banyak mampu menyadarkan masyarakat yang menganggap ODGJ adalah kelompok yang berbahaya dan mengancam. “Sesungguhnya mereka itu sama, mereka adalah kita, kita adalah mereka,” katanya.

Sosok Tice merupakan potret dari sedikit manusia hebat yang tak hanya urun angan akan tetapi berani urun tangan melakukan kerja-kerja luar biasa bagi kemanusiaan dan inklusi sosial. Inspirasi semangat dan sikap welas asih kepada penderita ODGJ merupakan potret yang perlu ditiru dan menjadi teladan.

 

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]