× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

OJK : Inklusi Keuangan Melalui Servis Layanan Digital

By Redaksi
Dok. mediaindonesia.com

Jakarta – Majalahcsr. Banyaknya perusahaan start up dengan berbasis financial technology (Fintech) menjadikan masyarakat Indonesia pun terbawa untuk ikut menggunakan layanan fintech. Namun tidak bisa begitu saja masyarakat dibiarkan menggunakan layanan fintech tanpa diberikan pengetahuan.

Seperti layaknya seseorang yang mempunyai sepeda motor, tidak bisa begitu saja mengendarainya. Perlu adanya pengetahuan mengenai rambu lalu lintas, hingga cara menggunakan sepeda motor yang baik dan benar.

Horas Tarihoran, Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan, survey nasional literasi dan inklusi keuangan yang diadakan OJK pada tahun 2016 indeks literasi keuangan mencapai 29,7%. Sedangkan indeks inklusi keungan indeksnya mencapai 67,8%.

Survey ini dilakukan kepada 9.500 orang dari umur diatas 15 tahun di 24 propinsi. Isi surveynya adalah mengenai akses terhadap 6 industri keuangan, yaitu perbankan, pasar modal, asuransi, institusi keuangan, dana pension serta pegadaian.

Berdasarkan survey tersebut, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meluncurkan strategi nasional keuangan inklusi. Targetnya, pemerintah ingin pencapaian inklusi keuangan naik dari 35% menjadi 75% pada tahun 2019.

Sasarannya adalah meningkatkan akses masyarakat dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap layanan jasa keuangan formal dalam kerangka pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. OJK pun akan melakukan beberapa aksi edukasi keuangan antara lain Gerakan Nasional Pencatatan Transaksi Keuangan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Usaha Mikro dan Kecil (UMK) mengenai pencatatan administrasi dan transaksi keuangan yang baik dan Program pelatihan dalam rangka peningkatan kapasitas UMKM.

Layanan keuangan berbasis digital merupakan instrument yang penting untuk mempercepat peningkatan inklusi keuangan. Namun perlu didahului dengan literasi keuangan serta penerapan perlindungan konsumen.

Misalnya membangun kesadaran serta literasi keuangan masyarakat mengenai layanan berbasis digital. Membentuk perilaku konsumen untuk menabung untuk masa depan, dan menciptakan iklim industri jasa keuangan yang kompetitif dengan kebijakan yang mendukung.

Digital berarti meninjau resiko yang muncul dan menciptakan produk baru, dan Fintech serta Digital Financial Service (DFS) merupakan saluran distribusi bagi produk tersebut. Untuk itu OJK perlu mendorong Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk memonitor dan berpartisipasi dalam fintech, sekaligus memahami siklus bisnis perusahaan start up di bidang fintech.

LJK juga perlu mengkaji ulang kebijakan resiko untuk memenuhi kebutuhan dan memanfaatkan data digital sebagai input dalam menilai resiko. Tidak hanya itu, LJK juga perlu menciptakan produk berbasis digital, khususnya produk mikro.

LJK juga didorong oleh OJK untuk memperkenalkan layanan keuangan berbasis digital dalam berbagai kegiatan edukasi keuangan.

Dengan demikian, akan tercipta perlindungan konsumen yang lebih baik dan transparan dibandingkan system konvensional, sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan

 

Kenapa Digital?

Perkembangan fintech dimulai sejak tahun 2010 dengan jumlah perusahaan sebanyak 338. Kemudian pada tahun 2015 sudah bertumbuh 3 kali lipat lebih.

Konsumen pun mulai berubah ke arah digital. Pada tahun 2014, 92% konsumen di negara maju Asia menggunakan digital banking. Sedangkan 61% konsumen telah mengakses perbankan dari smartphone.

“Di Indonesia sendiri, penggunaan fintech adalah perusahaan start up. Beberapa diantaranya ada platform dimana kita bisa menjadi investor ataupun lending,” ujar Horas selasa (16/5).

Sebagian besar Fintech di Indonesia bukanlah terobosan baru bagi LJK, dan merupakan pelengkap saluran distribusi. Sebagian besar lembaga merupakan perusahaan baru dan baru beroperasi selama sekitar12 bulan.

Di Asia, jumlah konsumen digital banking potensial meningkat hingga 1,7 milyar pada tahun 2020. India naik dari 100 konsumen pada 2012 menjadi 450 konsumen pada 2020, Jepang naik dari 170 konsumen pada 2012 menjadi 200 konsumen pada 2020.

ASEAN naik dari 60 konsumen pada 2012 menjadi 150 pengguna pada 2020. Asia naik dari 670 konsumen menjadi 1700 konsumen pada 2020. Cina naik dari 380 konsumen pada 2020 menjadi 900 konsumen pada 2020.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]