× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Niracle Berbagi Kebaikan Atasi Limbah Kain dengan Ekonomi Sirkular

By Redaksi
Akbar Ghifari, Ketua Niracle. Foto : MajalahCSR.id

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus.

Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir adalah nama organisasi nirlaba yang mencoba menggerakkan masyarakat di Desa Padasuka, Soreang, Kabupaten Bandung untuk memanfaatkan limbah kain di lingkungannya.

Niracle bukanlah kumpulan mahasiswa untuk kongkow atau berdiskusi di tataran wacana. Mereka sudah turun ke lapangan dan memberdayakan. Kegiatan Niracle ini bahkan sudah disupport oleh perusahaan konglomerasi asal Thailand, Siam Cement Group (SCG). Pagi itu, Senin (2/3/2020) di kawasan sebuah kafe di Bandung, di tengah kesibukannya menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS), Abay menginformasikan soal apa itu Niracle kepada MajalahCSR.id.

“Niracle dibentuk pada April 2019,” kata laki-laki kelahiran 21 Februari 1998 ini. Niracle ternyata merupakan gabungan 2 kata yaitu Nirwata dari bahasa Sansakerta yang artinya kebaikan, serta Circle yang artinya lingkaran. “Jadi maknanya kebaikan yang dilakukan terus menerus,” ujar Abay.

Awal mulanya Niracle berkiprah dari beasiswa yang ditawarkan perusahaan SCG. Abay mendapat penawaran beasiswa kedua dari SCG setelah sebelumnya ia juga pernah mendapatkannya di bangku sekolah menengah. Bersama temannya ia pun kembali mendaftarkan diri.

“Ada sekitar 120 orang mahasiswa dari seluruh Indonesia yang sampai tahap interview. Dari beberapa proses penyaringan, akhirnya terpilih 10 mahasiswa dari seluruh Indonesia yang mendapatkan beasiswa,” papar Abay.

Sepuluh orang penerima beasiswa termasuk Abay, akhirnya mengikuti serangkaian program SCG, mulai dari seminar, training camp, hingga akhirnya diundang untuk presentasi program proyek sosial di acara ASEAN Camp, Bangkok, Thailand. Karena ingin programnya sustain, akhirnya dibentuklah tim yang merupakan gabungan dari para penerima beasiswa, yaitu Niracle.

“Niracle adalah tim independen dan SCG hanya sebatas memberikan support secara finansial dan juga pelatihan,” ungkapnya. Bila Niracle punya program sosial yang akan dilakukan, Abay dan rekan-rekannya akan mengirim proposal ke SCG.

Awalnya setelah melakukan berbagai diskusi internal, ada pilihan 2 ide besar yang akan diajukan, yaitu ampas organik kopi yang akan diolah, dan satunya sampah tekstil, lanjut Abay. Namun, setelah ditimbang, akhirnya sampah tekstil yang dipilih karena menjadi salah satu isu besar d Bandung.  

Mulai Memberdayakan Warga

Sampah tekstil diplih karena ada pertimbangan lain. Yaitu salah satu rekan Abay pernah kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Padasuka, Soreang, yang lebih kurang 70% warganya berprofesi sebagai penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di bidang konveksi. Sehingga, rekannya tersebut lumayan hapal dengan seluk beluk kondisi di sana.

Mei 2019, Niracle berkunjung ke Desa Padasuka. Ternyata di lapangan permasalahan soal limbah sisa konveksi sangat mengemuka. Kegiatan konveksi di sana per harinya bisa menghasilkan 2,2 ton limbah kain. Jumlah limbah yang demikian massif itu membuat warga kebingungan untuk membuangnya. Jalan satu-satunya yang mereka lakukan untuk mengurangi tumpukan sampah, dengan cara dibakar.

“Biasanya jam 4 pagi warga membakar limbah, agar tidak ketahuan yang lain juga,” beber Abay. Jarak tempat pembakaran ke perumahan penduduk, ditaksir Abay sekitar 100 meter. Namun tetap saja asap yang ditimbulkan terasa pekat di kawasan tempat tinggal warga.

Kabut yang muncul di pagi bahkan tak lagi putih, melainkan lebih pekat karena sudah terpapar polusi asap pembakaran. Udara yang sudah tak menyehatkan tersebut mendorong Abay dan rekan-rekannya di Niracle untuk memberikan solusi. Menggandeng karang taruna setempat, Niracle mulai menginisiasi pengolahan limbah kain sehingga bisa kembali dimanfaatkan. Tapi yangpaling menarik, limbah tersebut bernilai ekonomi.

Melalui karang taruna setempat, Niracle mulai memberikan pelatihan membuat aneka produk yang berbahan dasar limbah kain (kain perca). Bunga dari kain, purse atau dompet kecil, pouch, hingga totte bag, adalah produk-produk yang coba dihasilkan oleh warga yang bergabung di sana. Selain mendapat sokongan dana, SCG pun memberikan workshop soal marketing.

Abay melanjutkan, sebenarnya warga  tak kesulitan untuk diajari soal menjahit produk, karena sudah menjadi keseharian kegiatan mereka. Yang perlu diarahkan adalah soal penggabungan warna corak dan desain tas ataupun dompet. Sehingga produk yang dihasilkan bisa match dengan keinginan pasar.

Agustus 2019, Niracle memberikan pemaparan programnya di Thailand dan mendapat perhatian khusus dari konsulat Thailand. Konsulat ini juga mengarahkan agar Niracle ini menjadi sustain atau berkelanjutan dalam kiprahnya. Hal ini menjadikan Abay dan tim yakin dengan program ekonomi sirkularnya tersebut.

Meskipun hingga saat ini baru ada 2 RW (RW 3 dan 5) dari 14 RW Desa Padasuka yang terlibat, namun Niracle tetap yakin, suatu saat akan banyak lagi warga yang turut bergabung. Abay hanya perlu mendampingi mereka untuk bisa menghasilkan produk yang berdaya jual.

“Cukup lumayan, karena sudah ada yang mendapat pemasukan lebih dari Rp. 8 juta,” kata Abay. Yang menarik masyarakat untuk bergabung, adalah ada tidaknya pemasukan dari pengolahan limbah tersebut. Sehingga ketika terbukti ada pemasukan, warga tak lagi menyangsikan program tersebut.

Dalam kurun 3 bulan terakhir, setiap 2 minggu sekali, Abay – yang juga ketua perhimpunan mahasiswa informatika ITB – dan tim berkunjung ke Soreang untuk melihat perkembangan program mereka. Meskipun ada sejumlah kendala, seperti budaya masyarakat yang sungkan ketika ada pembagian pekerjaan, namun akhirnya bisa terselesaikan.

Selama ini yang lebih tertarik dari produk warga di sana, menurut Abay, justru pemilik bisnis. Niracle ke depannya berupaya untuk melakukan pendekatan business to business, karena selama ini konsumennya lebih ke perusahaan yang memerlukan cindera mata atau souvenir. Abay pun berharap bisa berkolaborasi dengan banyak pihak untuk mengembangkan program yang dilakukannya bersama Niracle.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]