banner
Berita

Perubahan Iklim Buat Negara Miskin Berhutang $168 Miliar?

811 views

London – Majalahcsr. Negara-negara miskin harus membayar bunga hingga $168 miliar lebih dalam tahun mendatang karena adanya cuaca ekstrim yang disebabkan oleh perubahan iklim. Menurut sebuah studi, perubahan iklim ini mempengaruhi peringkat kredit mereka.

Negara-negara yang sangat bergantung pada pertanian kemungkinan akan menderita ketika suhu global meningkat. Menurut penelitian yang ditugaskan oleh PBB, dan diterbitkan oleh Thomson Reuters Foundation dan dilansir oleh Responsiblebusiness.com (2/7), peningkatan suhu ini berakibat badai, banjir dan kekeringan yang dapat menghancurkan panen dan menurunkan produksi.

Menurut penelitian tersebut, perkebunan padi di Vietnam misalnya yang rentan terhadap naiknya permukaan laut, sementara produksi jagung Guatemala bisa terkena kekeringan dan badai tropis merupakan ancaman bagi industri pariwisata Barbados.

Salah satu penulis dalam penelitian yang Charles Donovan mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation, risiko semacam itu mendorong biaya pinjaman naik karena pemberi pinjaman membebankan biaya lebih besar.

“Investor mulai menyadari bahwa perubahan iklim merupakan penguat dari risiko-risiko ini (dan) perlu dikompensasikan,” kata Donovan, yang mengepalai pusat pendanaan iklim di Imperial College Business School di London

Penelitian ini adalah yang pertama kali untuk melihat hubungan antara pemanasan global dan profil kredit dan fokus pada anggota Forum Rentan Iklim, sebuah koalisi dari 48 negara, dari Afghanistan hingga Fiji yang paling terpengaruh oleh pemanasan global.

Ditemukan fakta bahwa selama beberapa dekade terakhir untuk setiap pembayaran bunga sebesar $10, satu dolar dialokasikan untuk pencegahan perubahan iklim. Studi itu juga menjelaskan, biaya tambahan sebesar $62 miliar, jumlah ini dapat membiayai reboisasi 20 persen dari hutan hujan Amazon, dan bisa naik ke $ 168 miliar selama dekade berikutnya.

“Mengintegrasikan risiko iklim ke dalam keputusan keuangan diperlukan, tetapi logika pasar yang tidak dapat diterima adalah mentransfer biaya ke negara miskin di dunia,” kata penasihat khusus untuk Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP), Simon Zadek.

Investasi dalam proyek-proyek adaptasi seperti infrastruktur perlindungan banjir dan inisiatif penanaman pohon dapat membantu mengimbangi masalah tersebut, kata kepala departemen ekonomi di Sekolah Universitas Oriental dan Studi Universitas London, Ulrich Volz.

“Mereka tidak hanya akan membantu negara-negara rentan untuk menangani risiko iklim dengan lebih baik, mereka juga akan membantu menurunkan biaya pinjaman mereka,” ujar Volz, yang turut menulis studi tersebut dalam sebuah pernyataan.

 

 

 

banner