× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Nasib Energi Terbarukan ke Depan

By Redaksi
Dok. Hivos

Jakarta – Majalahcsr. Pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini sebesar 5% dengan pertumbuhan konsumsi energi sebesar 7%. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, otomatis pertumbuhan energinya pun akan tumbuh.

Namun saat ini bauran energi primer Indonesia masih didominasi oleh energi fosil (94%) dan Energi Baru Terbarukan (6%). Padahal energi fosil yang sekarang banyak dipergunakan memerlukan ratusan tahun untuk bisa kembali dihasilkan, selain itu harganya pun masih di subsidi.

Rasio elektrifikasi nasional pada 2017 sebesar 92,8% dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa dan pertumbuhan penduduk 1,26% / tahun.  Sedangkan rasio elektrifikasi Nusa Tenggara Timur sebesar 58,99%. Artinya 7% dari rumah tangga di Indonesia belum menikmati listrik.

Dalam keadaan seperti ini, perlu adanya kebijakan energi yang harus dilakukan pemerintah. Dalam PP 70/2014, pemerintah membuat beberapa poin prioritas pengembangan energi nasional yaitu memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dengan memperhatikan tingkat keekonomian, mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan energi baru, meminimalkan penggunaan minyak bumi, menggunakan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional, menggunakan energi nuklir sebagai pilihan terakhir.

Pemerintah juga menargetkan bauran energi pada tahun 2025 dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Sehingga penggunaan energi terbarukan pada 2025 sebesar 23% dari sekarang sebesar 7%.

“Dalam program peningkatan kapasitas infrastruktur energi baru terbarukan adalah dengan membangun pembangkit-pembangkit dari APBN dan swasta (komersil),” ujar Kepala Subdit Investasi dan Kerjasama Aneka EBT, Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Andriyah Feby Misna, Kamis (19/10).

 

Keberlanjutan

Tantangan mengembangkan pembangkit EBT ini adalah keberlanjutannya. Solusi off grid yang kecil-kecil menyebar dan berbasis komunitas menjadi salah satu solusi.

Project Manager Green Energy Hivos South East Asia, Sandra Winarsa menjelaskan, keberlajutan off grid harus dilakukan secara bersamaan. Permasalahan timbul karena kebanyakan off grid ini bersifat hibah, hanya sekejap untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu atau setahun saja. “Tapi kalau yang berbasis komunitas, tidak ada yang merawat,” jelasnya.

Dok. Hivos

Kebijakan pemerintah pusat pun belum bisa sinkron dengan kebijakan yang ada didaerah, misalnya kebijakan melalui Peraturan Menteri (Permen) yang sifatnya mekanisme pendanaan melalui APBN. Masalahnya masyarakat sendiri belum mempunyai rasa memiliki baik dari segi teknis, pembiayaan, dan peningkatan produktivitas.

Di Hivos sendiri mempunyai program Resko, yaitu 7 orang Sumba yang dilatih untuk menjaga off grid ebt, misalnya soal instalasi ebt, listrik, operational maintenance, survey ke masyarakat, mengumpulkan uang dari masyarakat.

“Jadi kalau ada yang datang dan investasi, tidak harus seminggu sekali ke Sumba. Mereka bisa berkolaborasi dengan resko,” papar Sandra.

 

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid Swasta

PT Arya Watala Capital, salah satu perusahaan listrik swasta berencana membangun pembangkit listrik tenaga hybrid di 13 lokasi yang tersebar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Tenaga hybrid yang dimaksud adalah kombinasi teknologi solar photovoltaics (PV) dengan pembangkit listrik tenaga diesel.

Kedepannya, diesel tersebut akan diganti dengan energi terbarukan lainnya contohnya dengan mengkombinasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH), bisa juga PLTS dengan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) ataupun dengan lainnya tergantung potensi energi yang ada di daerah tersebut.

“Fokus bisnis kami di energi terbarukan, khususnya di pembangkit matahari. Saat ini sedang menggarap pembangkit listrik dengan teknologi hybrid,” terang Direktur Utama Arya Watala Capital, Aria Witoelar, Kamis (19/10).

Dok. Hivos

Ada delapan lokasi yang dipilih seperti Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Waikabubak, Aesesa, Lembata, Kalabahi dan Betun. Sementara sisanya di NTB yaitu Sape, Dompu, Empang, Lunyuk dan Pekat dengan menggandeng perusahaan asal Jerman. Investasi yang disiapkan untuk proyek tersebut sekitar USD40 juta.

Daerah remote area yang pasokan listriknya masih minim menjadi pilihan Arya Watala. Khusus untuk proyek di NTT perseroan bekerjasama dengan ENGIE, salah satu pemain utama dalam industri energi global asal Prancis.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]