× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Miliuner Hasilkan 1% Persen Karbon Lebih Banyak Dibanding Setengah Warga Dunia

By Redaksi
Ilustrasi Kelompok Miskin dan Kaya. Kolase Foto : Rony Muharman for AP, Music Deep In The Night Youtube video snapshot, Luxury Life Design, and Development Planning Unit, UCL. Edit Foto : Andrea Steffen

MajalahCSR.id – Antara tahun 1990 hingga 2015, aktivitas manusia meningkatkan jumlah karbon dioksida dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Emisi pun diperkirakan turut melonjak sampai 60%. Dalam periode yang sama, banyak ‘anggaran karbon’ di bumi (batas maksimal gas emisi yang dihasilkan sebelum bencana peningkatan suhu tak bisa terhindarkan) terancam habis.

Hampir satu pertiga dari produksi emisi ini hanya dihasilkan oleh 1% populasi: 63 juta orang dari negara maju. Mereka turut bertanggung jawab atas terjadinya polusi karbon 2 kali lipat lebih banyak dari warga miskin yang populasinya setengah penduduk dunia (3,1 miliar orang). Mirisnya, kelompok miskin dan negara berkembang merupakan pihak yang paling terimbas dari bencana dan pergeseran alam (akibat peningkatan emisi).

Sebuah riset Oxfam dari Stockholm Environment Institute, menyoroti kondisi yang mereka istilahkan ‘ketimpangan karbon’. Tim Gore, penangungjawab laporan, Kepala Kebijakan Iklim dan Riset di Oxfam, mengatakan,”Konsumsi berlebihan yang dlakukan segelintir kelompok kaya mendorong krisis iklim, sementara kaum muda serta warga berkekurangan yang harus memikul efeknya.”

Ketimpangan karbon yang ekstrim ini, menurut Gore, merupakan konsekuensi langsung dari pemerintah yang selama berdekade menerapkan ketidakadilan dengan pertumbuhan ekonomi padat karbon.

Ini bukan hanya soal ketimpangan ekonomi yang menimbulkan perpecahan. Bukan pula tentang memperlambat angka penurunan kemiskinan. Namun ada ‘dampak’ ketiga: menguras ‘anggaran karbon’ demi semata-mata untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi kelompok kaya. Tentu saja, berdampak besar bagi mereka yang miskin, dan hal ini dinilai kurang bertanggung jawab.

Meskipun terjadi penurunan emisi lantaran merebaknya pandemi COVID-19, namun bumi masih belum selesai dengan masalah kenaikan suhu pada abad ini. Dan walaupun pada 2015 lalu kesepakatan Paris terkait iklim membuat negara-negara berkomitmen membatasi potensi kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius, emisi tetap merayap naik.  

“Sudah jelas bahwa ‘carbon-intensive’ dan pertumbuhan ekonomi yang tak seimbang lebih dari 20 – 30 tahun tidak berpihak pada kelompok miskin. Merupakan dikotomi yang keliru untuk menganggap bahwa kita harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau (memperbaiki) perubahan iklim,” cetus Gore.

Sejauh ini, suhu bumi sudah meningkat 1 derajat Celsius. Dampaknya sudah begitu besar di berbagai belahan dunia, di mana terjadi kekeringan, kebakaran, dan badai super yang lebih intens serta sangat berpotensi menaikkan ketinggian permukaan laut.

Kini saatnya untuk menekan perubahan iklim dan ketimpangan dengan menempatkan isu perubahan iklim sama pentingnya dengan rencana pemulihan COVID-19. Jika tidak, akan terjadi penguatan emisi kembali saat lockdown (akibat pandemi) dilonggarkan. Bila situasi ini berlanjut dan emisi naik, ‘anggaran karbon’ untuk menahan kenaikkan suhu 1,5°C bakal habis pada 2030.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]