× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Merawat Filantropi di Tengah Pandemi

By Redaksi
Ilustrasi Crowdfunding. Foto : Istimewa

Pandemi COVID-19 di sisi lain bagai “blessing in disguise”. Bak jamur di musim hujan, penggalangan donasi atau bahkan bantuan langsung, marak di berbagai kesempatan. Jiwa gotong royong sebagai ciri khas bangsa pun, kembali terlihat. Kondisi ini tentu patut disyukuri di satu sisi.

Situasi ini coba dikupas oleh acara diskusi online yang digelar Filantropi Indonesia, Kamis (22/04/2020). Diskusi yang berjudul “Tren dan Tantangan Mobilisasi Filantropi di Masa Pandemi” mengundang 3 narasumber. Tiga pembicara tersebut adalah Hamzah Patdri dari SharingHappiness, Jeremia Jeferson dari Yayasan Save The Children, dan Alisa Wahid sebagai inisiator gerakan #salingjaga.

Dalam paparannya, Hamzah menceritakan, perilaku donasi sudah demikian berkembang seiring jaman. Tak lagi harus bertatap muka, penggalangan kini sudah terbiasa memanfaatkan media digital dalam prosedurnya. Kini platform digital fundrising menjadi peluang untuk bisa dimanfatkan dalam menggalang donasi.

“Lima puluh enam persen masyarakat Indonesia sudah memanfaatkan teknologi internet dalam kehidupan sehari-hari,” kata Hamzah. Bahkan menurut Hamzah, dari data miliknya, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan 8,5 jam per hari untuk berinternet, terutama kalangan muda.

Situasi pandemi yang terjadi pun menggiring perilaku dan kebiasaan masyarakat untuk berinternet. Nyaris semua aktivitas dilakukan dari rumah. Mulai dari pertemuan meeting yang terpaksa dilakukan via media daring seperti zoom, hingga pemesanan makanan, belanja, dan sejenisnya. Menurut Hamzah, kondisi perubahan ini lambat laun akan menjadi kebiasaan yang dirasa normal oleh masyarakat. Terlebih jika pandemi ini belum bisa dipastikan kapan berakhir.

Mencermati hal ini, “Digital fundrising harus menjadi kebiasaan baru buat kita. Ini adalah solusi saat masa pandemi,” ujar Hamzah. Karena itu, Hamzah mengimbau agar para penggiat fundrising membuat akun media sosial secara benar. Tentunya disertai dengan laporan transparan perihal penyaluran bantuan dan sejenisnya.

“Saat masyarakat tidak berkumpul di dunia nyata, masyarakat akan berkumpul di dunia maya,” jelasnya. Donasi digital sharinghappines.org, sebagai salah satu platform donasi digital atau crowdfunding yang dipimpinnya, berupaya melakukan kampanye dan manajemen termasuk pelaporan secara benar. Harus berkomunikasi dengan bahasa empati pada masyarakat dalam melakukan aktivitas penggalangan dana.

Sementara itu, Jeremia Jefferson dari Yayasan Save The Children mengatakan, kondisi sekarang membutuhkan shifting strategy bagi pengelola fund rising karena terjadinya pandemi. Sebagai yayasan global, Save The Children tengah berupaya menggalang donasi COVID-19 appeal senilai USD 100 juta untuk disalurkan ke berbagai belahan dunia yang kondisi fasilitas kesehatan yang minim.

Save The Children pun kini lebih sering bekerja sama dengan perusahaan melalui platform digital. Fund rising juga perlu mencari cara yang lebih kreatif. Save The Children contohnya, bekerja sama dengan komunitas besar, seperti komunitas ibu-ibu, untuk mengedukasi perihal kesehatan anak di masa pandemi. Selain itu, juga perlu memanfaatkan celah yang ada. Pihaknya juga sedang menggodok rencana kerja sama dengan perusahaan ojek online soal bagaimana livly hood dan kesehatan keluarga mitranya.

Prinsip Gus Dur

Sementara itu, Alissa Wahid yang juga penggiat jaringan GusDurian, baru tahun 2019, pihaknya memformalkan gerakan jaringan GusDurian.

“Untuk kasus COVID (19) GusDurian menggunakan hastag #salingjaga,” jelas Alissa. Dalam konteks #salingjaga, GusDurian pun memiliki 3 konsep edukasi publik, yaitu, jaga diri, jaga jarak, dan saling jaga.

“Kami awalnya fokus pada edukasi publik, seperti bagaimana orang mau menjaga diri, beraktivitas dari rumah. Namun setelah melihat yang terkena dampak besar justru warga yang penghasilannya sehari-hari, maka GusDurian meluncurkan program #salingjaga yang merupakan kerja sama dengan Gerakan Islam Cinta yang dipimpin Haidar Bagir,” papar putri sulung tokoh kemanusiaan, almarhum Gus Dur.  

Lantas bagaimana cara menggerakan komunitas dan influencers sebagai fundraiser?  

“GusDurian adalah kumpulan orang-orang yang mengagumi pemikiran (almarhum) Gus Dur,” sebut Alissa. Perempuan bernama lengkap Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahida, menyebut, kharisma Gus Dur diumpamakan sebagai pohon jati yang kuat. Sementara para pengagumnya jelas tidak memiliki influence kharisma sekuat tokoh tersebut.

Melalui filosofi GusDurian yang disebutnya sapu lidi, Alissa mencoba merangkul berbagai pihak termasuk influencer untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. GusDurian disebutnya kumpulan lidi-lidi. Bisa patah jika satu lidi, namun bila  dikumpulkan akan membesar menjadi bermakna dan bermanfaat.

Banyak influencer di luar sana yang juga sering menggalang dana. Namun, mereka membutuhkan pihak lain untuk bekerja sama.

“Sebelumnya, GusDurian Peduli seringkali diminta untuk menyalurkan bantuan,” cetus Allisa. Maksudnya, bukan yang menggalang donasi, melainkan menyalurkan donasi lain yang sudah terkumpul. Oleh sebab itu, pihaknya sudah memilii hubungan erat dengan para penggalang dana yang semangat ke-Indonesiaanya sangat tinggi. Melalui semangat Humanity for All, GusDurian, pihaknya tidak pernah memilih dari siapa dan kepada siapa bantuan itu disalurkan. Sampai saat ini sudah terkumpul 10 ribu paket sembako yang akan disalurkan melalui 72 posko di seluruh Indonesia.

Menyinggung soal kepercayaan publik terhadap lembaga sosial, perempuan alumnus magister psikologi Universitas Gajah Mada ini menegaskan ada kaitan antara kepemimpinan, pengaruh, dan kepercayaan. Karakter ditambah kompetensi menghasilkan kredibilitas, penilaian hingga akhirnya pengaruh.

Alissa menyebut, GusDurian Peduli bukanlah lembaga melainkan jaringan atau jejaring. Hanya bermodalkan kepercayaan dan kesamaan nilai. Sebab itu, tak ada karyawan yang digaji seperti di lembaga lain.

“Menurut buku ‘The Speed of Trust’ karya Stephen Covey Jr., kredibilitas itu dibangun dari 2 hal, karakter dan  kompetensi,” tegas Alissa.

Karakter terdiri dari 2 hal yaitu integritas (kejujuran, kongruen, kerendahan hati, keberanian) dan itikad (motif, agenda, perilaku). Sementara kompetensi pun sama terdiri dari 2 hal, yakni kapabilitas (bakat, skill, pengetahuan, network, attitude, dan style) serta kinerja/hasil (rekam jejak, capaian kerja, keterandalan, dan akuntabilitas).

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]