× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Merangkul Seni, Melestari Tradisi

By Redaksi

Di tengah carut marut kehidupan berbangsa, seni adalah penawar sisi humanisme. Kekuatan seni bahkan bisa mengubah tatanan dan kebiasaan masyarakat. Seorang novelis, dramawan, dan penyair, Oscar Wilde pernah mengatakan: “Hidup meniru seni jauh lebih banyak daripada seni meniru kehidupan”. Karena itu, seni tak mungkin lepas dari peradaban.

Indonesia adalah negara yang kaya dengan seni dan budaya. Namun bila tidak didukung dan  dikembangkan, keragaman seni dan budaya bisa punah tergerus jaman.  Pentingnya berkesenian, mirisnya berbanding terbalik dengan kehidupan penggiatnya. Yayasan Kelola (YK) sebagai institusi nirlaba yang peduli seni adalah satu diantara sedikit yang sadar pentingnya dukungan terhadap ekosistem seni. Yayasan yang sudah berdiri sejak 1999 (dua dekade) selalu bergelut dengan kepedulian terhadap seni dan para penggiatnya terutama seni pertunjukkan.

Tokoh kita minggu ini adalah Gita Hastarika. Perempuan muda yang punya impian meletakkan seni di tempat yang semestinya. Melalui Yayasan Kelola yang dibawahinya, ia menggunakan pikiran, tenaga, dan waktu agar seni dan budaya Indonesia harus bisa dihargai oleh siapapun. Seni memang warisan tak ternilai sebuah bangsa.

Menyambangi kantor asrinya di bilangan Cipete, Jakarta Selatan, Direktur Yayasan Kelola, Gita Hastarika pun mengisahkan lembaga yang dipimpinnya. Yayasan Kelola berusaha mengembangkan tata kelola, pendanaan, sekaligus peningkatan sumberdaya manusia dalam seni dan budaya.

“Kami membuat program-program yang bisa open call para seniman seluruh Indonesia untuk terlibat,” kata Gita membuka perbincangan. Yayasan Kelola punya beberapa program pokok yaitu, Grand Making Hibah (Hibah Seni, Hibah Cipta Perempuan, Hibah Cipta Perdamaian), Empowerment (empowerment untuk seniman, dan empowerment seniman kepada masyarakat), dan Networking.

Agar seniman mampu mengelola kelompok atau mengupgrade kemampuan, Yayasan Kelola punya program capacity building. Biasanya melalui kelas workshop untuk para seniman. “Seperti Januari kemarin, kami mengadakan workshop untuk koreografer,”ungkap Gita. Ada juga, menurut Gita, workshop manajemen festival. Pesertanya pun adalah orang-orang yang bergelut di bidang itu.

Kriteria seniman seperti apa yang jadi acuan program Yayasan Kelola? Ternyata ada kriteria tertentu yang diberlakukan. Contohnya untuk program Hibah Seni, Gita menjelaskan, diperuntukan bagi seniman seni pertunjukkan. Pihaknya masih mengutamakan seniman pertunjukkan, karena seni ini mewakili atau basis ragam tradisi yang ada di nusantara. Contohnya, tradisi upacara tertentu yang sebenarnya masuk ke dalam seni pertunjukan. Selain itu dilihat dari eksistensi seni pertunjukan yang makin tenggelam.

“Seni pertunjukan termasuk lama persiapan dan mahal ongkosnya,” kata Gita. Namun untuk harga tiket seratus ribu rupiah saja, masyarakat seringnya mengeluh mahal. Akibatnya, pendapatan seni pertunjukan seringkali tak bisa menutupi budget outputnya. Seni lain seperti film, seni rupa juga cukup mahal, namun eksosistemnya sudah lebih mapan, demikian Gita. Untuk hibah seni, syaratnya minimal sudah punya 3 karya yang sudah dipentaskan.

Tak cuma hibah ada juga program Magang Nusantara. Untuk magang ini diperuntukkan bagi seniman yang setidaknya sudah berkecimpung 2 – 3 tahun, tanpa melihat karya. Seperti asisten kurator, atau asisten pameran, maka bakal dipertimbangkan untuk bisa jadi peserta Magang Nusantara.

Selain YK, ada lagi organisasi lain yang juga bergerak di bidang seni. Seperti Koalisi Seni Indonesia. Apa perbedaanya dengan YK? “Koalisi Seni Indonesia perannya lebih pada advokasi para seniman,” jelas Gita. Ada lagi Ruang Rupa yang merupakan perkumpulan seni yang lebih fokus ke pendidikan, sekolah. YK sendiri saat ini termasuk yayasan seni yang sustainable. “Ada atau tidak ada funding, YK berupaya untuk tetap ada,”tegas Gita.

Sejak berdiri dari tahun 1999, Yayasan Kelola (YK) baru satu kali berganti kepengurusan. Pada awal tahun 2018, estafet kepemimpinan dari Amna S. Kusumo diserahkan ke Gita Hastarika. Pekerjaan apa yang dibawa Gita untuk Yayasan Kelola?

“Kami sedang berupaya membereskan database dan arsip seniman,” ungkap Gita. Dokumentasi merupakan hal penting juga di dunia seni. Terlebih dokumentasi bakal menunjukkan track record seniman. Hal mana yang jadi dasar pertimbangan YK merekrut seniman ke dalam programnya. Gita merasa prihatin karena pihaknya termasuk kementerian terkait selama ini belum punya data valid seniman di tanah air.

Demikian sulitnya mendata seniman, sebab keunikan profesi mereka. “Tidak seperti profesi umum, seniman kadangkala berprofesi juga di bidang lain. Sangat jarang sekali yang benar-benar murni berprofesi seniman,”jelas Gita. Ya, seniman adalah panggilan jiwa. Banyak seniman yang pekerjaan utamanya beragam latar belakang. Mulai dari guru, pedagang, aparatur sipil negara, sampai driver gojek. “Alasan lain dikarenakan tuntutan hidup,”lanjut Gita. Karena seniman pertunjukan hanya dapat nafkah saat pentas. Bahkan tak jarang mesti nombok.

Melalui database arsip, Gita berharap, seniman dan pemangku kepentingan lain bisa terbantu. Contoh simpel, jika ada pihak yang ingin kerjasama dengan satu seniman daerah, tinggal datang ke database yang ada di YK untuk informasi lengkapnya. Hasilnya, kedua belah pihak termasuk seniman bisa terbantu dengan arsip tersebut.

Program baru lain yang juga penting, soal digitalisasi seni. Yayasan Kelola tengah mempersiapkan Digital Masterclass. “Ini mirip dengan Ruang Guru, hanya saja materinya tentang seni,” papar Gita. Yang sudah jadi, menurut Gita, video tentang koreografer. Darimana sang koreografer dapat ide agar jadi pembelajaran yang lebih muda. Selain sarana pembelajaran, video ini juga bisa jadi ajang kampanye apresiasi untuk seni.

Untuk pembuatan video ini ternyata tidak satu kali “take”. Perlu dilakukan diskusi untuk dicari sudut menarik dari seniman tersebut. “Satu seniman dibagi jadi empat atau lima segmen. Mulai dari introduction, seperti cara si seniman mencari inspirasi, lalu struktur tari, kolaborasi, manajemen, dan lainnya” papar Gita.

Profesi seniman berbeda dengan profesi lain. Justru di sisi inilah menariknya. Bila di profesi lain, ego seringkali berkonotasi negatif, di ranah seni justru diperlukan. “Karena melalui ego itulah, karya seniman bisa terlihat unik,” alasan Gita. Tapi saat berkolaborasi dengan pihak lain, ego seorang seniman mau tak mau harus disesuaikan.

Yayasan Kelola (YK) selalu membantu para seniman untuk bermitra. Dengannya, seniman pun mendapat ruang dan spotlight untuk mempertontonkan karya. Jelas hal ini menguntungkan sang seniman. Namun apa yang didapat YK dari program-programnya? Ternyata dengan hanya menjadikan seniman dan karya mitranya dikenal dan banyak diundang pentas, bagi YK sudah cukup.

Yayasan Kelola sudah sering bekerjasama dengan berbagai pihak. Adakah diantara kerjasama itu yang paling berkesan? “Saat berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Denmark,”cetus Gita. Melalui program Hibah Cipta Perdamaian, Gita menjalin kerjasama tersebut. Padahal di awal program, Gita mengaku ragu dengan misi program ini. Mampukah seniman membangun dialog dengan masyarakat, menghadapi konflik. Meskipun senang mendapat mitra, namun ada kekhawatiran di sudut lain.

Setelah berjalan 3 tahun, kekhawatiran itu malah tidak terbukti. Bahkan kekeberhasilan dari program ini fenomenal. Seperti yang dilakukan Arkomjogja – perhimpunan arsitek – yang mengadvokasi kampung nelayan. Status kampung nelayan yang berada di sebuah kabupaten dekat kota Makasar tersebut tak jelas. Kawasan itu disebut bakal terkena perluasan kawasan pelabuhan. Tapi ada yang menyebut statusnya kawasan tetap pemukiman. Mereka memberanikan diri menggelar festival seni dan adat. Bupati pun bahkan datang. Yang luar biasa, Bupati akhirnya menandatangani surat keputusan yang menyatakan status kampung itu adalah kawasan pemukiman sampai waktu yang tak bisa ditentukan.

Arkomjogja menyusun masterplan bersama warga nelayan. Hasilnya diserahkan ke Kementerian PU. Ternyata masterplan itu, di luar perkiraan, diterima dengan baik. Dari sini Gita melihat, dampak seni bisa menjadi sangat luar biasa. Solusi seperti inilah yang menurut Gita, tak terpikir oleh pihak lain. Bahlan oleh LSM yang seringkali berpikir linier dengan hanya memperhatikan input dan output.

Tapi tetap saja, “Senimannya sendiri tetap butuh capacity building,” tegas Gita. Perempuan muda ini juga mengkritisi soal Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam SDGs tak satupun poin yang merujuk pada budaya. “Salah apabila seni hanya dipakai untuk sarana meraih ke 17 goals dari SDGs,”kritik Gita. Budaya dan seni menurutnya jika tak diperlakukan semestinya bisa mati. Budaya dan seni harus juga diperlakukan dalam konteks manusia yang berbudaya sebagai goal. Meskipun orang-orang menjadi sehat, cerdas, namun jika tak berbudaya, tetap jadi tidak beradab. Tentunya hasil ini tidak bisa dikatakan sebagai tujuan sustainable.

Gita mencontohkan seni syair paupe yang nyaris hilang di masyarakat Kepulauan Banggai. Warga sekitar mencari nafkah dengan menjala ikan di laut. Karena menangkap ikan dengan cara menebar bom, lama kelamaan ikan pun kian langka. Menghidupkan kembali syair paupe, menyadarkan masyarakat untuk berhenti menggunakan bom ikan. Pasalnya, salah satu isi syair paupe menceritakan melimpahnya ikan di sana. Sebuah seni ternyata bisa membangun memori warga untuk melestarikan lingkungan.

Disinggung soal cara Yayasan Kelola bisa sustainable, sambil tertawa, perempuan kelahiran 22 Agustus 1980 mengaku hal ini yang paling sulit. Sebagai lembaga nonprofit, dirinya harus memikirkan income bagi kebutuhan operasional. Tidak juga bisa mengandalkan pihak pendonor. Karena selain jumlahnya tidak pasti, waktu nya pun tidak pasti pula dengan agenda mereka yang juga tak ajeg. Gita berharap dengan penyusunan arsip digital database seniman dan digital masterclass, adalah bagian dari solusi.

Menyinggung soal dana perwalian kebudayaan dari pemerintah, Gita menyambut baik. Namun dirinya belum mengetahui mekanisme sistem penyaluran dana 5 triliun itu. Gita mencoba membandingkan dengan sistem yang dipelajarinya. Yaitu sistem National Endowment for the Arts di Amerika dan Arts Grant melalui Art Council England di Inggris. Di Amerika dari total peruntukkan dana, 40% diantaranya disimpan. Gunanya untuk lembaga (seni) yang menurut mereka punya dampak besar. Sementara 60% sisanya dipakai untuk dibuka, baik berupa open call atau program lainnya. Dalam dana 40% ada unsur lembaga pemerintah dan lembaga independen. Gita membayangkan jika pemerintah mengadopsi sistem tersebut, maka Yayasan Kelola berada di unsur lembaga independen. Salah satu lembaga yang disokong pemerintah dari alokasi 40% budget.

Gita berharap pemerintah lebih menyadari lagi bahwa untuk membahas budaya dan seni, tidak cukup mengundang seniman saja. Karena di situ ada pihak enabler yang merupakan bagian dari ekosistem seni. Pemerintah mesti juga mengajak pihak lain yang selama ini mengelola seniman. Enabler ini yang lebih paham karakter berbagai seniman. Bila cuma mengajak pihak seniman saja, suaranya amat subjektif, tak mewakili seniman lain.

Pada 2019, Yayasan Kelola akan menginjak usia ke 20. Menyambut hal ini di akhir tahun nanti, Yayasan Kelola menggelar festival seni 20 tahun. “Ada pertunjukkan ulang masterpiece karya seni yang didanai kelola,” kata Gita membocorkan. Selain itu ada revisit karya besar para maestro seniman yang diproduksi ulang dan pameran seni. Di acara itu pula bakal dibuka kiprah 20 tahun YK. Sudah memberikan dampak apa saja bagi perkembangan seni di Indonesia.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]