× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Menghijaukan Nusa Penida Bali dengan “Bom” Benih

By Redaksi
“Bom” benih yang akan dilemparkan ke kawasan bebukitan yang terjal dan sulit dijangkau di Nusa Penida. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Sepintas mirip adonan dalam proses pembuatan bakso. Bentuknya berupa bulatan-bulatan bakso berukuran sedang. Namun yang ini terbuat dari tanah yang diisi benih tanaman didalamnya. Tapi jangan salah, namanya agak mengerikan, bom benih.

Seperti yang dilansir dari laman mongabay, bom benih ini diperlukan untuk menanami bagian lereng bukit yang terjal di kawasan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Bebukitan di Nusa Penida memang dari bebatuan yang sangat tergantung curah hujan. Kondisi ini diperparah dengan tanah yang curam, sehingga pegiat lingkungan cukup kesulitan untuk menanam di areal tersebut.

Kain Tenun Cepuk khas Nusa Penida, Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Lahan di kawasan hijau bukit Nusa Penida milik para penenun di Dusun Tanglad. Dusun ini dikenal sebagai penghasil kain tenun Cepuk, yang kian langka bahkan terancam punah. Kelangkaan ini disebabkan warna kain tenun tersebut berasal dari pewarna alami tanaman yang habitatnya makin sulit ditemui. Tenun lainnya seperti Rangrang lebih mudah ditemui karena sudah memakai pewarna sintetis.

Usaha kerajinan kain tenun di dusun ini sudah dilakukan turun temurun. Salah seorang penggiat tenun, Gede Agustinus Darmawan, atau biasa disapa Timbool. Pria muda ini tergabung ke dalam kelompok tenun Alam Mesari, dan turut terlibat dalam kegiatan penanaman ini. Jenis tanaman yang dipilih adalah bahan baku pewarna untuk kain tenun. Kegiatan tanam ini digagas GEF-SGP dan Yayasan Wisnu sebagai koordinator.

Kontur lahan Bebukitan Nusa Penida Bali yang beberapa diantaranya terjal dan curam. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Ada dua program penanaman yang dilakukan. Di lahan milik penenun dengan cara penanaman konvensional dan di lahan bukit memakai bom benih (seeds bomb). Bom benih “dilempar” ke atas kontur lahan bebukitan yang terjal dan curam dan sulit dijangkau. Pada Jumat (14/2/2020), bom benih ini sudah mulai menampakkan hasil. Ada sejumlah tunas yang muncul. Tak meratanya tunas yang tumbuh disebabkan pelemparan benih tak seluruhnya dalam waktu yang bersamaan.

Untuk penyebaran bom benih ini tak setiap waktu dilakukan. Menurut Timbool hanya dilakukan pada musim penghujan. “Kemungkinan tumbuh (dari seluruh benih yang disebar) 50% saja,” jelasnya. Setiap satu bulatan bom benih diisi oleh 10 – 15 benih sekaligus. Sejauh ini ada 8.000 benih yang telah disebar memakai bom benih.

Jenis benihnya dari tanaman perintis semisal turi, orok-orok, dan gereng-gereng. Fungsinya untuk menyuburkan tanah dan sebagai pembuat lapisan tanahnya. Setelah muncul lapisan tanah, baru disebar benih tanaman pewarna, yaitu tarum. Selain tarum, ada pula jenis tanaman pewarna lain, mngkudu, secang, indigo.

Dusun Tanglad dulu memang dikenal sebagai penghasil pewarna alami kain. Bahkan sudah menjadi pemasok pewarna kain tenun utama di kawasan Bali.

Seed bombing atau bom benih ternyata bukan cara baru. Seorang warga Jepang, Masanobu Fukuoka yang pertama kali mempopulerkannya. Sejarah mencatat, pertama kali dilakukan pada 1930, untuk menghijaukan kawasan pegunungan Honolulu yang gundul kala itu melalui pesawat.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]