× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Mengatasi Kendala Distribusi Vaksin COVID-19 ke Pelosok Indonesia

By Redaksi
Diskusi Media Tantangan Distribusi Vaksin COVID-19 ke Pelosok Indonesia. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Vaksinasi untuk COVID-19 di Indonesia mulai dilaksanakan pada pertengahan Januari lalu. Presiden RI, Joko Widodo menjadi orang pertama yang mendapatkan program vaksinasi itu. Sejak itu, vaksinasi mulai dilaksanakan secara massif, yang dimulai dari profesi tenaga kesehatan, aparat, pekerja media, hingga saat ini giliran kelompok manula.

Adapun program vaksin ini bukannya tak menemui kendala, sejumlah masalah turut timbul terutama dalam soal pendistribusiannya. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Januari lalu mengkhawatirkan terkendalanya penyebaran vaksin terutama ke daerah-daerah terpencil atau sulit dijangkau.

Hal ini pula yang menjadi tema pembahasan diskusi “Tantangan Distribusi Vaksin COVID-19 ke Pelosok Indonesia” yang digelar Technoplast bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, dan fitur aplikasi kesehatan Halodoc, di Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Program vaksinasi Covid-19 yang berlangsung sejak Januari 2021 membawa dampak penting dalam penanganan kasus Covid-19 di Indonesia. Dengan target sasaran vaksinasi sebanyak 181.554.465 orang, pemerintah berupaya untuk memberikan layanan terbaik dengan terus meningkatkan penyuntikan vaksin hingga mencapai target satu juta dalam sehari.  

Berdasarkan data Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), per 10 April 2021, dari target sasaran vaksinasi sebanyak 181.554.465, baru sekitar 5.050.524 orang yang menyelesaikan dua tahap vaksinasi.

Maxi Rein Rondonuwu, Plt Direktorat Jenderal P2P Kemenkes RI di tengah diskusi mengatakan, kondisi geografis Indonesia yang luas yang dihuni 270 juta jiwa dan beriklim tropis menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Hal ini terutama berkaitan dengan proses distribusi dan jaminan keamanan vaksin hingga ke penerima.

“Dalam pedistribusian vaksin, dibutuhkan rangkaian distribusi suhu dingin (cold chain) dimana vaksin harus selalu berada dalam kondisi suhu dingin tertentu dalam wadah penyimpanannya untuk menjaga kualitas dan efektivitas vaksin’” katanya.

Dia menambahkan, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana distribusi vaksin adalah ketersediaan kendaraan, ketersediaan dan kapasitas sarana/alat pendingin sesuai karakteristik vaksin, jadwal distribusi, level stok maksimum dan minimum vaksin, dan juga waktu interval vaksin sesuai dengan jenis vaksin.

“Selama proses distribusi harus dipastikan kualitas vaksin Covid-19 terjaga dengan baik. Untuk itu harus dilakukan pemantauan vaksin sepanjang proses distribusi. Dari Biofarma ke Provinsi digunakan Bio Tracking dan Bio Detect yang dilengkapi freeze alert, alur perjalanan serta kualitas mutu vaksin selama perjalanan dengan memberikan peringatan dini ketika ada perubahan suhu yang signifikan dan dapat berdampak terhadap kualitas vaksin.”

Untuk itu, pemerintah sangat menghargai usaha dan keterlibatan para pemangku kepentingan yang telah berkiprah dalam mendukung suksesnya program vaksinasi Covid-19.

Sementara Kristoforus Hendra Djaya, Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), sependapat bahwa hal utama yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan distribusi vaksin adalah bagaimana memastikan vaksin yang diterima masyarakat kualitasnya terjaga selama pengiriman agar vaksin tetap efektif.

“Harus ada sistem distribusi yang terencana dengan baik serta tentunya didukung oleh ketersediaan wadah penyimpanan vaksin selama distribusi cold chain yang dapat diandalkan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan,” katanya.

IDI, lanjutnya, mendukung penuh pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia dan sampai saat ini terus memberikan edukasi mengenai manfaat vaksinasi Covid-19 dalam mendukung pemerintah mengurangi penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

“Salah satu tantangan dan kendala yang kami temui selama ini diantaranya keengganan masyarakat untuk ikut program vaksinasi Covid-19 terkait dengan isu-isu yang beredar seperti vaksin kadaluarsa atau rusak saat diterima. Untuk itu kami dari Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI terus-menerus memberikan edukasi mengenai manfaat dan keamanan vaksin Covid-19,” jelas Kristo yang juga merupakan Internist dan Vaksinolog di Inharmony Clinic.

Irwan Heriyanto, Chief of Medical Halodoc, pada kesempatan yang sama juga setuju bahwa kesuksesan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 harus didukung oleh semua pihak. “Peran swasta terutama yang memiliki sumberdaya dan kompetensi akan mendorong percepatan keberhasilan program nasional vaksinasi Covid-19 ini,” katanya.

Dia menambahkan, Halodoc sebagai salah satu platform yang telah berpengalaman dalam menyediakan layanan kesehatan terpadu ini menyambut positif program vaksinasi Covid-19 Pemerintah. Hal tersebut salah satunya diwujudkan dalam bentuk penyediaan layanan drive-thru untuk vaksinasi Covid-19.

“Kami menyediakan layanan drive-thru untuk vaksinasi bekerjasama dengan GoJek yang menyediakan layanan transportasi melalui GoCar bagi kelompok rentan yang tidak memiliki kendaraan. Untuk mendapatkan layanan ini hanya perlu mengunduh aplikasi Halodoc dan mengikuti petunjuk di aplikasi tersebut,” jelasnya.

Terakhir, Bettia M.Bermawi, Kepala Bidang Tata Laksana dan Compliance Sentra Vaksinasi Serviam, sebagai salah satu pelaksana vaksinasi Covid-19 mempunyai program utama vaksinasi lansia turut memberi pandangan. Dalam melakukan vaksinasi, Bettia menjelaskan lansia perlu pendampingan, edukasi yang jelas dan sering mempunyai komorbid sehingga sebaiknya tidak menunda vaksinasi jika lansia dalam kondisi layak vaksin. “Diperlukan juga peran serta dari para pamong, tokoh masyarakat sosialisasi pada anak atau caregiver sehingga lansia bisa diajak datang untuk divaksin,” ujarnya.

Terkait distibusi vaksin, dr Bettia mengaku menghadapi sejumlah tantangan teknis yaitu menjaga vaksin tetap pada suhu yang optimal, stabil dan aman. Saat ini, Sentra Vaksinasi Serviam menggunakan IVC Technoplast sebagai wadah penyimpan vaksin Covid-19, yang menurutnya bisa menjamin keamanan vaksin saat pendistribusian mengingat suhu yang stabil dan adanya alarm jika terjadi peningkatan suhu.

Menjawab tantangan perlunya penyediaan alat pembawa dan penyimpan vaksin yang andal dalam rangkaian distribusi cold chain, Direktur Utama PT Trisinar Indopratama (Technoplast), Ellies Kiswoto mengungkapkan Technoplast telah memproduksi Insulated Vaccine Carrier (IVC) berteknologi tinggi yang memenuhi kriteria sistem distribusi cold chain untuk vaksin Covid-19. IVC Technoplast mampu memberikan kestabilan suhu ruangan antara 2 hingga 8 derajat Celcius dalam waktu 48 jam, meski suhu di luar ruangan mencapai 30 derajat celcius.

Dia mengatakan, IVC Technoplast dilengkapi teknologi IOT yang bisa menjamin keamanan kualitas vaksin selama proses pendistribusian ke lokasi tujuan. IVC Technoplast juga telah dinyatakan lolos uji oleh balai sertifikasi SUCOFINDO. 

“Teknologi IOT ini tidak sekadar mendeteksi suhu dan lokasi saja, tetapi juga memberikan informasi seperti tanggal pengiriman vaksin dari produsen, jumlah vaksin, real time lokasi, track record suhu, nama kurir, identifikasi pesawat, dan nomor plat mobil. Setiap vaksin box memiliki QR code tersendiri,” terangnya.

Dengan kepastian keamanan vaksin, diharapkan animo masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19 terus meningkat dan dapat mempercepat pencapaian target vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]