× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Mengapa Perempuan Begitu Penting jadi Entrepreneur Bidang Iklim?

By Redaksi
Ilustrasi unjuk rasa perempuan aktivis lingkungan. Foto : Shutterstock/Drazen Zigic via Greenbiz

MajalahCSR.id – Dalam menangani perubahan iklim, kewirausahaan dan inovasi – yang diistilahkan sebagai “climate tech” atau “teknologi iklim” – sangat penting. Perempuan adalah kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim dibandingkan pria, namun di sisi lain bidang climate tech justru didominasi oleh pria. Di Kanada, hanya 1 dari 10 pendiri dan pemilik bisnis teknologi adalah perempuan, dan setidaknya hanya 19% dari startup climate tech pendirinya seorang wanita. Sehingga, ketika tiba saatnya membuat solusi atas iklim, sangat kekurangan perspektif perempuan.

Pelibatan perempuan sebagai wirausahawan (di sektor ini) akan memberi dampak sosial yang sangat luas, yang biasanya lebih berdampak pada pemasukan keluarga dibanding pria. Sementara sebagai pendiri perusahaan, mereka akan lebih mempekerjakan sesamanya 2,5 kali lebih banyak dibanding pria sebagai pendiri usaha. Ini berarti sebagai sosok wirausaha, perempuan akan lebih memberdayakan akses pekerjaan pada perempuan lain.  

Entrepreneur perempuan biasanya lebih dari sekedar rekan para pria dalam berinovasi mengatasi masalah sosial. Mereka juga memiliki nilai yang lebih dari lawan jenisnya dalam keahlian kunci seperti kepemimpinan, pemecah masalah juga dalam inovasi.

Perkembangan pendanaan venture capital di teknologi iklim lima kali lebih cepat dibanding venture capital lainnya. Ini mengindikasikan tingkat kebutuhan inovasi yang tinggi di sektor tersebut. Jika perempuan memiliki akses yang lebih luas menjadi pemimpin di bidang ini, dapat menciptakan kesejahteraan sekaligus mengurangi jurang kesejateraan gender.  

Tantangan yang dihadapi wirausaha perempuan

Akses pada permodalan adalah tantangan utama bagi  wanita pelaku usaha. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya lembaga keuangan seperti bank yang masih melakukan diskriminasi. Pada 2017, hanya 2% permodalan di AS yang disalurkan kepada perempuan pendiri startup. Studi yang dilakukan Harvard, MIT, dan Wharton School mengungkapkan menguatkan bias gender ini: saat sebuah ide yang sama disuarakan oleh pria dan wanita, dua pertiga investor lebih memilih pria. Bias ini kemungkinan terjadi sebagai hasil dari fakta bahwa 88% dari pembuat keputusan terkait venture capital di firma keuangan adalah pria.    

Di luar ini, perempuan pun menghadapi ketidakberuntungan lain. Di Asia dan Pasifik, riset memperlihatkan para wanita digaji empat kali lebih murah dibanding pria, yang berarti lebih tersita waktu dan energi untuk mengembangkan kemampuan, dengan jam kerja lebih panjang dan beban yang lebih (jika penghasilan sama). Teknol;ogi hijau juga bagian dari STEM (science technology engineering math), di mana sektor STEM ini didominasi pria dan hanya 5% dari posisi pemimpin dipegang wanita di Inggris.

Permasalhan juga dimulai dari level edukasi, di mana hanya 3 persen wanita di Inggris yang menyebut karier di bidang teknologi adalah pilihan utama. Kurangnya role model dari kaum perempuan juga menjadi salah satu penyebab minimnya para pelaku muda bisnis teknologi hijau dari kalangan wanita.     

Bagaimana caranya kita mengatasi disparitas gender dalam wirausaha iklim?

  1. Inkubator dan akselerator

Banyak starup yang gagal pada tahap awal. Inkubator dan akselerator dapat mentoring, sumberdaya, ruang, peluang jaringan, dan akses pada permodalan. Perempuan kerap lemah dalam peluang jaringan, dan bergabungnya mereka dengan lembaga akselerator bisnis memberikan ksesempatan unutk menemukan pemangku kepentingan kunci. Startup bidang iklim biasanya menghadapi tantangan unik, seperti “return of investement” yang lama, dan mengubah kebijakan dan peraturan pemerintah. Lembaga akselerator bisnis dapat membantu wirausaha wanita dalam memberikan saran dan dukungan yang tepat unutk mentgtasi masalah ini.        

  1. Saran untuk merekrut wanita pada sektor teknologi hijau

Banyak pelaku usaha memulai kiprahnya sebagai karyawan di perusahaan, lalu mendirikan bisnis sesuai dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Jika perusahaan di sektor teknologi dan iklim lebih banyak lagi dihuni karyawan wanita, ini akan mendorong pengalaman dan kepercayaan diri dalam memulai bisnis mereka. Di AS, cuma 24% para perempuan yang berkiprah sebagai pekerja teknologi. Di perusahaan kendaraan listrik Tesla, sebanyak 83% pemimpin dari tingkat bawah dan atas adalah kaum pria.

  1. Saran untuk mengakomodasi lebih banyak wanita untuk jajaran pemimpin di lembaga ventuire capital dan bank

Hanya 9 persen dari para investor venture capital di startup teknologi merupakan wanita, kurang dari 2% CEO bank juga wanita, serta cuma 5,3% para direktur perusahaan di dunia yang dipegang perempuan. Membuka peluang lebih banyak bagi mereka di posisi ini tentunya akan meminimalisasi bias gender yang secara tak sadar berlangsung.

Deloitte’s Board Ready Women adalah gerakan inisiatif yang emndorong para wanita yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin di perusahaan publik. Para perserta perempuan akan mendapat saran dari anggota gerakan yang merupakan pemimpin yang berpengalaman, membantu mengembangkan kemampuan para partisipan dan peluang penting dalam berjejaring.

 

Artikel ini adalah alih bahasa dari penulis Talal Rafi (Global Consultant World Economic Forum) di laman Greenbiz.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]