× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Mendesaknya Penanganan Sampah Plastik dan Mikroplastik di Indonesia

By Redaksi
Seminar Sehari Limbah Plastik dan Mikroplastik. KiKa: Semerdanta Pusaka Country Director for Indonesia SR Asia, Saut Marpaung Ketua Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia, Angelin Sumendap Head of Public Communication and Media INAPLAS, Anton Purnomo Direktur Basel Convention Regional Centre for South East Asia

Penanganan limbah plastik termasuk mikroplastik tidak bisa dilakukan satu pihak saja, melainkan harus bersama-sama. Ini salah satu kesimpulan dari seminar sehari One Day Seminar Resolving Plastic Waste and Micro Plastic Issues: Indonesia Progress and Challenges. Seminar yang digagas SR Asia dan bekerjasama dengan Majalah CSR ini berupaya menemukan solusi atas permasalahan sampah plastik yang belakangan ini menyita perhatian banyak kalangan.

Seriusnya permasalahan sampah plastik bisa dilihat dari data The Indonesian Olefin and Plastic Industry Association (INAPLAS) yang menyebut jumlah sampah plastik Indonesia ada di angka 64 juta ton per tahun. Sementara khusus limbah kantong plastik, ada 10 miliar atau 85 ribu ton kantong plastik per tahunnya yang memapari lingkungan.

Yang cukup miris, sebagai negara maritim dimana 70 persen wilayah Indonesia adalah lautan, dari total jumlah sampah plastik, tujuh puluh persen diantaranya punya potensi terbuang ke lautan. Sangat sulit membayangkan jika pada akhirnya Indonesia dikepung oleh lautan sampah yang berasal dari daratan.

Di lain pihak, data World Bank (2018) menyebut 87 kota pesisir di Indonesia turut menyuplai sampah plastik ke laut sebanyak 1,27 juta ton per tahun.  Plastik biasanya sulit terurai dan mengancam biota laut karena mahluk hidup di laut menggangap limbah tersebut adalah makanan. DI pihak lain, jenis plastik yang mudah terurai pun bukan tanpa masalah, karena hasilnya menjadi mikroplastik berukuran 0,3 – 0,5 milimeter yang disinyalir bisa menimbulkan masalah kesehatan bila terserap tubuh. Mikroplastik di laut akan termakan hewan laut yang selanjutnya dikonsumsi oleh manusia.

Plastik sebenarnya punya ragam manfaat bagi manusia. Mulai untuk kebutuhan sehari-hari, sampai bahan pendukung produk industri. Oleh karenanya, diperlukan manajemen berwawasan lingkungan yang strategis (strategic environmental sound management) terhadap limbah plastik, yang tentunya perlu dikolaborasikan semua pihak mulai dari masyarakat, pemerintah, para pelaku industri, hingga di skala nasional. 

Melalui seminar Resolving Plastic Waste and Micro Plastic Issues: Indonesia Progress and Challenges, seluruhnya dibahas mulai dari kondisi masalah, sampai solusi terhadap limbah plastik.

“Hasil diskusi seminar akan didokumentasikan dan dirangkum menjadi rekomendasi bagi Pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan isu limbah plastik dan plastik mikro,” ujar Semerdanta Pusaka, Country Director for Indonesia SR Asia.

Diskusi yang dipandu oleh Anton Purnomo, Direktur Basel Convention Regional Centre for South East Asia (BCRC-SEA), yang mewakili pembicara utama Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rosa Vivien Ratnawati.

Dilema Konsumsi Plastik

Dalam diskusi tersebut, Angelin Sumendap, Head of Publication and Media INAPLAS menyatakan, industri plastik sejauh ini sudah menstandardisasi produknya sesuai dengan ketentuan. Sehingga dampak negatif dari produk plastik sudah sangat diminimalkan. Yang menarik, Angelin mengungkapkan, konsumsi plastik di Indonesia ternyata masih di bawah negara lain, bahkan jika dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand, Indonesia konsumsi per kapita masyarakat Indonesia masih di bawah mereka. Melihat fakta ini, sebenarnya bukan soal konsumsi plastik, melainkan manajemen collecting – nya.

Di sisi lain, ada jenis plastik multilayer yang tak mudah untuk didaur ulang.  Namun jenis plastik ini justru dibutuhkan oleh industri makanan, karena bisa membuat makanan lebih tahan lama. “Bisa saja menggunakan plastik monolayer, namun produk makanan tidak akan tahan lama, yang mana justru bisa memicu kenaikan foodwaste yang juga menimbulkan emisi,”jelas Angelin. Dalam konteks ini, Angelin mengungkapkan, pihaknya terus berinovasi sehingga bisa meningkatkan kualitas plastik agar kian ramah lingkungan sekaligus juga kemasan plastik bisa membantu meredam sampah produk lain seperti contoh soal foodwaste.

KiKa : Tuti Hendrawati Mintarsih Penasehat Indonesia Waste Platform dan Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian KLHK,
Sinta Kaniawati Ketua Umum PRAISE, Angelin Sumendap Head of Public Communication and Media INAPLAS, Semerdanta Pusaka Country Director for Indonesia SR Asia

Sementara itu, persoalan limbah plastik juga terkait impor sampah. Untuk itu, Anton Purnomo sebagai moderator diskusi, mengungkapkan,  akan ada Ban Amendment Basel Convention terkait impor     limbah plastik yang akan berlaku efektif pada 5 Desember 2019 dan kesiapan penerapannya di Indonesia. Ini menjadi saat yang tepat bagi Indonesia untuk memperkuat pengawasan terhadap impor limbah plastik, dan menghentikan kegiatan impor yang tidak memenuhi PIC Procedure.

Salah satu solusi lain dari kelola sampah adalah menerapkan sirkular ekonomi. Ketua Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia, Saut Marpaung menceritakan soal sampah (termasuk didalamnya sampah plastik), yang juga bisa bernilai ekonomis. Selain itu hadir pula Ketua PRAISE, Sinta Kaniawati, yang mengatakan sudut pandang penanganan sampah plastik dari industri fast moving consumer good.  Salah satunya dengan upaya mendaurulang plastik menjadi bahan kemasan baru atau produk lainnya (upcycling).

Seminar dan diskusi ini diselenggarakan di Hotel A One, Jakarta, Rabu (20/11/2019), yang juga menghadirkan sejumlah pembicara mulai dari kalangan pemerintah, swasta, praktisi pengelolaan sampah, hingga pemerhati persoalan sampah.

Fokus Isu

Diskusi yang dalam seminar ini difokuskan pada perkembangan  dan tantangan terkait isu-isu berikut:    

1. Ban Amendment Basel Convention terkait impor limbah plastik yang akan berlaku efektif pada 5 Desember 2019  dan kesiapan penerapannya di Indonesia. Ini menjadi  saat yang tepat bagi Indonesia untuk  memperkuat pengawasan terhadap impor limbah plastik, dan menghentikan kegiatan impor yang tidak memenuhi PIC Procedure.

2. Perlunya “national inventory”  limbah plastik  sebagai basis untuk mengembangkan strategi Nasional dalam    mengelola isu limbah plastik dan mikroplastik.

3. Kebijakan pemerintah saat ini  terhadap limbah plastik dan microplastic, termasuk efektivitas penerapan, pengawasan, dan evaluasi kebijakan, serta dampak kebijakan terhadap masyarakat dan lingkungan.

4. Standarisasi   produk berbahan atau  megandung plastik serta inovasi berdasarkan pendekatan ekonomi sirkular (circular economy).

5. Kontribusi organisasi bisnis (perusahaan atau asosiasi) dalam  mengelola isu   limbah  plastik  dan mikroplastik di Indonesia.

Hasil dari diskusi ini akan menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan, terutama pemerintah untuk mengambil kebijakan yang pro pengelolaan sampah plastik dan mendukung produk-produk yang aman bagi lingkungan sekaligus berdaya ekonomi dan sosial.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]