× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Menangguk Rupiah Melalui Sedotan Bambu

By Redaksi

Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik tahun 2016 menyebutkan sampah plastik Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sekitar 5% dari jumlah tersebut, atau sekitar 3,2 juta ton sampah dibuang ke laut. Banyak pihak yang mneyebutkan Indonesia telah berada dalam kondisi darurat plastik. Berbagai gerakan lantas bermunculan, semata bentuk keprihatinan sekaligus upaya untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kegiatan sehari-hari.

Salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan berserak adalah sedotan plastik. Sebuah video pernah beredar viral, menunjukkan seekor penyu dengan hidung tersumbat sedotan plastik. Tim peneliti asal Texas berusaha menolong penyu yang ditemukan di wilayah Costa Rica tersebut. Tak kurang Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti menyerukan dalam twitternya, “Stop penggunaan sedotan plastik. Menjadi sampah di laut dan menyakitkan kesayangan kita.” Restoran cepat saji, McDonald’s Indonesia meluncurkan gerakan #MulaiTanpaSedotan dan mulai meniadakan dispender sedotan plastik di gerainya. Tagar-tagar lain yang ramai di media sosial antara lain #NoStrawMovement #StrawSuck #TheLastStraw dan masih banyak yang lainnya.

Lalu, tanpa sedotan plastik, adakah pengganti untuk fungsi tersebut? Adalah Yumna Batubara dan Muhammad Dicky Rifaldi yang melihat kondisi tersebut sebagai potensi bisnis. Kedua orang ini membuka usaha sedotan bambu dengan omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Yumna Batubara telah menggeluti usaha sedotan bambu jauh-jauh hari, yakni sejak 2015, sebelum isu penolakan sedotan plastik kencang diserukan. Awalnya Yuma memulai usaha dengan modal Rp 10 juta. Harga yang dipatok sangat terjangkau dengan dengan rentang Rp 2.000 per unit, dengan ukuran diameter 8 sampai 12 milimeter. Dalam sebulan, Yumna bisa memproduksi 30.000 sedotan. Kini, perempuan berusia 21 tahun ini mengaku bisa menghimpun omzet Rp 100 juta per bulan.

Tak beda halnya dengan pengalaman Muhammad Dicky Rifaldi. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia ini menggeluti usaha sedotan bambu sejak 17 Januari 2019. Seperti dikutip Kontan.co.id, Dicky mengaku awalnya ia ingin terlibat untuk mendapatkan solusi mengurangi sampah plastik. “Bambu merupakan sumber daya alam yang cukup melimpah dan bisa diperbarui kembali,” ungkap Dicky. Selain itu, selain bisa menjadi produk kekinian, sedotan bambu dapat digunakan berkali pakai dan bisa terurai.

Dicky memulai usahanya dengan modal Rp 300.000. Dengan ukuran sedotan 20-22 sentimeter, Dicky mematok harga Rp 500 sampai Rp 800 per unit. Kini Dicky berhasil meraup omzet Rp 2,5 juta hingga Rp 5,5 juta per bulan. Sedangkan produksinya mencapai 4.000-5.000 sedotan bambu per bulan. Saat ini bambu yang digunakan adalah jenis bambu tamian umur 3-5 tahun. Ke depannya, Dicky berencana membuat produk diferensiasi berbahan bambu lain.

(Foto: Kompas)

Keywords:

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]