× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Membumikan Sirkular Ekonomi di SCG SD Symposium Indonesia 2020

By Redaksi
SCG SD Symposium Indonesia 2020 (kiri – kanan) Desi Anwar; Vichan Tangkengsirisin, President Director of Dow Indonesia; Dr. Ir. Safri Burhanuddin, Deputy Minister IV of Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment; Pathama Sirikul, President Director of PT SCG Indonesia; Akbar Ghifari, Niracle Team. Foto : Istimewa

Istilah sirkular ekonomi dalam tiga – dua tahun belakangan ini cukup populer di sebagian kalangan masyarakat. Konsep sirkular ekonomi sebenarnya tindak lanjut dari prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (produk) yang merupakan bagian dari konsep pembangunan berkelanjutan.

Ekonomi sirkular merupakan sistem industri yang bersifat restoratif dan regeneratif dengan suatu desain. Pada praktiknya, sirkular ekonomi mulai diadopsi oleh berbagai sektor mulai dari pemerintah, swasta, hingga konsumen. Tujuannya untuk mengurangi dampak limbah yang membahayakan ekosistem dengan memanfaatkan kembali produk yang telah terpakai.

Dalam konteks bisnis, konsep sirkular ekonomi salah satunya diwujudkan dengan mendesain produk agar lebih tahan lama (durable) serta berasal dari bahan daur ulang. Hal ini pun dilakukan oleh perushaan terkemuka asal Thailand, SCG. Untuk pertama kalinya, SCG mengadakan symposium terkait sirkular ekonomi di Indonesia yang bertajuk, “Circular Economy : Collaboration for Action”. Acara Symposium yang digelar Kamis (20/2/2020) di Ritz Carlton, Jakarta, mengundang berbagai pemangku kepentingan untuk sama-sama bersinergi melakukan aksi permasalahan limbah dan keterbatasan sumberdaya alam melalui pendekatan ekonomi.

Selain menghadirkan perwakilan perusahaan dan pejabat pemerintah Indonesia, forum pun mengundang para pemimpin, pemerhati, praktisi, dan pelaku sirkular ekonomi untuk berbagi pengalaman. Dalam sambutannya, Presiden sekaligus CEO SCG, Roongrote Rangsiyopash mengatakan, pihaknya percaya bahwa ekonomi sirkular memegang peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang mencakup ekonomi, sosial dan lingkungan.

“Namun hal yang paling penting dan lebih krusial adalah kolaborasi. Kami ingin mendorong kolaborasi dari semua pemangku kepentingan yang diperlukan dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular. Sebagai negara dengan populasi terbesar di ASEAN dan merupakan salah satu negara terkuat dari sisi ekonomi, posisi Indonesia sangat strategis untuk menjadi negara pendorong praktek ekonomi sirkular, tidak hanya di level regional, namun juga dunia,” tegas Roongrote.

Saat ini, pertumbuhan populasi secara pesat dan pergeseran gaya hidup individu telah menimbulkan resiko baru dalam kelangkaan bahan baku. Selain itu, polusi yang dihasilkan dari proses produksi dan konsumsi manusia juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pemerintah Indonesia juga telah menyadari pentingnya implementasi ekonomi sirkular demi terwujudnya kehidupan dan perkembangan berkelanjutan. Misalnya dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia yang semakin berkembang dan membutuhkan solusi untuk diatasi secara bersama. Salah satu pendekatan pengelolaan sampah nasional adalah pendekatan ekonomi sirkular dengan konsep yang didasarkan pada prinsip pemanfaatan kembali untuk memaksimalkan nilai ekonomi dari barang-barang sisa konsumsi. Konsep dari ekonomi sirkular merupakan bentuk respon dari aspirasi untuk mewujudukan pembangunan berkelanjutan dalam konteks besarnya tekanan produksi dan konsumsi terhadap sumber daya alam dan lingkungan.

Safri Burhanuddin, Deputi IV dari Kementerian Koorinasi Kemaritiman dan Investasi, dalam diskusi di sela acara menegaskan, perlu adanya keteladanan yang dilakukan, termasuk dari pemerintah. Pemerintah, menurutnya, sudah melakukan upaya reduce terhadap sumber daya yang ada. Mulai dari pemakaian kertas yang diminimalisasi, dan juga penggunaan tumbler di lingkungan kerja.

Salah satu momen menarik di acara tersebut adalah sepak terjang mahasiswa bernama Akbar Ghifari. Melalui lembaga Niracle yang dirintisnya bersama rekan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Akbar mensolusikan permasalahan sampah kain sisa produksi di Desa Padasuka, Soreang, Kabupaten Bandung. Masyarakat di kawasan tersebut mayoritas (70%) mata pencahariannya pengusaha konveksi rumahan. Kegiatan usaha ini meninggalkan dampak limbah sisa kain yang tak sedikit.

Menurut Akbar, lebih dari 2 ton limbah sisa kain dihasilkan setiap hari dari kegiatan usaha tersebut. Yang terjadi kemudian, limbah kain mencemari lahan di sana. Warga kebingungan tak jarang membakar limbah kain yang justru mengancam kesehatan keluarganya sendiri. Melihat hal ini, Akbar, yang juga penerima sponsorship dari SCG, mengajak warga untuk memanfaatkan limbah kain menjadi produk baru. Produk yang dihasilkan seperti bunga dari kain, totte bag, dompet (purse), yang didesain secara menarik sehingga mendatangkan nilai ekonomis bagi warga yang mau terlibat.

Niracle merupakan proyek ekonomi sirkular yang didukung SCG. Selain itu SCG pun ke depannya akan melakukan beragam program yang mirip. Diantaranya, rumah ikan (dari pipa kreasi SCG) di Nusa Penida, Bali, lalu Reinvented Toilet, yang sudah sukses diterapkan di Thailand termasuk mendukung pembuatan aspal campuran plastik dari limbah.

SCG pada praktiknya menggabungkan Ekonomi Sirkular melalui 3 strategi kegiatan bisnis:

  • Mengurangi penggunaan bahan baku dan mempertahankan daya tahan, seperti: Green Carton, yang membutuhkan 25% bahan baku lebih sedikit tetapi tetap memiliki daya tahan yang sama;
  • Mengembangkan inovasi untuk menggantikan produk atau bahan baku yang sudah ada dengan yang baru dengan strategi Upgrade and Replace, seperti: Semen SCG Hybrid yang menggunakan bahan baku unggul daripada semen tradisional untuk meningkatkan kekuatandan daya tahan struktural.
  • Penggunaan kembali dan Daur Ulang (Reuse and Recycle), seperti: CIERRA™, bahan fungsional yang menawarkan bahan tunggal dengan beragam aplikasi untuk menggantikan penggunaan banyak bahan, memungkinkan daur ulang yang lebih baik.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]