× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Membedah Kualitas Sustainability Report Melalui Materiality Testing (2)

By Redaksi
Ilustrasi Penyusunan Laporan. Foto : Istimewsa/socialinvestment.id

MajalahCSR.id – Data ESG (Environmental, Economical, Social, dan Governance) merupakan data yang biasa dipakai dalam laporan keberlanjutan perusahaan untuk menunjukkan sejauh mana mereka telah memastikan kinerja keberlanjutannya dalam aspek tadi.

Data-data ESG tersebut saat ini sudah menjadi perhatian berbagai pihak yaitu investor. Investor memang membutuhkan data-data tersebut dalam menentukan keputusannya untuk berinvestasi. Sehingga tak heran, lembaga pemberi rating dunia seperti Morgan Stanley Capital Index, Dow Jones Sustainability Index, merilis rating atau peringkat perusahaan di dunia berdasarkan kinerja keberlanjutannya.

Salah satu cara yang digunakan lembaga-lembaga tersebut dalam menilai kinerja sustainability perusahaan adalah mengetahui informasi yang beredar di publik tentang perusahaan. Informasi yang ada di publik inilah yang merupakan bagian dari sustainability reporting.   

Dengan demikian, sustainability reporting harus digarap secara serius, dalam arti bisa memberikan gambaran yang tidak sekedar angka ESG. Karena angka hanya figur kuantitatif tak berarti apa-apa tanpa ada paparan bisnis perusahaan yang kontekstual. Harus ada penjelasan kenapa angka tersebut keluar, dan kenapa data angka tersebut penting untuk diketahui publik.

“Apalagi, tak jarang dua buah bisnis dalam sektor yang sama, memiliki karakteristik bisnis yang berbeda, karena lokasi yang berbeda, dan juga yang terpenting adalah pemangku kepentingan, orang-orang, atau mitra kerja yang menjadi bagian perusahaan, tentu berbeda,” ungkap Henri Yulius Wijaya, Country Program Manager Global Reporting Initiative (GRI) Indonesia. Oleh karena itu, penyusunan laporan pun tidak bisa dengan sekedar mencontoh yang lain atau generik.

GRI dalam hal ini memiliki contoh 34 kriteria standard dalam konteks ESG yang terbagi atas GRI 200 (economic), GRI 300 (environmental), dan GRI 400 (Social). Perusahaan atau lembaga bisa memilih salah satu standard yang relevan dan sesuai dengan konteks bisnisnya dan menjawab kebutuhan dari para stake holdernya.

Bagaimana kita bisa memilih standar yang relevan. Selain memilih standar yang relevan, perusahaan juga bisa menjelaskan alasannya, justifikasinya, dan konteksnya yang memiliki “makna” atas pilihan standard tersebut. Ketika bisa menjelaskan konteksnya yang bermakna, maka perusahaan bisa memperlihatkan dampak yang juga bermakna. Sebagai contoh saat perusahaan  mengatakan listrik penting untuk operasional, maka perusahaan bisa menjelaskan dampak apa yang berhasil dicapai dengan melakukan penghematan listrik.

“Dalam menggambarkan dampak  bisa dikaitkan dengan konteks lokalnya. Misalnya perusahaan yang melaksanakan program beasiswa di suatu wilayah. Alasannya, karena di sana banyak anak-anak yang mengalami putus sekolah sehingga sulit mengakses lapangan kerja,” terang Henri.  Dengan demikian, program beasiswa perusahaan bisa menjawab tantangan di lapangan. Saat menggambarkan dampaknya, saat anak-anak lulus sekolah, mereka ditarik bekerja di perusahaan. Untuk memahami kebutuhan di lapangan, perlu dilakukan analisis kontekstual lapangan.

Analisis kontekstual di lapangan bisa dilakukan dengan du acara, yaitu: melibatkan internal stakeholder (employes, manager, owner), dan external stakeholder (suppliers, society, government, creditors, shareholders, customers). Di dalam setiap laporan keberlanjutan terdapat tabel pemetaan pemangku kepentingan (stakeholders).

“Dalam tabel tersebut setiap stakeholders terlihat punya harapan apa, punya kepentingan apa, punya kebutuhan apa yang diharapkan perusahaan bisa membantu mengatasi masalah atau harapan mereka,” lanjut Henri. Sehingga apa yang dilakukan melalui program sudah melalui analisis yang careful, cautious, dan meaningful pada pemangku kepentingan perusahaan.

“Setelah melakukan pemetaan dari apa yang diharapkan pemangku kepentingan, dilanjutkan dengan prioritisasi. Dalam GRI standard prioritisasi disebut materiality analysis,” imbuh Henri. Intinya bagaimana kita memprioritisasi isu mana yang akan dibahas lebih dulu, dan mana yang kira-kira belum menjadi prioritas untuk saat ini.

Secara garis besar ada 4 langkah yang bisa dilakukan sehubungan dengan materiality issue, yaitu langkah satu adalah identifikasi, langkah kedua prioritas, langkah ketiga validasi, dan langkah terakhir atau keempat adalah review.

Lebih lanjut, Henri menekankan selain analisis materialitas, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

  • Ada/tidak di POJK 51/2017
  • Relevansi terhadap sektor usaha
  • Kesesuaian dengan perusahaan sejawat
  • Keberadaan data
  • Persetujuan dari Dewan Direksi

Sementara itu, untuk bahan pertimbangan analisis materialitas, maka yang diperhatikan, adalah:

  • Pemahaman tentang konteks ekonomi, sosial, dan lingkungan terkait perusahaan yang akan melapor
  • Pemahaman atas regulasi spesifik terhadap industri perusahaan
  • Memetakan & mendengarkan pemangku kepentingan sepanjang tahun periode pelaporan
  • Menjembatani konteks global dan lokal dalam proses penentuan materialitas dan data
  • Pemahaman historis dan kontekstual terhadap perubahan industry dan perusahaan itu sendiri
  • Pemanfaatan GRI 103: Pendekatan Manajemen sebagai medium untuk menceritakan konteks perusahaan

Seperti diketahui, profesi assessor dan penulis sustainability report makin diperlukan di dunia usaha dan lembaga nirlaba, di mana kesempatan untuk mengembangkan profesi sangat terbuka di masa depan. SR ASIA membuka kesempatan kepada semua pihak untuk bergabung dengan program SR Asia Global Certification Program untuk mereka yang ingin berkecimpung dalam praktik penulisan sustainability report. Untul lebih jelasnya, klik http://srasia-great.com/certified/program#47.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]