× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Membedah Kualitas Sustainability Report Melalui Materiality Testing (1)

By Redaksi
Ilustrasi Perusahaan Berkelanjutan. Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Pemerintah melalui lembaga Otoritas Jasa Keuangan sudah menetapkan bahwa laporan keberlanjutan perusahaan (terutama yang sudah go public) adalah wajib untuk disampaikan, untuk melengkapi laporan tahunan atau annual report. Ketentuan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No 51 /POJK.03/2017. Lembaga Jasa Keuangan, Emiten dan Perusahaan Publik adalah lembaga yang wajib menyampaikan laporan ini.

Menurut data dari SR Asia, pada 2020, terdapat 715 perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Dari jumlah tersebut, hanya 90 perusahaan yang benar-benar memiliki sustainability report yang terpisah dari annual report. Bahkan dari 90 perusahaan tadi, hanya 19 perusahaan yang penyusunan laporannya memiliki assessment. Dengan kata lain, 71 perusahan lain, belum bisa dipastikan sustainability reportnya sudah benar secara standard acuan.

“Banyak laporan berkelanjutan yang topiknya harus dipertajam. Yang paling penting dari laporan keberlanjutan adalah, bagaimana laporan tersebut  bisa menggambarkan konteks keberlanjutan perusahaan yang melaporkan,” jelas Semerdanta Pusaka, Indonesia Country Director SR Asia. Laporan yang disusun sebaiknya tidak melebar kemana-mana, fokus pada isu apa yang akan dilaporkan, imbuh Semerdanta.

Mengacu pada standard GRI, ada 6 hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan keberlanjutan, yaitu : balance, clarity, accuracy, timeliness, comparability, dan reliability. “Berbicara soal laporan yang bagus, tentunya harus mengacu pada prinsip-prinsip pelaporan. Menurut GRI, prinsip pelaporan itu harus sesuai dengan material isinya (materiality), sesuai dengan konteks keberlanjutan (sustainability context),    stakeholder inclusiveness, dan completeness,” lanjut Semerdanta.

Semerdanta memaparkan, sebuah laporan yang dinilai baik itu mencakup poin:

  • Menjelaskan konteks sustainability/keberlanjutan
  • Menjelaskan nilai yang diciptakan (value creation/khusus bagi integrated reports).
  • Fokus pada spesifik permasalahan isu dan dampak
  • Melingkupi pemangku kepentingan (cover key stakeholder)
  • Menjelaskan kepedulian/kepentingan pemangku kepentingan
  • Mengungkapkan pendekatan manajemen
  • Menjelaskan kinerja keberlanjutan
  • Menampilkan data dan informasi yang terpercaya
  • Mudah dibaca dan dipahami

Terkait framework atau kerangka kerja, dalam hal topik material laporan apapun, terdapat 2, yaitu apakah material topik itu terkait dampak perusahaan terhadap pemangku kepentingan (stakeholder), organisasi, dan lingkungan, atau terkait dengan “concern” stakeholder? “Yang berbicara tentang topik material itu stakeholder yang mana?” tegas Semerdanta mengingatkan.

“Misalnya perusahaan membahas tentang topik material ‘gender equality’, stakeholder mana yang berbicara soal gender equality? Apakah ada isu di dalam perusahaan terkait gender equality? Kenapa topik material ini harus dilaporkan?” terangnya.

Dalam kerangka yang lebih luas, terdapat konteks keberlanjutan industri dan organisasi. “Karena bisa jadi dua organisasi yang sama dalam satu industri, topik materialnya belum tentu sama persis,” imbuh Semerdanta. Pembasahan topik materialnya bisa berbeda tergantung konteks isu keberlanjutan di wilayah perusahaan masing-masing.

Pemilihan topik material pun disebut Semerdanta harus hati-hati. Setelah topik material didapat, maka proses selanjutnya adalah pendekatan manajemen terhadap isu keberlanjutan dalam topik material.

Sementara itu, pendekatan laporan terkait topik material ada 3 yaitu materiality assessment, predefined materiality (setiap pelaporan organisasi harus mengikuti indikator yang relevan dan siginifikan terhadap konteks keberlanjutan dalam sektor industri masing-masing yang spesifik dalam standard dokumen  seperti SASB), dan compliance (setiap pelaporan oleh organisasi harus mengikuti peraturan negara masing-masing yang berlaku, contohnya POJK 51/2017 di Indonesia).

Dalam hal materiality assessment, perusahaan harus bisa menjelaskan sendiri terkait topik material, jika memakai standard GRI maka harus dijelaskan dengan standard tersebut, demikian pula dengan standard lain seperti IPIECA, IIRF, dan lainnya.

“Harus dipahami bahwa laporan keberlanjutan tidak bisa sembarangan memilih, misalnya perusahaan ingin isu gender yang naik, atau perusahaan punya data energi, topik material energi masuk. Bukan soal ada atau tidak ada data, bukan soal keinginan perusahaan, bukan soal karena sedang tren,  melainkan yang paling penting adalah bagaimana laporan bisa menjelaskan isu keberlanjutan perusahaan,” ujar Semerdanta menekankan.

Semerdanta juga mengungkapkan, perihal jumlah topik material dari laporan, kurang dari 6 topik material yang dibahas itu masih bagus. Lalu, 6 – 8 topik material yang diungkap itu sempurna, dan 10 topik material yang dipapaprkan dalam laporan adalah angka maksimal. “Hal ini mengacu pada SASB, di mana setiap sektor industri, paling maksimal 10 – 12 indikator topik material.” SASBI dalam menentukan standard jumlah tersebut, lanjut Semerdanta, melibatkan masukan dari stakeholder, investor, pakar, LSM, dan lainnya.

“Jangan terjebak pada banyak topik material,” kata Semerdanta menginngatkan. Jika topik material banyak, padahal konsekuensinya harus diperinci dengan menjelaskan pendekatan manajemen secara detail dari masing-masing topik tersebut (mengacu GRI), sehingga laporan kurang efisien.  Semerdanta menyarankan terkait topik material tersebut tidak lebih dari 10 sehingga bisa maksimal dalam setiap penjelasan yang dilakukan.

Dalam standard GRI, topik material memiliki dua poros. Poros pertama yaitu influence on stakeholder assessment and decisions (apa masalah yang jadi isu di stakeholder, contohnya isu perubahan iklim dalam sektor industri keuangan karena banyak tekanan dari investor), lalu poros kedua adalah significant of economic, environment, and social impact (apa dampak terhadap stakeholder dan lingkungan?).

Bagaimana menentukan topik material?  Semerdanta menyebut bisa dari diskusi internal, diskusi dari lintas manajemen, internal dan eksternak diskusi dengan stakeholders, upaya berbagai pendekatan (metode work breakdown structure, gathering supplier atau vendor perusahaan, media gathering, media monitoring, pertemuan dan diskusi dengan stakeholders, rapat umum tahunan pemegang saham, bahkan mekanisme keluhan), riset atau studi, dan pemakaian referensi (SASB Materiality Map, Industry Roadmap, dan Strategi Pemerintah).

Semerdanta mengungkapkan hal itu tersebut dalam diskusi webinar “Materiality Testing, as a Foundation to Define The Quality of Sustainability Report”, yang diselenggarakan SR Asia bekerja sama dengan Universitas Katolik Atmadjaya dan juga GRI, pada Kamis (8/4/2021).

Seperti diketahui, profesi assessor dan penulis sustainability report makin diperlukan di dunia usaha dan lembaga nirlaba, di mana kesempatan untuk mengembangkan profesi sangat terbuka di masa depan. SR ASIA membuka kesempatan kepada semua pihak untuk bergabung dengan program SR Asia Global Certification Program untuk mereka yang ingin berkecimpung dalam praktik penulisan sustainability report. Untul lebih jelasnya, klik http://srasia-great.com/certified/program#47.

 

Bersambung

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]