× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Memahami Bisnis Bertanggung Jawab dan Lebih Terbuka di ASEAN

By Redaksi

Bisnis sebagai bagian dari ekosistem manusia mau tak mau harus mengintengrasikan diri pada keberlangsungan lingkungan. Berbeda dengan pola bisnis era sekarang (era 4.0), bisnis jaman dulu hanya berorientasi pada profit perusahaan dengan memanfaatkan sumberdaya sebesar-besarnya.

Namun jaman sudah berubah, dengan terbatasnya sumberdaya dan juga segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan, maka arah perusahaan kini lebih mengedepankan sustainability atau green business (yang lebih mengedepankan kelestarian sumberdaya). Caranya dengan meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan sebagai akibat operasional perusahaan dan apapun yang terkait didalamnya.

ASEAN Business Advisory Council (Dewan Penasehat Bisnis ASEAN – ASEAN BAC) lembaga yang berada di bawah kesekretariatan ASEAN merilis sebuah publikasi yang berjudul “The Voice of Business in ASEAN : Awarness and Inclusive Business Policies – A Pilot Study”. Publikasi pertama ini adalah hasil dari studi kajian terhadap berbagai perusahaan yang berlokasi di Asia Tenggara. Tujuan dari publikasi ini untuk membantu memahami pengertian dari bisnis bertanggung jawab dan kebijakan manajemen perusahaan yang lebih terbuka. Dalam penyusunannya ASEAN BAC melakukan kerjasama dengan ASEAN CSR Network.

Studi yang dilakukan pun berfokus pada : 1) Awarness, 2) Kondisi kerangka kerja perundang-undangan, 3) Partnership dan kerjasama, 4) Mekanisme pendukung kapasitas, 5) Akses pasar,  6) Akses keuangan/finansial/permodalan, dan 7) integritas bisnis.

Adapun pengambilan data dilakukan dengan cara forum group discussion (FGD), wawancara, dan sejulah pertanyaan melalui mekanisme online. Metode-metode di atas tentu saja tidak berarti seratus persen mewakili seluruh perusahaan yang ada di ASEAN. Fokusnya bukan pada soal terminologi, melainkan bagian dari cara memahami tanggung jawab dan keterbukaan dengan memahami maknanya yang paling bersinggungan.

Dari hasil studi tersebut didapatkan:

  • Lebih kurang 75 % dari perusahaan yang diwawancara mengaku bahwa mereka terlibat dalam aktivitas bisnis yang bertanggungjawab yang juga bisa berpengaruh pada aspek sosial dan lingkungan. Mengenai aspek pengukurannya perlu dipikirkan lebih lanjut.

 

  • Dunia bisnis umumnya memahami konsep Corporate Social Responsibilities (CSR) dan sedikit tentang tanggung jawab mengurus perusahaan (Responsible Business Conduct) dan bisnis yang terbuka (Inclusive Business). Namun yang menjadi catatan adalah perbedaan antara keduanya maupun dengan konsep lainnya belum begitu jelas. Perlu adanya klarifikasi lebih lanjut dan penting untuk dilakukan.

 

  • Kebanyakan dari AMS (?) punya beberapa elemen kerangka kebijakan masing-masing mejadikan bisnis mereka lebih bertanggung jawab dan terbuka di tingkat nasional. Bagaimanapun, tantangan terbesar dari bisnis adalah bagaimana penerapan dari kebijakan tersebut. Dunia bisnis berharap pembuat kebijakan benar-benar memberikan dukungan perangkat yang konkrit bisnis dan yang bertanggungjawab dan terbuka.

 

  • Perusahaan berskala mikro, kecil dan menengah (UMKM) adalah pihak yang paling sulit mengakses pasar dan bertanggung jawab terhadap pinjaman permodalan serta melakukan aktivitas bisnis yang terbuka. Namun studi terhadap mereka tetap diperlukan untuk mengetahui dampak dari studi ini di level bisnis akar rumput. Melalui pengembangan program yang menghubungkan bisnis berkala besar dengan UMKM, seperti program belajar atau peningkatan kemampuan antar mereka secara langsung, dapat menjadikan UMKM lebih kompetitif, makin menumbuh, membantu terintegrasi dengan Global Value Chains (GVC) dan menjadikan mereka lebih mengglobal.

 

  • Memperkuat inisiatif lain pemerintah memajukan kepekaan pada mekanisme dukungan kemampuan yang ada sebagai bagian dari bisnis yang bertanggung jawab dan terbuka akan meningkatkan kemampuan terhadap penyusunan mekanisme, mendorong inovasi dan memperbaiki kualitas dari operasional bisnis dalam konteks dampak terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan.

 

  • Digitalisasi termasuk e-commerce adalah salah satu cara untuk menghubungkan usaha bisnis antar wilayah terutama pebisnis kecil pada pasar domestik dan “Global Value Chains”. Namun bagaimanapun agar pebisnis yakin mendapat keuntungan dari hal tersebut, harus dibandingkan dari ketersediaan infrastruktur dan pelayanan logistik yang sesuai kemampuan masing-masing perusahaan.

 

  • Pemerintah diharapkan turut berperan. Disamping mempromosikan peningkatan kepekaan dukungan mekanisme kapasitas/kemampuan yang ada, pemerintah pun hendaknya dilibatkan dalam penyesuaian sistem kepentingan bisnis yang terbuka dan bertanggungjawab mendapatkan perlakuan yang istimewa saat berhadapan dengan kepentingan publik seperti mengkampanyekan ekosistem yang berdampak pada investasi.

 

Studi yang dilakukan memang belum seratus persen komprehesif, namun setidaknya sudah didapat gembaran mengenai kondisi bisnis di ASEAN terutama yang terkait dengan “Awarness of Responsible and Inclusive Business Policies”.

(Disarikan dari Publikasi “The Voice of Business in ASEAN : Awareness of Responsible and Inclusive Business Policies – a pilot study)

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]