× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Meluruskan Tradisi Mendukung Kearifan*

By Redaksi

Indonesia sungguh kaya dengan ragam budaya. Pada 2018 kemarin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan 225 Warisan Budaya tak Benda di nusantara. Itu belum terhitung dari warisan budaya yang berupa benda. Namun, ternyata tidak selamanya budaya punya dampak yang positif.

Salah satunya tradisi melepas balon udara di sebagian masyarakat Pekalongan dan Wonosobo, Jawa Tengah. Setiap lebaran saban tahun, warga – terutama di Wonosobo – merayakannya dengan melepas balon gas ke udara. Sepintas budaya yang juga bertepatan dengan perayaan reliji ini sangat menarik. Beraneka ragam ukuran, warna, dan bentuk balon udara mengangkasa di atap langit.

Tapi di balik semua itu, balon udara ini jelas-jelas membahayakan. Seorang anak pernah dilaporkan tewas akibat tertimpa balon berikut tabung gas yang gagal terbang di Pekalongan. Balon juga mengganggu lalu lintas penerbangan. Sejumlah maskapai yang melintas di pesisir pantura, sering merasa terganggu, saat perayaan balon itu berlangsung. Balon bisa menabrak moncong pesawat yang jadi pusat sensor radar, dan lainnya. Yang paling berbahaya jika balon masuk ke dalam mesin pesawat. Memicu rusaknya mesin. Nyawa awak pesawat jadi taruhannya.

AirNav Indonesia sebagai operator keamanan dan keselamatan navigasi penerbangan pun turun tangan. Pada tahun 2017, terjadi 63 laporan kepada AirNav dari sejumlah maskapai terkait gangguan balon udara. Laporan tersebut terdiri dari 17 laporan gangguan balon di ketinggian 0 – 15.000 kaki. Delapan laporan pada ketinggian 15.000 – 25.000 kaki. Dua puluh laporan pada ketinggian lebih dari 25.000 kaki. Sisanya 18 laporan lainnya tidak menyertakan ketinggian balon udara. Jumlah 63 laporan itu meningkat drastis dari total 14 laporan di tahun 2016. Imbas dari tradisi balon udara ini mengganggu rute W45 yang tak lain rute Jakarta – Surabaya. Rute W45 juga seringkali dipakai jalur aviasi internasional.

Sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR), AirNav Indonesia mensosialisasikan bahaya dari tradisi ini. Namun, itu tak semudah membalik telapak tangan. Seperti yang disampaikan Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohannes Sirait, pihaknya berupaya mendekati warga. Memberi pengertian perihal bahaya yang ditimbulkan.

Segenap himbauan ternyata direspon bagai angin lalu. AirNav melakukan pendekatan lewat tokoh masyarakat setempat. “Kami pun melakukan pertemuan dengan pemuda setempat,” kata Yohanes. Sulitnya mengubah mindset warga setempat, pihak AirNav akhirnya menggelar Java Baloon Festival 2018 di Wonosobo maupun Pekalongan. Ujicoba pertama kali dilaksanakan di kota Wonosobo tanggal 19 Agustus 2017 lalu.

Setiap warga boleh berpartisipasi dalam acara ini. Namun, AirNav menetapkan persyaratan. Setiap balon peserta ada batasan ukurannya. Selain itu, yang berbeda bila balon biasanya dilepas ke udara, namun kali ini balon harus ditambatkan. Sehingga ketinggian balon yang dilepas tidak mengganggu jalur lintas udara. Awalnya warga setempat kurang merespon. Alasannya, menurut Yohanes, mereka kurang sreg dengan peraturan panitia yang berbeda dengan tradisi.

Namun, festival yang dilakukan 19 Juni 2018 di Wonosobo dan 20-21 Juni di Pekalongan sukses mendatangkan ribuan orang. Bagi peserta yang balonnya dinilai paling menarik, Java Traditional Baloon Festival memberikan reward atau hadiah. Tak hanya soal perlombaan balon, festival ini juga dimeriahkan oleh sejumlah perlombaan lain. Mulai dari lomba fotografi, festival kuliner lokal, festival UMKM, dan hiburan artis ibu kota.

“Suksesnya acara membuat warga menyadari bahaya tradisi melepas balon secara bebas,” kata Yohanes.  Yang paling penting mereka tertarik untuk berpartisipasi dalam festival. Penyelenggaraan di Wonosobo mampu menarik 104 tim dalam perlombaan. Sementara di Pekalongan 30 tim bersaing menjadi yang terbaik.

“Festival ini dinamakan Java Traditional Baloon Festival, bukan Wonosobo atau Pekalongan Baloon Festival. Kami berharap bisa menyelenggarakan festival sejenis di kota lain di Jawa, seperti hanya Java Jazz,” cetus Yohanes. “Bahkan kami berharap festival ini menarik animo wisatawan mancanegara untuk hadir di lokasi,” tutup Yohanes.

 

*Artikel ini bersumber dari ajang Public Relations Indonesia Award 2019 (PRIA 2019), 4 Maret 2019.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]