× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Melawan Sedotan Plastik

By Redaksi
Ilustrasi Sedotan Plastik. Foto : Shutterstock

Menggunakan produk ramah lingkungan sebenarnya “menyehatkan” dompet. Coba saja, beberapa produk yang re-useable tidak menjadikan kita membeli ulang produk yang dibutuhkan. Sedotan plastik adalah salah satunya. Eh, tahu tidak, pada 3 Januari lalu, dicatat sebagai hari “kelahiran”sedotan di era modern.

  1. Si alat bantu minum

Alat bantu minum berbentuk tabung kecil panjang ini punya sejarah panjang. Adalah bangsa Sumeria pada 3000 SM sudah mengenal sedotan. Istimewanya bangsa tersebut membuat sedotan dari bahan yang berwarna emas dan berlapiskan batu lazuli biru. Sedotan ini ditemukan di kawasan makam kuno Bangsa Sumeria Bentuknya pun sama, berupa tabung kecil panjang.

Seiring berkembangnya jaman, sedotan pun terbuat dari bahan yang lebih beragam. Pada jamanrevolusi industri, masyarakat Eropa membuat sedotan dari tangkai rumput gandum. Namun pemakaian sedotan ini mempengaruhi cita rasa minumannya. Rasa minuman tidak lagi seperti asli. Karena ada aroma rumput gandum yang turut tercampur ke dalam minuman.

Pada 3 Januari 1888, pria bernama Marvin Chester Stone mematenkan produk sedotannya. Mulai saat itu era sedotan “modern”pun dimulai dengan berbahan kertas. Agar tak dirembesi minuman, kertas sedotan biasanya dilapisi lilin. Tak hanya bahan baku, bentuk sedotan turut berinovasi. Salah satu inovasinya, sedotan yang bisa menekuk, agar tak perlu memiringkan wadah minuman. Sampai sekarang manfaat dari sedotan menekuk ini bisa dirasakan.

Sedotan plastik mulai dikenalkan pada dekade 1970an. Bahkan karena murah dan fleksibel, popularitas sedotan plastik melebihi bahan lain. Seperti pepatah ‘yang berlebihan itu tidak baik’, konsumsi yang massif menyebabkan limbah sedotan plastik mencemari lingkungan. Untuk menguranginya, lalu diperkenalkan sedotan yang bahannya lebih alami, mulai dari logam (stainless), bambu, hingga yang terbaru rumput laut.

Bahan-bahan tersebut bisa digunakan kembali dibanding sedotan plastik sekali pakai. Pada akhirnya, (meskipun awalnya lebih mahal) sedotan berbahan ini lebih ramah kantong, karena durable dan tak perlu terus membeli produk baru.

2. Perusahaan yang Melarang Penggunaan Sedotan

Untuk merealisasikan kebijakan tak lagi memakai sedotan plastik, sejumlah perusahaan makanan dan minuman dunia menghentikan pemakaiannya dalam produk mereka. Meskipun ukurannya kecil, namun volume yang massif membuat sedotan plastik bagian dari ancaman limbah lingkungan. Seperti dilansir dari CNBC, di bawah ini ada beberapa perusahaan sudah mendeklarasikan diri tak lagi bersentuhan dengan sedotan plastik sekali pakai.

  • Starbucks

Kedai kopi paling populer ini mulai 2020 melarang pemakaian sedotan plastik di seluruh gerainya tanpa kecuali. Selain sedotan plastik, 950 cabang Starbucks di Inggris bahkan mengutip biaya dari cangkir kertasnya. Hal ini untuk mendorong penggunaan tumbler pribadi atau wadah minum yang bisa dipakai berulang.

  • McDonald

Kali ini raksasa kedai makanan siap saji asal Amerika,  juga menarik penggunaan sedotan plastik. McDonald pada Juni 2018 merencanakan untuk tak lagi memakai sedotan plastik. Kebijakannya itu berlaku efektif mulai September di tahun tersebut dan pada 2019 dipastikan sudah resmi dterapkan di 1.361 gerainya di Inggris dan Irlandia. Meskipun  seluruh gerainya di seantero dunia belum memberlakukan, secara bertahap McDonald terus memperluas kebijakannya ini. McDonald kembali memakai sedotan kertas, yang sebenarnya bukan barang baru.

  • Norwegian Cruise Line Holdings

Perusahaan kapal pesiar ini terhitung Juli 2018 memutuskan tak lagi memakai sedotan plastik sekali pakai di 26 armada kapal pesiarnya. Menurut pihak manajemen, kebijakan mereka bisa menghentikan pemakaian 50 juta sedotan plastik sekali pakai per tahun di semua armadanya.  

Masalah sedotan plastik tak seenteng beratnya. Dari Ecowatch seperti yang ditulis tirto.id, diperkirakan sebanyak 500 juta sedotan plastik dibuang setiap harinya di seluruh dunia. Warga AS membuang 175 juta sedotan plastik sekali pakai dalam sehari. Sementara di Inggris, sebanyak 3,5 juta sedotan plastik per hari dihasilkan dari gerai McDonald saja. Sehingga di luar sana ada gerakan lingkungan yang namanya unik, Straw Wars. Gerakan lingkungan ini menghimbau para pemilik restoran untuk tidak lagi menyerahkan sedotan jika tak diminta pelanggan.

Membiasakan diri tak memakai atau mengurangi konsumsi sedotan plastik sekali pakai bukan hal mudah. Tapi jika kita sendiri tak memulai, siapa lagi? Karena pencemaran di daratan bahkan lautan oleh limbah plastik nyata terjadi dimana-mana.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]