× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Material Kulit Vegan/Buatan Berbahaya bagi Lingkungan?

By Redaksi
Ilustrasi produk sofa berbahan kulit. Foto : STEPH MUNDEN/Pexels

MajalahCSR.id – Terkadang mencoba memilih sesuatu yang terbaik buat kita malah jadi membingungkan.  Urusan diet misalnya, selalu saja ada dampak pro dan kontra. Hal yang sama juga terjadi pada produk kulit vegan/buatan. Apa yang terlihat bagus ternyata belum tentu baik bagi lingkungan atau kesehatan.

Mengutip Inhabitat, tren gaya hidup vegan terus mendapat tempat di masyarakat yang bertujuan menghindari konsumsi produk hewani. Praktik gaya vegan sangat menjauhi apapun yang berkandungan hewani, mulai dari produk kecantikan, busana, sampai alat rumah tangga. Alasannya juga sangat logis. Tidak hanya bisa terhindar dari tindakan menyakiti binatang, tapi industri peternakan juga salah satu biang kerok polutan yang memicu emisi karbon yang tinggi di planet ini.

Untuk alasan-alasan tersebut, konsumen peduli satwa dan bumi berperan membawa label-label vegan jadi lebih popular. Namun demikian, ada hal lain yang harus juga dipahami. Produk alternatif, dalam hal ini kulit buatan memang bisa mendatangkan “manfaat” bagi hewan, tetapi tidak selalu demikian pada bumi. Jadi, pertanyaan selanjutnya, apakah material ini benar-benar opsi yang paling berkelanjutan?

Mengapa bahan kulit itu buruk?

Material kulit tradisional biasanya datang dari jenis hewan tertentu. Proses ‘tanning’ yang menjadikan material kulit mentah jadi siap pakai untuk produk membutuhdibanding tas buatan atau imitasi  berton-ton air. Selain itu, limbah dari industri kulit ini juga berbahaya.

Apa itu kulit vegan/buatan?

Ini tidak seperti yang kita pikirkan. Kulit vegan buatan dibuat menghindari produk hewani. Hal ini bagus bagi keberlangsungan satwa berbulu.  

Namun demikian, hanya karena vegan, bukan berarti selalu berdampak ramah lingkungan. Faktanya, kulit buatan umumnya berasal dari material plastik berbasis minyak bumi, berbentuk kulit polymer, polyurethane (PU) atau polyvinyl chloride (PVC). Keduanya amat buruk dalam proses produksi, melepas zat toksin, dan mencemari air dan tanah saat tak lagi terpakai. Namun, satu sisi positifnya, dampak emisi dari kulit vegan buatan ini hanya sepertiga dari produk kulit tradisional atau berbasis hewani.  

Selain alternatif material yang buruk, kualitas kulit plastik jauh lebih rendah dari kulit asli. Maksudnya, bakal lebih cepat jadi limbah, dan lebih sulit terurai, merujuk pada dampak limbah konsep “fast fashion”.

Apa itu material kulit berbasis tanaman?

Ada opsi yang lebih layak dan berkelanjutan mengenai kulit buatan, terbuat dari kulit tanaman. Dibanding produk imitasi non kulit dari minyak bumi, kulit tanaman lebih alami. Termasuk yang berasal dari apel, jamur, jagung, mangga, nanas, dan kaktus. Material kulit tanaman pun bergantung pada limbah, yang artinya memanfaatkan bagian lain dari tanaman yang biasanya jadi sampah.  

Contoh konkritnya, Piñatex yang membuat serat dari daun mahkota nanas. Mereka memanfaatkan bagian lain tanaman nanas yang biasanya buahnya saja yang dikonsumsi. Tas mewah semacam produk Miomojo and shoes dari Sylven, New York, mengaplikasikan prinsip keberlanjutan dengan mendesain produk dari kulit apel.  

Edukasi diri dengan apa yang dibeli

Hal yang paling prinsipil untuk dilakukan adalah konsumen bisa mengedukasi dirinya tentang apa yang mereka beli. Praktik “greenwashing” sudah demikian “lumrah” dipakai di sejumlah perusahaan, sehingga  kita perlu cermat dalam pengambilan keputusan konsumen. Jika terbiasa dengan produk vegan, akan lebih mudah dalam mencarinya. Namun, perlu langkah lain guna memastikannya benar.   

Penting untuk mengetahui sumber material alternative, guna menjamin keselamatan lingkungan juga. Bisa dengan memperhatikan pernyataan keberlanjutan produsennya di website. Transparansi pegang peranan di sini. Meskipun tercantum kalimat “dari material tanaman” yang menejlaskan produk terbuat dari tanaman, namun boleh jadi mengandung polyurethane (PU) atau polyvinyl chloride (PVC) meskipun dalam komposisi berbeda.

Produk yang mempromosikan jargon “bisa terurai” (biodegradable) adalah pilihan terbaik. Produk dari material tanaman sebagai alternatif produk kulit cukup baik dalam konteks durabilitas, dan bakal terurai alami. Jadi, ada baiknya membaca kandungan material produk sebelum membeli.    

Membeli untuk pemakaian lama, bukan tren

Produk yang tahan lama merupakan investasi penting bagi bumi. Membeli dompet yang tahan 40 tahun lebih baik dari produk sejenis yang 20 kali lebih murah tapi gampang rusak dalam setahun atau dua tahun. Sehingga, jika ada mampu, berinvestasi lah pada kualitas produk. Saat bosan atau tak lagi terpakai, barang bisa didonasikan kepada yang memerlukan.  

Jika produk yang mementingkan kualitas ini tak terjangkau, bisa memanfaatkan produk barang-barang preloved/bekas yang masih layak pakai atau “hunting” di toko-toko berjenis “thrift” yang sekarang sedang tren.

Jadi apakah kulit tiruan berkelanjutan? Jawabannya tergantung. Tapi kini siapapun memahami konsekuensi opsinya saat memilih produk paling “eco-friendly” untuk sehari-hari.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]