× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Masukan IESR untuk Delegasi Pemerintah Indonesia di COP UNFCCC 25

By Redaksi
Ilustrasi Perubahan Iklim

Menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP UNFCCC yang ke 25 di Madrid pada 2-13 Desember 2019, IESR mengingatkan pemerintah Indonesia untuk menunjukkan komitmen dan political will dalam peningkatan aksi mitigasi perubahan iklim. Hal ini demi menjaga kenaikan suhu bumi pada 1,5°C. Komitmen ini diperlukan mengingat rencana kegiatan mitigasi yang saat ini ada di dalam NDC Indonesia, berpotensi meningkatkan kenaikan suhu bumi antara 3-4°C. Untuk dapat menjaga kenaikan suhu bumi pada 1,5°C, pemerintah harus merancang kegiatan mitigasi perubahan iklim dengan strategi pelaksanaan dan lokasi yang terperinci.

Asia-Pacific Climate Week di Bangkok pada September lalu menegaskan pentingnya transformasi global menuju perekonomian rendah karbon dalam upaya pembatasan kenaikan suhu bumi. Transformasi ini akan membangun perekonomian yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim. Lebih lanjut, UNFCCC melihat perekonomian rendah karbon merupakan solusi mengurangi dampak buruk perubahan iklim dan secara bersamaan meningkatkan pertumbuhan perekonomian.

Dampak dari perubahan iklim ini semakin terasa di Indonesia. Rekor temperatur terpanas dalam dua dekade terakhir sudah tercatat sebanyak 15 kali. Ini artinya selama 15 tahun dalam dua dekade terakhir mencetak rekor temperatur terpanas secara global. Sejak akhir abad ke 19, temperatur global sudah naik sebanyak 1°C. Angka ini akan meningkat jika kegiatan mitigasi yang cukup ambisius tidak dilakukan secara global. Dampaknya sudah terasa di Indonesia. Bencana alam seperti banjir, banjir bandang, longsor, kekeringan, cuaca dan gelombang ekstrim, abrasi, serta kebakaran lahan dan hutan sering terjadi. Indonesia berisiko terpapar potensi banjir 5X lipat jika kenaikan suhu mencapai 3°C dibandingkan 1,5°C.

Bahkan pada kenaikan 2,4°C jumlah siklon (badai) tropis kategori 4 akan meningkat 80% dan kategori 5 meningkat 120%. Sementara dampak lain perubahan iklim amat mempengaruhi kehidupan manusia di berbagai aspek. Gagal panen akibat kekeringan, nelayan sulit melaut akibat ancaman tingginya gelombang laut, bahkan timbulnya sakit jantung dan alergi adalah contohnya. Keterlambatan mengatasi perubahan iklim akan memberikan beban ekonomi yang lebih besar.

Mengingat dampak perubahan iklim yang semakin meluas, diharapkan Pemerintah Indonesia segera melakukan langkah nyata dalam peningkatan ambisi iklim Indonesia. Laporan IESR, Brown to Green Report 2019, yang diluncurkan 20 November lalu di Jakarta, merekomendasikan beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah Indonesia dalam adaptasi, mitigasi dan pembiayaan perubahan iklim demi menjaga kenaikan suhu bumi 1,5°C.

Secara khusus, rekomendasi untuk pemerintah Indonesia dalam melakukan pembiayaan iklim yaitu mengintegrasikan risiko perubahan iklim dalam sektor keuangan, menghapuskan subsidi bahan bakar fosil paling lambat pada 2025, menghentikan dana APBN untuk membiayai proyek bahan bakar fosil, serta harmonisasi informasi soal pembiayaan iklim dalam rencana pembangunan jangka panjang.

Dari laporan ini, disebutkan Indonesia mampu melakukan transformasi perekonomian menuju net-zero economy sesuai dengan salah satu target dari Paris Agreement. Beberapa langkah nyata yang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia untuk dapat meningkatkan ambisi iklim untuk mencapai 1,5°C, yaitu:

Menurunkan kontribusi dari PLTU dan meningkatkan kontribusi dari energi terbarukan hingga tiga kali lipat di sektor ketenagalistrikan pada 2030. Efisiensi energi dari penerangan dan peralatan rumah tangga mendesak dilakukan. Efisiensi ini dapat mengurangi beban puncak listrik sebesar 26,5 GW pada 2030. Tindakan lainnya, melakukan moratorium pembukaan hutan secara permanen (hutan primer dan sekunder), serta merestorasi gambut untuk menyelamatkan 66 juta ha hutan.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]