× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Masker Bekas Pakai Ternyata Bisa untuk Bahan Konstruksi Jalan Raya

By Redaksi
Ilustrasi Limbah Masker yang Dipakai untuk Konstruksi Jalan Raya. Foto : Photos: trekandshoot/iStock, Nodar Chernishev/iStock

MajalahCSR.id – Tak hanya berdampak buruk pada kesehatan, psikis, dan ekonomi, pandemi mennggalkan masalah lain, yaitu sampah. Ya, jutaan limbah masker sekali pakai kini menambah persoalan baru di tengah upaya penanggulangan masalah persampahan. Ancaman limbah ini tak kalah berbahaya dibanding plastik.

Tetapi, ada kabar baik untuk penanganan limbah masker ini. Merujuk studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Science of The Total Environment, masker bekas pakai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat aspal jalan raya sekaligus menjadi bahan campuran yang murah. Studi ini dilakukan sejumlah periset di RMIT University di Melbourne, Australia. Sebelumnya, mereka berupaya mencari cara menangani limbah masker.

Periset di universitas itu mengungkapkan, mereka sudah mengembangkan material baru yang bisa mencampurkan potongan masker bekas dengan konsentrat daur ulang. Menurut data, setidaknya terdapat 6,8 miliar masker bekas yang terbuang setiap harinya di dunia. Semua limbah ini bisa bermanfaat bila kembali digunakan untuk hal lain.

Sebelum ini, bahan daur ulang lain juga diketahui bisa dimanfaatkan untuk campuran aspal jalan. Mengutip Inhabitat dari Fast Company, Profesor Jie Lie yang merupakan kepala tim riset menerangkan, hasil dari eksperimen timnya menunjukkan cara memanfaatkan konsentrat daur ulang  yang dicampurkan dengan cacahan masker bekas pakai dapat memperkuat konstruksi jalan. Li mengatakan, masker yang dipakai bisa sampai menjajdi campuran 2 lapisan jalan.

Mengacu pada perkiraan, konstruksi jalan yang memiliki dua lajur sepanjang 1 kilometer, butuh 3 juta limbah masker atau setara 93 ton masker. Berkaca dari fakta ini, persoalan timbunan limbah masker yang mencemari lahan sedikitnya bisa tersolusikan.

Menambahkan limbah masker ke dalam konsentrat daur ulang ternyata dapat memperkuat kekuatan dan ketahanan, kelenturan, dan stabiitas konstruksi jalan. Oleh sebab dalam masker ada kandungan plastik yang sulit terurai, hal ini yang menyebabkan jalan bisa tahan lama. Jika dibandingkan dengan biaya membangun dan merawat jalan, penggunaan limbah masker jauh lebih murah.

Li mengungkapkan, material jalan yang terbuat dari bahan tambang butuh US$ 50 per ton. Sementara dengan konsentrat campuran bahan daur ulang hanya membutuhkan US$ 26. Meskipun ongkos untuk mendisinfeksi limbah masker juga tak murah, tetapi itu cukup bisa diterima.  

“Memanfaatkan limbah bekas dengan konsentrat daur ulang sebagai bahan alternatif, tak hanya mengurangi dampak limbah di masa pandemi, tapi juga menurunkan biaya konstruksi hingga 30%,” pungkas Li.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]