× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Masih Banyak Perusahaan yang Salah Kaprah Soal Sustainability Report (Bagian 3)

By Redaksi
Ilustrasi Keberlanjutan. Foto : Istimewa/Shutterstock

MajalahCSR.id – Sustainability report merupakan bentuk pelaporan yang terus berkembang. Bahkan, dalam ‘lanskap’ yang juga turut bergerak. Hal ini dikatakan Hendri Yulius Wijaya, Country Program Manager Indonesia, Global Initiative Report.

“Sustainability reporting merupakan sebuah lanskap besar dari arah dan prioritas sebuah perusahaan dalam relasi mereka terhadap isu keberrlanjutan. Mudahnya adalah strategi jangka panjang apa sih yang ingin dilakukan terkait isu keberlanjutan dan bisnis mereka sendiri,” terang Hendri.

Di sisi lain terdapat istilah ESG yaitu Economic, Social, dan Governance, yang definisinya merupakan tiga pilar untuk menyusun sustainability report. Dengan demikian, ESG akan berkaitan erat dengan performansi/kinerja, data lingkungan hidup, sosial, dan juga tata kelola yang akan mendukung strategi sustainability agar bisa berjalan dengan baik, serta dapat dibuktikan dengan perusahaan yang mampu mencapai sesuatu, demikian Hendri.

“Sebagai global reporting initiatives, kami bekerja untuk menciptakan standard pelaporan keberlanjutan, yang bisa diaplikasikan dalam skala internasional, compareable antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya, terlepas dari sektor bisnis dan asal negara perusahaan tersebut,” kata Hendri.

Hendri melanjutkan, saat pihaknya memberikan pelatihan, selalu menekankan pentingnya data dan kinerja sustainablity untuk diungkapkan. “Sehingga data sudah bukan lagi sebagai ‘thick box’, melainkan untuk mengukur sejauh mana kinerja selama ini yang sudah dicapai terkait ESG,” jelasnya.

Ketika perusahaan ingin mengetahui berada di mana mereka saat ini (dalam konteks program keberlanjutan), maka harus dipikirkan juga, apa yang ingin dicapai, sehingga tahu “baseline” perusahaan ada di mana. Saat sudah tahu ada di mana, maka akan lebih mudah mengembangkan, membayangkan, mengonseptualisasi arah yang hendak dituju. Termasuk didalamnya capaian selanjutnya yang akan diraih.

“Kenapa data itu penting? Karena untuk (ukuran dalam) memperbaiki kinerja,” tegas Hendri. Pemahaman atas posisi saat ini, kepemilikan strategi untuk perbaikan kinerja, dan capaian target yang konkrit, akan berdampak baik pada relasi dengan stakeholder dan investor. Sehingga, baik stakeholder dan investor memahami orientasi perusahaan akan kemana dan upaya yang bakal dilakukannya untuk mencapai arah tersebut.

Oleh karena itu, Hendri sekali lagi menegaskan, data ESG itu demikian penting, bukan sekedar “thick box”. Data dimaksud akan menginformasikan, membentuk strategi sustainability untuk jangka ke depan menjadi seperti apa dan targetnya bagaimana. Dengan kata lain, kita bisa melakukan perbaikan jika sudah ada ukuran (data).

“Data ESG ini sudah sering digunakan investor unutk melihat apakah perusahaan tersebut cocok atau tidak, visible atau tidak, bahkan sustainable atau tidak jika mereka berinvestasi,” cetus lulusan master kebijakan publik dari Lee Kwan Yew University, Singapura ini. ESG investing, ugkap Hendri, menjadi suatu tren yang tidak bisa terhindarkan.

Data ESG haruslah disusun secara serius karena terkait dengan reputasi perusahaan. Data ESG tersebut menjadi perhatian dalam penulisan sustainability report. Siapa saja yang memperhatikan data ESG ini? Diantaranya data aggregator, agensi analis dan rating, dan agensi data consumers. “Karena mereka akan melakukan analisis lebih jauh terhadap data yang ditampilkan dalam sustainability report,” kata Hendri mengingatkan, sehingga data yang sekedar copy and write akan sangat riskan.

Hendri mencontohkan, “mereka” tersebut diantaranya Morgan Stanley Capital Index, dan Dow Jones Sustainability Index yang melakukan peratingan peringkat sustainability perusahaan. Mereka menggunakan salah satunya dengan  informasi yang beredar di publik. Informasi tersebut ada dalam sustainability report perusahaan.

“Untuk memahami kepentingan ESG tadi maka perusahaan perlu melakukan penyelarasan antara laporan, data-data ESG, dengan standar-standar internasional yang berlaku, atau kerangka kerja (framework),” kata Hendri. Berbicara masalah ESG terdapat dua kategori yang perlu dipahami, sebut Hendri, yaitu framework dan standard. Lantas apa bedanya?

“Framework lebih pada prinsip, ‘guideline’ yang harus diikuti,” imbuh Hendri. Prinsip adalah filosofi yang dipegang. Contohnya, bisnis harus menghormati hak asasi manusia, bisnis harus berkontribusi pada kelestarian lingkungan. Inilah yang disebut prinsip, framework, atau filosofi.

Sementara standard adalah indikator yang sudah distandardisasi bagi perusahaan, contohnya perusahaan yang sudah menjalankan prinsip hak asasi manusia. Standard dalam hal ini memberikan bullet point atau data yang harus ditampilkan agar bisa menunjukkan perusahaan sudah menghormati hak asasi manusia yang dimaksud. Dalam kaitan ini, sebut Hendri, GRI sudah memiliki yang disebut standard tersebut.

GRI standard punya filosofi keberlanjutan yang diikuti proses standard untuk setiap isu keberlanjutan yang bisa dipenuhi oleh perusahaan. Dengan demikian perusahaan bisa mengatakan, perusahaan sudah melakukan kinerja dalam hal hak asasi manusia, lingkungan hidup, (pengurangan) emisi, dan lainnya.  

Pelaporan sustainability yang demikian banyak dimensi aturan standard, mulai dari konteks lokal seperti peraturan Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulasi nasional, lalu panduan dan sertifikasi (dalam kasus industri kelapa sawit seperti RSPO, ISPO, ISCC, dan ISO 26000), standard pelaporan (GRI, SASB), kerangka pelaporan (CDP),  peringkat internasional (Dow Jones Sustainability Indexes, Morgan Stanley Capital Indexes), dan komitmen internasional (SDGs), mengharuskan para copy writer, konsultan, advisor sustainability tidak lagi bisa sekedar menerapkan konsep “thick box” (sekedar laporan tebal).

“Lanskap standard yang demikian luas itu butuh keahlian strategis yang bisa mengharmonisasi semua standard yang ada,” papar Hendri. Sehingga dengan pemikiran yang strategis dan pelaporan yang memiliki “soul” perusahaan, bisa menjawab apa yang disyaratkan oleh berbagai macam standard,  sertifikasi, dan lainnya. Alhasil dibutuhkan pengetahuan dan skill yang disebut Hendri sebagai “just beyond”.

Materi ini disampaikan Hendri dalam acara webinar yang diselenggarakan SR Asia awal bulan ini dengan tema “The Future of Sutainability & Integrated Reporting Profesionals”. SR Asia yang berdiri sejak 2011 merupakan konsultan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial bagi perusahaan.

Salah satu layanan yang ditawarkan oleh SR Asia adalah jasa assurance terhadap laporan keberlanjutan dan laporan terintegrasi, serta pelatihan penulisan untuk laporan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dengan diluncurkannya sertifikasi SR Asia Global Certification Program.

 

  • Selesai 

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]