× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Masih Banyak Perusahaan yang Salah Kaprah Soal Sustainability Report (Bagian 2)

By Redaksi
Ilustrasi Keberlanjutan. Foto : linkedin.com

MajalahCSR.id – Ternyata masih banyak pihak yang belum paham dengan istilah Sustainability Report. “Kelirumologi (ketika) membuat sustainability report disama artikan dengan annualy report,” kata Juniati Gunawan, Direktur Trisakti Sustainability Center. Padahal, menurutnya, annual report sama sekali berbeda dengan sustainability report.

Juniati mengingatkan bahwa penulisan sustainability report bukanlah dengan gaya copy writer. Atau dengan kata lain, menyalin lalu menuliskan dengan data yang baru. “Dalam membuat integrated report atau sustainability report, penulis harus paham ‘principle basis’,” tegasnya. Yang dimaksud “principle basis”, penulis harus tahu jenis usaha (perusahaan yang menjadi obyek pelaporan), proses bisnis, risiko bisnis, dan topik penting (pelaporannya).

“Jadi tidak boleh contek-contekkan,” cetus Juniati mengingatkan. Hal ini karena setiap sustainability report berbeda esensinya. Jenis perusahaan boleh jadi sama, tetapi main menu masalah yang dilaporkannya pasti berbeda.

Kekeliruan lainnya, lanjut Juliani, mengganggap sustainability report adalah CSR report. “(Apalagi jika) CSR reportnya dimaknai hanya sebatas community development, hanya kegiatan-kegiatan berupa bantuan. Ini juga keliru,” koreksi Juniati.

Sustainability report disebutkan bukan nice to have atau sekedar punya untuk dilaporkan, dan agar tidak ditegur oleh regulator. “Dalam membuat sustainability report banyak yang harus diperbaiki, (seperti) sistem manajemennya, inisiatifnya, komitmen (perusahaan), agar laporan yang disampaikan punya manfaat,mana terdapat efisiensi, ‘awareness’, yang ujung-ujungnya tentu kita mempunyai bisnis yang sehat dan kuat, dan di saat bersamaan mampu mendukung keberlanjutan lingkungan dan masyarakat sekitar termasuk konteks sosialnya adalah karyawan di dalam perusahaan itu sendiri,” papar perempuan berkaca mata ini. 

Anggapan lebih baik menyusun laporan integrated report dibandingkan sustainability report juga, dinilai Juniati tak sepenuhnya benar. “Ini bukan masalah baik atau tidak, tapi sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Apakah perusahaan sudah siap masuk ke dalam penyampaian pelaporan integrated, karena terdapat value creation (penciptaan nilai) yang harus ditulis dan harus dikembangkan dan tidak bisa dibikin-bikin,” tegasnya. Kalau tidak ada kebijakan perusahaan, tidak ada strategi, tidak ada dokumentasi yang mendukung, pelaporan ini tidak bisa dilakukan.

Sustainability report juga dimaknai sebagai continues improvement atau perbaikan yang dilakukan secara terus menerus, bukan mengikuti siklus pembuatan laporan dan selesai. Tidak begitu diterbitkan pelaporan, sudah selesai dan menunggu tahun depan. Oleh karena dilakukan terus menerus, maka perlu didukung oleh data manajemen yang baik.

Juliani juga menyoroti kekeliruan lain yang biasa terjadi dalam penyusunan sustainability report. Diantaranya tidak ada kesinambungan antara awal laporan dan akhir laporan, hanya sekedar agar indikatornya terpenuhi. Dengan kata lain tidak terintegrasi dan tidak komprehensif. Materi yang disampaikan pun tidak jelas karena tidak dijelaskan bagian mana yang penting.

Pengambilan material yang penting perlu untuk dilakukan karena hal ini berkaitan dengan penjelasan pemangku kepentingan dalam laporan tersebut. “Siapa sih dan apa sih informasi yang dibutuhkan, itu harus digali dulu, bukan hanya disampaikan semua laporannya,” terang Juniati.

Terkait komitmen perusahaan dalam laporan juga perlu direalisasikan dalam program. “Sangat mudah untuk menuliskan kata komitmen dalam laporan, tapi begitu ditanya apa komitmen (yang dimaksud)? Apa bentuknya? Apakah sudah punya kebijakan terkait komitmen ini?” imbuhnya. Kebanyakan perusahaan menurut Juniati belum melakukan (komitmen kebijakan).

Kekeliruan lain dalam penulisan laporan adalah demikian banyaknya indikator. Hal ini biasanya dilakukan agar laporan yang ditulis terkesan tebal dan lengkap. Konsep penulisan sustainability report ditegaskan Juliani bukan soal tebal-tebalan. Selanjutnya penggunaan pemahaman “cocokologi” dengan sustainability development goal’s (SDGs). Hal ini bukan perkara cocok-cocokan.

“Ada proses yang harus diikuti. Mappingnya mana? Tujuannya mana? Cocok sama strategi (SDGs) apa nggak? Jadi bukan hanya nempel-nempelin,” lanjut Juniati.

Training atau pelatihan bagi penulis juga perlu dicermati. Mengikuti satu kali pelatihan bagi penulis, tidak serta merta langsung disebut kompeten. “Sertifikasi (bagi penulis) dibuat bukan untuk sekali mengikuti pelatihan langsung kompeten. Ada jangka waktunya, dan terus menerus (melakukan) improvement (bagi penulis).”

Pembuatan laporan keberlanjutan juga bukan berupa template atau sekedar tempel menempel. Melainkan, penulisan berupa perjalanan atau roadmap (peta jalan) program kebijakan perusahaan atau badan/lembaga menuju yang lebih baik. Bukan terus melakukan program, tapi akhirnya tidak kemana-mana.

Kenapa kesalahan-kesalahan itu terjadi? Menurut Juniati karena kurangnya dedikasi, tidak adanya tim khusus, kurangnya informasi tergali dari top management, kurang pemahaman tim penulis terhadap materi laporan, waktu penyusunan laporan yang mepet, persiapan yang kurang, edukasi yang dilakukan tidak berkesinambungan, tujuan pelaporan hanya untuk sekedar syarat memiliki pelaporan, dan kurangnya perbaikan yang terus menerus.

Juniati menggarisbawahi penulisan laporan keberlanjutan (sustainability report) harus benar-benar berkualitas. Karena laporan ini merupakan jendela perusahaan yang menjadi daya tarik investor perusahaan. Penulisan laporan yang menarik dan baik tentunya akan menarik investor yang menguntungkan bagi perusahaan.

Materi ini disampaikan Juniati dalam acara webinar yang diselenggarakan SR Asia awal bulan ini dengan tema “The Future of Sutainability & Integrated Reporting Profesionals”. SR Asia yang berdiri sejak 2011 merupakan konsultan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial bagi perusahaan.

Salah satu layanan yang ditawarkan oleh SR Asia adalah jasa assurance terhadap laporan keberlanjutan dan laporan terintegrasi, serta pelatihan penulisan untuk laporan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial dengan diluncurkannya sertifikasi SR Asia Global Certification Program.

 

  • Bersambung

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]