× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Maroon Mangrove Edu Park, Benteng Bandara dari Ancaman Abrasi

By SAM August Himmawan

Sudah pernah berwisata di hutan bakau atau mangrove? Kalau anda ke Semarang dan memiliki waktu luang, sempatkan mampir ke Maroon Mangrove Edu Park (MMEP). Sesuai dengan namanya, MMEP bukanlah sekedar hutan mangrove biasa, melainkan tempat wisata yang menyajikan pemandangan indah instagramable, sekaligus tempat pembibitan, penelitian, dan edukasi mangrove.

Dok. SAM August Himmawan

Lokasinya di belakang Bandara Ahmad Yani. Untuk mencapainya anda harus masuk ke komplek bandara, lalu belok kiri menyusuri jalan di pinggir pagar bandara. Jalannya cukup menantang alias off road, bahkan muncul kubangan kecil dan licin jika habis hujan. Tapi begitu melewati jalan sejauh 3km itu, anda akan menemukan tempat wisata yang tiada dua.

MMEP tadinya hanyalah penanaman mangrove sebagai bagian dari program CSR PT Phapros, untuk menangkal laju abrasi yang mengikis Pantai Maroon yang berbatasan dengan Bandara Ahmad Yani. Anda tahu, Kota Semarang selain mengalami penurunan tanah dan banjir rob juga mendapat ancaman bahaya abrasi. Jika tidak segera diatasi, diperkirakan dalam 10 tahun bibir pantai sudah mundur mencapai ujung landasan bandara. Tentunya ini membahayakan penerbangan.

Dok. SAM August Himmawan

Imam Arif Juliadi, Corporate Secretary Phapros menjelaskan, “pada tahun 2011 kami hanya peduli pada lingkungan, cuma tanam dan pelihara. Maka orientasinya tanam sebanyak-banyaknya, belum menyentuh sisi sosial meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kemudian ketika mengejar PROPER hijau yang salah satu kriterianya akan dilihat dari community development dengan hasil masyarakat yang mandiri, kami sadar penanaman saja tidaklah cukup. Maka sejak tahun 2013 CSR diarahkan pada pemberdayaan masyarakat. Karena yang dituju adalah kemandirian komunitas, maka kami desain multi aspek, sehingga penerima manfaat nantinya bisa mandiri.”

Mengusung konsep Edu Park, berbagai fasilitas pun dibuat. Ada menara pandang, trak jalanan menyusuri hutan, perahu, gubuk diskusi, pojok selfie, serta akan dibangun kolam pancing dan warung ikan bakar. Di sini juga dilakukan pembibitan berbagai varietas mangrove, pemanfaatan mangrove untuk makanan dan pewarna batik, dan banyak lagi manfaat yang sedang dikembangkan.

Dok. SAM August Himmawan

Bekerjasama dengan IKAMAT dan METAL

Hari Sabtu dan Minggu biasanya ramai sekali. Selain masyarakat umum, rombongan dari perusahaan, sekolah, tamu pemda, sering berkunjung ke MMEP. Tamu mancanegara juga sudah banyak yang mampir.

“Kalau lagi ramai bisa ratusan orang dalam sehari. Per orang kami minta donasi Rp 7.500, tiketnya diganti 2 buah bibit mangrove yang dapat mereka tanam di sini. Dengan demikian mereka bisa belajar banyak hal tentang mangrove,” kata Sukardi, Ketua Kelompok Mekar Tani Lindung (METAL) yang menjadi mitra Phapros mengelola MMEP.

Dok. SAM August Himmawan

Bapak-bapak anggota METAL ini awalnya adalah petani tambak ikan. Dengan adanya reklamasi yang menutup sirkulasi air laut, maka kualitas air tambak menurun drastis, hasil panenan ikan juga jauh berkurang. “Dulu 4 bulan sudah bisa panen, sekarang setahun belum tentu cukup besar. Pendapatan kami jauh berkurang,” kata Maksum yang mengelola tambak bandeng dan udang windu.

Phapros lalu mengajak mereka bergabung mengelola MMEP. Pada awalnya ada 40 orang yang bergabung. “Kami melakukan seleksi, hanya yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi yang bisa ikut mengelola MMEP,” kata Parlan, salah satu anggota kelompok.

Mereka belajar seluk beluk mangrove dari Inspirasi Keluarga KESEMAT (IKAMAT) sebuah LSM yang lahir dari alumni Jurusan Kelautan Universitas Diponegoro.

Dok. SAM August Himmawan

“Phapros pernah melakukan penanaman sendiri tapi kurang berhasil. Akhirnya bertemu kami, maka kami jelaskan langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan dan kelompok masyarakat mana yang sebaiknya diajak kerja sama. Sebelum menanam kami lakukan penelitian terlebih dahulu varietas yang sesuai dengan lahan serta flora fauna yang ada,” tutur Cahyadi, Direktur Program IKAMAT.

 

Ancaman dari Reklamasi

Idealnya, hutan mangrove adalah benteng terluar untuk menghadapi gempuran ombak. Tapi di Pantai Maroon, reklamasi sedang berjalan. Berhektar hutan mangrove yang dikembangkan beberapa perusahaan, kini posisinya terhalang timbunan tanah reklamasi. Jalur air laut keluar masuk area mangrove terhalang, sehingga banyak tanaman mangrove yang sudah setinggi 2 meter mati kekurangan makanan. Tentunya ekosistem yang hidup di sekitar mangrove juga terganggu hidupnya.

Ancaman lain dari status kepemilikan tanah lokasi mangrove. Dari penelusuran CSR Phapros bersama pejabat Pangkalan Udara Utama TNI AD (LANUMAD) Ahmad Yani, kemungkinan besar lokasi MMEP sudah dimiliki perusahaan swasta. Sehingga sangat mungkin di masa mendatang ijin akan dicabut karena pemilik memiliki rencana lain.

Dok. SAM August Himmawan

Walau hutan mangrove di Pantai Maroon adalah benteng dari ancaman abrasi, tapi sesungguhnya keberadaannya yang sangat dekat dengan landasan berpotensi membahayakan penerbangan. “Bayangkan jika ada pengunjung yang iseng melempar batu ke arah pesawat yang take off atau landing, besar kemungkinan akan menyebabkan kecelakaan,” kata Komandan Detasemen Pengendalian, Letkol I Wayan S. Ini sebabnya, dukungan LANUMAD pada keberadaan MMEP sifatnya juga sementara, selama kondisi dianggap aman bagi penerbangan.

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana seandainya MMEP dan kawasan hutan mangrove Pantai Maroon musnah karena berbagai alasan di atas. Apa dampaknya pada ekologi, juga sosial ekonomi masyarakat pesisir. Soal mangrove ini ternyata juga sudah tidak lagi ditangani Pemda Semarang, melainkan menjadi urusan Propinsi Jawa Tengah. Sudahkah mereka memikirkannya?

 

Dok. SAM August Himmawan

 

Keywords: , , ,

SAM August Himmawan

Redaktur Pelaksana Majalahcsr.id

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]