× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Mana yang Dipilih Work from Home Sementara atau Full Remote Work?

By Redaksi
Ilustrasi Bekerja dari Rumah/Work from Home. Foto : shutterstock

MajalahCSR.id – Munculnya pandemi COVID-19 di satu sisi membawa banyak perubahan pada perilaku masyarakat. Mulai dari kebiasaan memakai masker dalam aktivitas, maupun kian peduli soal pentingnya cuci tangan memakai sabun.

Namun tak cuma itu, ada hal yang lebih menarik, yaitu tren bekerja yang tak lagi menuntut kehadiran fisik di kantor. Kebijakan pemerintah untuk karyawan bekerja dari rumah (Work from Home/WfH) yang diadopsi operasional perusahaan swasta di Indonesia –  terutama di ibukota – membuka perilaku baru.

Di luar negeri, perusahaan besar teknologi semacam Facebook, Twitter, sudah mulai mengadaptasi aktivitas WfH bahkan dikabarkan menerapkan full remote working pasca pandemi. Hasil riset dari Gartner Research mengungkap, sekitar 74% perusahaan besar di dunia akan beralih menjadi full remote working secara permanen.

Lantas bagaimana dengan perusahaan di Indonesia? Apakah mereka pun sudah mulai mengantisipasi perubahan perilaku bekerja ini?

Dalam diskusi yang dihelat campaign.com bertema “Life After COVID-19: Indonesian Startup Adapts to Full Remote Work Permanently” pada Kamis (11/6/2020), perusahaan di Indonesia beberapa diantaranya mulai menerapkan tren ini.

“Keputusan untuk memberlakukan full remote work secara permanen ini tidak hanya sekedar upaya menghemat biaya, meningkatkan produktivitas, atau dampak baik terhadap lingkungan,” jelas William Gondokusumo, CEO Campaign.com.

“Aspek-aspek tersebut bagus, tapi keputusan ini lebih pada ketika saya sadar kalau full remote work itu memungkinkan kita untuk saling berkolaborasi dan bekerja sama tanpa ada batasan waktu dan tempat. Semua orang bisa bekerja dari mana pun dan kapan pun. Tidak perlu lagi ada update meeting yang lama setiap minggunya, tapi bisa digantikan dengan diskusi tertulis yang juga dilakukan secara online. Proses kerja jadi dinamis dan justru jadi bagian yang menyenangkan dalam full remote work ini.”

Campaign.com, perusahaan startup yang juga rupanya mulai memberlakukan full remote dalam operasional aktivitasnya.

“Sekarang kita sudah belajar kalau bekerja tidak harus dari kantor. Nyatanya, kita bisa kan tetap bekerja dari rumah dengan baik. Ini sudah saatnya semua bisa dilakukan atau dikerjakan dengan beralih remote,” jelas Monica Anggar, HR Expert and Podcaster askHRlah, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Efektivitas bekerja pun tidak lantas turun lantaran tidak berada pada satu ruangan yang sama. Dengan memaksimalkan penggunaan sejumlah aplikasi pendukung, seperti Slack, Basecamp, Google Suite, dan lainnya, remote work justru terasa lebih efektif. Misalnya, Slack dapat digunakan sebagai sarana update dan meeting tertulis, sehingga tim tidak perlu lagi membuat minutes of meeting (MOM) karena semua hasil meeting sudah terdokumentasikan dengan baik. Meeting berbasis video call pun dapat dimaksimalkan untuk diskusi penting.

Work from Home dan Full Remote Working (FRW) adalah 2 hal berbeda. Work from Home adalah kebiasaan bekerja di kantor yang dibawa ke rumah (alasan kondisional seperti pandemi), sehingga waktu bekerja pun mengikuti jam kantor. Sementara FRW lebih fleksibel dari segi waktu dengan lebih mengandalkan platform online dalam bekerja termasuk kegiatan rapat koordinasi. Dengan kata lain, tidak terbatas ruang dan waktu. Di sisi lain, WfH lebih memicu stress karena kondisi di rumah bersama keluarga tak sefokus saat kerja di kantor. Sementara FRW yang berorientasi pada kualitas hasil, memungkinkan siapapun untuk bekerja sesuai dengan kemampuan dirinya, baik dari segi waktu maupun tempat.

WfH boleh jadi merupakan masa transisi perusahaan atau lembaga lain dari kondisi Work from Office (WfO) menuju FRW. Banyak hal positif yang didapat dari dari kegiatan WfH mulai dari mengurangi aktivitas bertransportasi yang turut berperan menurunkan emisi CO2, hingga tak perlu lagi stress menghadapi kemacetan lalu lintas ibukota.

Jadi pilih yang mana? WfH yang akhirnya menjadi FRW atau WfH yang malah kembali jadi WfO di saat pandemi berakhir?

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]