× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Lulusan SMK di Pangandaran Ini Disebar Jadi Agen Perdamaian

By Redaksi

SMK Bakti Karya Parigi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, melepas angkatan pertama lulusan program Kelas Multikultural dari berbagai wilayah di Indonesia, Kamis (2/5/2019). Setelah digembleng dengan kurikulum berwawasan multikultural selama tiga tahun, para alumni diminta menjadi agen-agen perdamaian di kampung halaman masing-masing.

Para alumni Kelas Multikultural adalah penerima beasiswa penuh di SMK Bakti Karya Parigi. Angkatan pertama yang dilepas berjumlah 35 siswa yang berasal dari enam provinsi yakni Aceh, Sumatra Selatan, Maluku, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat. 

Ketua Yayasan Darma Bakti Karya sekaligus penggagas Kelas Multikultural Ai Nurhidayat mengatakan 35 siswa telah lulus memenuhi 60 indikator kelas multikultural. Ke 60 indikator, Ai menggambarkan, di antaranya mencakup aspek toleransi dan perdamaian, wawasan keragaman budaya, wawasan ekologi serta hubungan sosial.

“Di tempat asal masing-masing atau pun di tempat baru mereka, para alumni didorong menjadi agen-agen yang menyebarkan perdamaian. Bahkan pada tahap selanjutnya menjadi juru damai konflik,” ujar Ai kepada detikcom.

Setelah tiga tahun berjalan, kata Ai, Kelas Multikultural di SMK bakti Karya Parigi memiliki 80 pelajar yang berasal dari 18 provinsi, 22 suku dan tiga agama berbeda. Mereka yang berasal dari luar Pangandaran, diberi beasiswa penuh selama tiga tahun sekolah. 

Beasiswa tersebut mencakup tiket perjalanan pulang-pergi, makan-minum, asrama dan biaya sekolah, dengan total mencapai Rp 45 juta untuk masing-masing anak. 

“Dananya dari donasi publik, sebagian dari bantuan pemerintah,” kata alumni Universitas Paramadina ini. 

Maria Magdalena Hingi Hera (19) salah satu alumni asal Kabupaten Flores Timur, NTT menyebut Kelas Multikultural telah mengubah hidupnya. Ia mengaku mendapat pengalaman berharga belajar dengan banyak orang dari latar belakang berbeda.

“Di kampungku itu semua Katolik. Kadang kalau ada berita terorisme, kita jadi benci sama orang Islam. Tapi sekarang saya banyak teman Islam. Mereka semua baik,” kata Hera. 

Selepas lulus, Hera menyebut tengah mengikuti seleksi beasiswa di sejumlah perguruan tinggi. Dengan mengenyam pendidikan lebih tinggi, kata Hera, ia berharap lebih punya daya tawar untuk melakukan perubahan di kampung halamannya.

SMK Bakti Karya Parigi juga merupakan salah satu pemenang atau penampil terbaik dari ajang Indonesia Community Engagement Award 2018 yang diselenggarakan oleh PT Dasa Strategik Indonesia Desember 2018 lalu. Pemaparan ide dan pelaksaaan program SMK ini mampu menarik perhatian para juri sebagai tim penilai saat itu.

Tidak banyak ide kebangsaan yang diimplementasikan langsung ke dalam pendidikan. Terlebih pendidikan setara SMK yang merupakan cikal bakal penerus bangsa. Ide ini amat sangat patut ditiru dan diterapkan ke lembaga lain, tak sekedar di tatanan sekolah semata. Dengannya, kita boleh berharap Indonesia menjadi bangsa yang besar dan kuat sebagai bagian dari masyarakat dunia.

Sumber:
https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4533913/lulusan-smk-di-pangandaran-ini-disebar-jadi-agen-perdamaian

Foto: detik.com

Keywords:

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]