× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

L’Oréal Indonesia Dukung Kiprah Ilmuwan Perempuan Indonesia

By Redaksi
Empat L’Oréal- UNESCO For Women in Science 2019- National Fellows (Kiri ke kanan) Dr. Sc. Widiastuti Karim, M.Si; Dr. Swasmi Purwajanti, M.Sc; Dr. Eng. Osi Arutanti, M.Si; Dr. rer. nat. Ayu Savitri Nuriansyah, M.IL., M.Sc. Foto : L'Oreal

Dunia sains kerap dikaitkan dengan profesi laki-laki. Sebagai contoh, jabatan Menteri Pendidikan dan Riset sejak dulu selalu dijabat kaum laki-laki. Apakah ini berarti peran perempuan tak bisa menyaingi lawan jenisnya dalam bidang sains?

Nanti dulu. Jika diamati, tak sedikit para perempuan yang berkiprah mendedikasikan hidupnya demi kemajuan sains di Indonesia. Bahkan mereka mengupayakan ilmunya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Bukti ini terkisahkan melalui beasiswa L’Oréal – UNESCO For Women In Science 2019. Sudah sejak 2004 atau tepatnya 16 tahun lalu, L’Oréal Indonesia bekerja sama dengan UNESCO dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menginisiasi program beasiswa bagi para perempuan Indonesia di bidang penelitian sains. Program bernama L’Oréal – UNESCO for Woman Science National Fellowship merupakan program tahunan dan hingga 2019 sudah 57 ilmuwan perempuan Indonesia mendapatkan beasiswa untuk penelitian mereka.

Ada 4 beasiswa yang ditawarkan dari program ini setiap tahunnya. Pada 2019 ini (penyelenggaraan ke 15) ada 4 ilmuwan perempuan Indonesia yang meraih fellowship. Mereka adalah Ayu Savitri Nurinsyiah (LIPI) yang meneliti keong darat endemik di pulau Jawa yang bisa memberi manfaat bagi kesehatan. Lalu ada Widiastuti Karim (Universitas Udayana) melakukan risetnya di bidang kelautan, tepatnya soal rehabilitasi terumbu karang di Indonesia. Yang ketiga Swasmi Puwajanti (BPPT) yang mampu menemukan fungsi bittern (hasil samping produksi garam) sebagai penjernih dan pengusir polutan air untuk penyediaan air bersih.

Terakhir ada Osi Arutanti (LIPI) yang memanfaatkan tenaga surya sebagai upaya untuk pengolahan air yang ramah lingkungan. Dengan fotokalis (proses oksidasi di dalam air yang memisahkan polutan dan air), air yang tercemar bisa sepenuhnya aman bagi lingkungan dan layak konsumsi. Tentunya ke -4 ilmuwan itu sudah membuktikan, peran perempuan Indonesia di bidang sains sudah sejajar dengan saintis laki-laki.  

Dalam konferensi pers yang dihelat di Gedung Ristekdikti, Jakarta, Selasa (26/11/2019), Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Arief Yahya, mengatakan, “Berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics, jumlah ilmuwan perempuan di Indonesia masih rendah. Namun terjadi peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2015 perempuan peneliti berjumlah 30,6% dari total profesi peneliti. Sementara pada 2017 sudah meningkat jadi 45,8%.”

Arief juga mengungkapkan, dari satu juta peduduk Indonesia, hanya 89 yang berkecimpung di dunia ilmuwan peneliti. Tentu hal ini dirasa amat kurang. Dan program L’Oréal ini sangat membantu para generasi muda khususnya perempuan untuk mengembangkan profesi, minat, dan passion nya sebagai peneliti. Untuk itu, Arief  mengungkapkan terima kasihnya kepada L’Orèal yang dalam 16 tahun terakhir secara berkelanjutan membantu dan memberdayakan para ilmuwan perempuan Indonesia yang sudah memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Pemerintah juga sangat mendorong para ilmuwan untuk berkarya. “Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahun dan Teknologi yang memberikan keberpihakan terhadap para peneliti dan mendorong perbaikan ekosistem penelitian,” ujar Arief. Pendidik senior ini juga mengatakan, IPTEK semestinya menjadi bagian dari tulang punggung kemajuan peradaban bangsa.

Ada hal menarik, saat ditanya pewarta soal bagaimana agar generasi muda termasuk perempuan Indonesia tertarik di bidang sains. Menurut Arief, guru dan orang tua semestinya mendukung keinginantahuan anak yang selalu bertanya, bukan lantas menghentikannya. “Menarik sekali yang dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yag hendak melakukan adjustment kurikulum terhadap pembangunan.” Para siswa, tegas Arief, jangan terlalu difokuskan pada ujian nasional sehingga menutupi potensi mereka yang sebenarnya dari belajar.

L’Oréal – UNESCO For Women In Science adalah program global dari perusahaan perawatan wajah terkemuka tersebut. Salah satunya yang setiap tahun sejak 2004 lalu digelar di Indonesia.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]