× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Leonard Simanjuntak: Ponggok, Tumbuhlah Terus Sebagai Desa Wisata Yang Pro Lingkungan

By Redaksi

Sampah menjadi masalah klasik di kawasan wisata. Di beberapa daerah bahkan telah menjadi persoalan besar. Setidaknya kita bisa sebut dua nama, Ranu Kumbolo dan Bali.

Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyebutkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Jika setiap hari gunung tersebut dikunjungi 200 hingga 500 pendaki, bisa dibayangkan berapa tinggi tumpukan sampah yang terkumpul.

“Pembangunan kawasan wisata menuai banyak persoalan. Paling klasik ya sampah plastik. Seperti Ranu Kumbolo yang banyak diberitakan di tahun-tahun terakhir. Bali juga punya persoalan serius,” ungkap Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, saat ditemui di Ponggok, Sabtu (06/07). Dalam salah satu sesi yang digelar di Green Literacy Camp (GLC) 2019, Ponggok, Leonard memberikan banyak contoh kawasan wisata yang mengalami kerusakan. Ia berharap Ponggok tidak mengalami kejadian serupa. “Jangan menuju ke arah sana,” tambahnya.

Leonard mengapresiasi positif desa yang terletak di kaki Merapi dan Merbabu tersebut. Meski belum melihat secara keseluruhan kondisi fisik Ponggok, namun Leonard tidak melihat kerusakan. Kalaupun ada masih dalam hitungan kecil dan akan pulih jika segera diperbaki.

“Saya melihat Kades dan Direktur BUMDes visioner. Itu yang membuat saya coba bantu. Karena selama ini daerah-daerah yang saya kunjungi adalah yang miskin, kekurangan, dan menjadi korban. Ini berbeda,” kata Leonard mengapresiasi desa yang terletak di Kecamatan Polanharjo, Klaten tersebut. Ia melihat Ponggok sebagai desa yang potensial. Ada kombinasi yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah, pemimpin yang punya visi, serta misi sudah terimplementasikan dan terus berjalan. “Ponggok ke depan bisa makin progresif dan pro lingkungan. Yang perlu dihindari adalah zona nyaman,” imbuh Leonard mengingatkan.

Keywords: ,

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]