× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Laporan Brown to Green Indonesia 2019 Diluncurkan

By Redaksi
Peluncuran Brown to Green Report 2019 Indonesia Profile dihadiri Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan menjelaskan, Indonesia berkomitmen melakukan gerakan ekonomi hijau. Hal ini dikatakannya karena Indonesia tidak ingin membuat kebijakan yang dapat mencederai generasi mendatang. Pernyataan Luhut ini disampaikan pada acara peluncuran Brown to Green Report 2019 Profil Indonesia di Pullman Hotel Jakarta, Selasa (19/11/2019). 

Luhut menegaskan, “Harus komprehensif dalam membuat kebijakan, tidak bisa terkotak-kotak berdasarkan isu. Salah satu strategi dalam mengembangkan investasi di Indonesia adalah adanya empat persyaratan yang harus dipenuhi oleh investor asing, yaitu first-class technology, technology transfer, value-added, and business-to-business cooperation.” Pemerintah, tegas Luhut, tidak akan membebankan ongkos lingkungan demi kemajuan ekonomi.

Sementara, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Prof. Emil Salim, yang turut jadi pembicara mengingatkan, Indonesia harus segera berubah karena tidak bisa terus mengandalkan energi tidak terbarukan seperti batubara dan minyak bumi yang berdampak mengotori lingkungan.

Dosen Senior Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Mantan Meteri Lingkungan Hidup, Emil Salim Turut Menyampaikan Pemaparan

“Kita perlu memikirkan generasi Indonesia di tahun 2045 yang dapat menikmati Indonesia yang bersih dan tidak kotor. Perencanaan kebijakan saat ini harus memandang jauh ke depan karena keadaan di masa depan akan sangat berbeda dari situasi saat ini. Sudah tidak ada lagi tempat untuk energi kotor di masa depan. Perekonomian sudah seharusnya selaras dengan energi terbarukan yang akan berkembang di masa depan,” ujar mantan Menteri Lingkungan di era Orde Baru ini.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa dalam sesi diskusi menyatakan, “Indonesia harus mulai beralih dari energi fosil di sektor energi dan transportasi.”  Pada sektor ketenagalistrikan, menurutnya, Indonesia mesti mengurangi pemanfaatan pembangkit tenaga listrik tenaga batubara. Yang perlu dilakukan adalah penambahan bauran energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030.

Aksi efisiensi pun ditegaskan Fabby tetap harus dilakukan. Caranya dengan meningkatkan standar performa minimum yang akan mengurangi permintaan listrik di masa depan.  Di sektor transportasi negara, urai Fabby, dibutuhkan percepatan elektrifikasi untuk kendaraan serta meningkatkan standar ekonomi bahan bakar yang lebih efektif sebelum 2025.

Negara-negara anggota G20 disinyalir belum punya rencana serius menghentikan laju pemanasan global yang diperkirakan mencapai 1,5°C.  Bahkan emisi karbon mereka diketahui terus meningkat. Padahal sebagian besar dari mereka (termasuk Indonesia) mampu secara teknis dan memiliki insentif ekonomi untuk melakukan aksi tersebut. Agar Perjanjian Paris soal iklim tetap dalam jangkauan, para anggota G20 harus meningkatkan upaya target emisi 2030 mereka di tahun 2020. Selain itu, secara signifikan meningkatkan mitigasi, adaptasi, dan pendanaan terkait kebijakan iklim selama dekade berikutnya.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]