× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Kreasi Sneaker Asal Indonesia dari Serabut Jamur

By Redaksi
Sneaker dari Miselium Jamur Produksi Startup Asal Indonesia, Brodo. Foto : Inhabitat

MajalahCSR.id – Tak melulu brand atau merek luar yang memanfaatkan bahan alternatif untuk produknya. Salah satu merek startup produk kulit asal Indonesia, Brodo, menggunakan miselium sebagai bahan kulit. Miselium dihasilkan dari kelompok tanaman fungi, salah satunya jamur.  

Miselium sendiri adalah jaringan filamen yang disebut hifa.  Biasanya perlu bantuan mikroskop untuk melihat teksturnya secara detil. Tetapi perusahaan ini justru memanfaatkannya untuk menggantikan bahan kulit konvensional dalam funia fesyen.  

Pada tahun pertama, startup meluncurkan produk berbasis miselium dan mendapat respon  positif. Adapun produk yang diberi nama Mylea terdiri dari gelang jam tangan, wadah kartu nama, dompet, kap lampu, sampai sendal. Sementara produk terbaru adalah Brodo Mylea, sneaker dari kulit vegan yang berkolaborasi bareng Mycotech.

Sejujurnya, sneaker ini adalah respon terhadap imej fesyen yang disebut turut andil dalam masalah lingkungan. Dalam laman resminya, pihak Brodo menjelaskan, Mylea terinspirasi dari makanan tempe yang terbuat dari kedelai putih dan jamur Rhizopus Oligosporus. Jaringan miselium jamur tersebut menjadikan kedelai tempe menjadi padat dan bertekstur. Tetapi, media miselium untuk Mylea bukanlah tempe melainkan sisa limbah pertanian.

Bahkan seperti disebut dari laman resminya, pada proses penyamakan tidak membutuhkan zat kimia kromium 3 dan juga hanya perlu sedikit air. Ini tentu berbeda dengan proses serupa kulit hewan yang justru kebalikannya. Selain proses, periode panen pun disebut lebih menguntungkan. Jika kulit sapi membutuhkan pertumbuhan minimal 7 tahun untuk siap dipanen kulitnya, miselium hanya dalam waktu penanaman 3 – 4 tahun saja untuk panen.

Kulit dari hewan membutuhkan tempat luas untuk peternakan dan pencetus emisi metana yang tinggi. Terlebih dalam proses pengolahan, kulit hewan memerlukan zat kimia dalam jumlah besar yang mencemari tanah. Salah satunya untuk proses pewarnaan yang harus dilakukan berkali-kali. Berbeda dengan miselium yang punya daya serap tinggi.

Teknologi masa depan adalah yang bisa memastikan masa depan untuk generasi selanjutnya, penemuan kami menawarkan hal itu, demikian kata statup ini.

Selain ini, ada sejumlah perusahaan lain yang menemukan bahan altermatif untuk produknya, mulai dari kulit kaktus hingga memanfaatkan limbah, seperti limbah plastik. Benang merahnya adalah, mereka sudah selangkah di depan dalam mempraktikkan produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

 

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]