× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Konferensi 183 Negara untuk Tangani Krisis Kepunahan Satwa Liar

By Redaksi
Ilustrasi Perburuan Cheetah. Foto : Intelligentliving/Istimewa

MajalahCSR.id – Di samping permasalahan iklim lingkungan, bumi dihadapkan pada ancaman kepunahan satwa liar akibat perdagangan gelap. Untuk mengatasi hal ini, sebanyak 183 negara bergabung dalam pertemuan tingkat tinggi “Convention on International Trade in Endangered Species (CITES)”. Agenda yang dibahas menjadi solusi untuk mencegah hewan yang terancam punah mulai dari jerapah hingga ikan hiu, gajah hingga badak, melalui upaya perlindungan.

“CITES adalah ‘perangkat’ yang berdaya untuk memastikan keberlanjutan dan merespon kepunahan aneka ragam hayati yang demikian cepat – yang biasa disebut ‘sixth mass extinction” – dengan melindungi dan membalikkan penurunan populasi margasatwa (menjadi kembali naik),” jelas Ivonne Higuero, Sekretaris Jenderal CITES.

Ke-183 negara tersebut berharap melakukan upaya lebih untuk konservasi hewan-hewan eksotis yang jumlahnya terus menyusut, salah satunya akibat kejahatan perdagangan illegal, dari katak kaca hingga kura-kura bintang dan masih banyak lagi.

Perlindungan dilakukan tak hanya pada hewan yang masih hidup melainkan juga bagi yang telah punah. Termasuk perlindungan terhadap perdagangan bulu mamut (gajah purba) dan juga gading gajah yang seringkali diembel-embeli barang antik untuk menutupi aksi kejahatan.

“Kita semua bergantung pada keanekaragaman hayati. Ini tak sekedar isu lingkungan. Ada banyak spesies yang jika mereka punah adalah kehilangan besar tanpa kita sadari,” lanjut Higuerro.

Para ilmuwan mengungkapkan, kerusakkan alam memicu penurunan populasi margasatwa hingga 60% sejak 1970. Demikian juga keragaman tanaman yang terus menyusut dalam situasi yang mengkhawatirkan. Sementara itu kemanusiaan sendiri dalam status yang tak kalah bahaya. Makin cepatnya penurunan sistem alamiah lingkungan yang menyokong pangan, udara bersih, dan air yang sejatinya padahal dibutuhkan masyarakat.

Perjanjian kesepahaman CITES mengatur perdagangan margasatwa internasional, dari satwa hidup sampai kulit hewan dan perkayuan. Ini berbeda dengan konvensi internasional lain karena punya kewenangan menghukum negara yang tak mengindahkan aturan dengan mencegah mereka terlibat dalam perdagangan yang menguntungkan negaranya.

Menurut The Guardian, nilai perdagangan satwa liar diperkirakan mencapai USD 7 miliar hingga USD 23 miliar (Rp 98,7 triliun sampai Rp 324,3 triliun dengan kurs Rp 14.100) per tahun. Peringkatnya hanya di bawah penjualan obat-obatan terlarang, perdagangan manusia, dan senjata illegal.

Pada pertemuan CITES tersebut selain dibahas mendesaknya penanganan satwa punah, juga membawa kabar baik. Seperti vikuna hewan mirip unta yang merupakan kerabat llama dan mulai terselamatkan jumlahnya. Ini karena para pegiat satwa mengajak komunitas lokal bersama-sama melakukan konservasi hewan tersebut. Untuk diketahui, vikuna adalah penghasil bulu wool yang sangat baik.

“Ini merupakan bukti, bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan satwa,” pungkas Higuerro.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]