× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Koalisi Negara Berkembang Desak Janji Negara Maju Turunkan Emisi

By Redaksi
Seorang Wanita Berjalan dengan Kendi Berisi Air bersih di Satkhira, Bangladesh. Bangladesh merupakan Negara yang Rentan Terdampak Krisis Iklim. Foto : Kazi Salahuddin Razu/NurPhoto/Rex/Shutterstock

MajalahCSR.id – Koalisi yang beranggotakan sekira 100 negara miskin atau Least Developed Countries (LDC) mengemukakan kekhawatirannya atas lambannya negara berkembang menerapkan janji mereka mengatasi krisis iklim. Kelompok LDC juga menginginkan negara maju untuk lebih serius lagi dalam memitigasi persoalan iklim pada pertemuan tingkat tinggi Cop26 yang dilaksanakan pada akhir tahun ini.

Cop26 menjadi pertemuan iklim paling penting setelah Paris Agreement di 2015. Inggris akan menjadi tuan rumah di mana pertemuan diharapkan bisa lebih menyadarkan pemimpin dunia untuk lebih serius mendiskusikan persoalan iklim demi menentukan masa depan bumi.

The Guardian memberitakan, Ketua LDC Group untuk Cop26, Sonam P. Wangdi dari Bhutan menyebut, meskipun kondisi pandemi COVID-19 sangat menyita headline di seluruh dunia, perubahan iklim di sisi lain kian memburuk. Hal ini ditandai makin meningkatnya kadar emisi yang memperburuk kehidupan dan mata pencaharian negara-negara yang tergolong miskin.

“Kami negara-negara yang sangat rentan krisis iklim, tak banyak meminta, hanya saja untuk mereka negara maju dan kaya, yang menyebabkan masalah (iklim) ini muncul, bertanggung jawablah dengan menurunkan emisi yang mereka timbulkan, dan tepati janjinya dengan menolong negara lain yang terdampak oleh emisi tersebut,” cetus Wangdi.

Kelompok LDC sudah merilis 5 tuntutan mereka, diantaranya, permintaan kepada negara maju untuk menguatkan aksi negaranya menurunkan emisi, menyediakan US$ 100 miliar per tahun sebagai “biaya iklim” untuk negara miskin dan berkembang, serta mewujudkan perjanjian Paris atau Paris Agreement agar lebih berdampak. Salah satu poin yang gagal diwujudkan sesuai Cop26 adalah janji para negara maju di 2009 yang sepakat menyediakan anggaran US$ 100 miliar tersebut pada 2020.

“Negara berkembang sekarang ini tidak mampu menyelesaikan masalah dan janji mereka unutk menyediakan biaya iklim. Seperti halnya negosiasi, anda perlu keyakinan untuk menjaga  janji dan komitmen bisa dipertemukan,” ujar ketua grup negosiator Afrika, Tanguy Gahouma-Bekale dari Gabon.

Beberapa negara maju, seperti Inggris, sudah memotong anggaran bantuan mereka pada negara miskin. Pada minggu kemarin, parlemen Inggris sudah memutuskan untuk mengurangi dana bantuan luar negeri Inggris  menjadi sepertiganya, dari 0,7% GDP menjadi 0,5%.

Menurut pemimpin LDC Group keputusan tersebut mencerminkan minimnya tanggung jawab. Kelompok LDC menuntut negara-negara maju bertanggung jawab atas kerugian yang berasal dari polusi negara-negara tersebut yang menyumbang sebagian besar memburuknya emisi secara global.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]