× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Kisah Gutha Tamarind Berkunjung ke Jepang

By Redaksi
Dok. Komunitas 22 ibu

Jakarta – Majalahcsr. Kebudayaan asli Indonesia sangat banyak dan beragam, tak terkecuali dengan potensi alamnya. Koes Plus pernah menyanyikan lagu Kolam Susu yang salah satu syairnya mengatakan ‘’..tongkat kayu dan batu jadi tanaman..’’.

Kembali ke kebudayaan Indonesia, salah satu ciri khas bangsa Indonesia adalah jenis kainnya yang beragam, salah satunya batik. Batik ini biasanya dibuat dengan pewarna sintetis, meskipun ada juga yang menggunakan pewarna alami dengan konsekuensi kerumitan pembuatan. Misalnya harus mewarnai hingga beberapa kali agar mendapatkan warna yang diiginkan.

Dikembangkan pertama kali oleh Niken Apriani dari Komunitas 22 ibu, biji buah asam untuk teknik gutha tamarind ini kemudian berhasil membawa nama Komunitas 22 ibu ke China, Malaysia, India dan kali ini ke Fukuoka Jepang.

Dok. Komunitas 22 ibu

Sebagai informasi, teknik gutha tamarin adalah pengembangan teknik batik menggunakan bahan dasar biji buah asam yang dihaluskan. Kemudian bubuk biji asam ini kemudian dicampur air dan sedikit lemak nabati atau margarin menjadi sejenis pasta.

Cara penggunaannya, pasta ini menggantikan lilin yang dioleskan menggunakan canting. Lilin dari canting biasanya menggunakan proses pemanasan, namun tidak dengan gutha, sehingga cara ini disebut juga dengan teknik batik dingin.

Gutta Tamarind Goes To Japan

Adalah Elida Maria Matsumoto mengundang empat orang pendidik yang tergabung di Komunitas 22 ibu  untuk hadir diacara Fukouka Art Exhibition (5-12 september 2018). Exhibition ini bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan asli Jepang kepada Negara lain yaitu Spanyol, Portugal Hawaii, Israel dan Indonesia. Selain itu, Negara yang diundang juga memperkenalkan kebudayaan mereka dan bertukar informasi seputar kehidupan di Negara masing-masing.

Perwakilan dari Indonesia masing-masing adalah empat orang pendidik dari lintas perguruan tinggi yaitu Nurul Primayanti dari Desain Produk, Podomoro University, Ariesa Pandanwangi dari Universitas Kristen Maranatha, Gilang Cempaka dari Universitas Paramadina Jakarta serta Rina Mariana dari Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Mereka diundang untuk mengadakan workshop batik gutha tamarind sekaligus melakukan pameran karya seni di galeri Tiempo Ibero Americano, Fukuoka.

Workshop yang sedianya diadakan dua kali, kemudian ditambah menjadi tiga kali karena banyaknya peminat. Bahkan tidak hanya usia menengah, usia lanjut dan usia sangat muda juga turut serta dalam workshop.

Dok. Komunitas 22 ibu

Dalam paparan workshop Nurul Primayanti menjelaskan bagaimana adonan biji asam diolah dan dipraktekan di atas kain. Untuk lebih menonjolkan kesan Indonesia, Nurul juga menggunakan pakaian batik dan kebaya, membuat para peserta semakin tertarik untuk belajar.

Dengan keseriusan perwakilan dari Indonesia ini, peserta lain menganggap bahwa Indonesia serius memperkenalkan kebudayaannya kepada Negara lain. Selain itu, souvenir berupa 2 sarung tenun untuk 2 peserta karya terbaik hasil workshop sangat disukai oleh peserta.

Oleh-oleh dari acara tersebut, perwakilan dari Indonesia mendapatkan 5 sertifikat kegiatan yang diikuti, yaitu workshop japannesse painting dengan material batu, workshop Bokusho, trainer batik, presenter, dan partisipan dalam presentasi art theraphy untuk kanker.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]