× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki adalah Kunci Kemajuan Ekonomi

By Redaksi

Indonesia akan kehilangan peluang emas jika masalah kesetaraan gender tidak segera diatasi — konferensi

Indonesia berpotensi kehilangan US$135 miliar dalam produk domestik bruto (PDB) tahunan jika gagal mengatasi kesetaraan gender dalam enam tahun ke depan. Hal ini disampaikan oleh salah seorang narasumber Konferensi “Accelerating The Indonesian Economy Through Gender Quality” yang digelar pada  Selasa (30/4/2019). Dalam konferensi tersebut, para narasumber yang hadir mendesak pemerintah dan sektor swasta untuk memastikan perempuan dan laki-laki memiliki akses dan manfaat yang sama dari peluang ekonomi.

Angka tersebut – meningkat lebih dari 9% dari PDB pada kondisi bisnis yang biasa – adalah potensi yang mungkin didapatkan oleh Indonesia jika bisa mendapatkan kondisi kesetaraan gender terbaik di kawasan pada 2025. Fakta ini diperkirakan oleh McKinsey Indonesia pada 2018 dan dikutip oleh pembicara pada konferensi yang dihadiri ratusan peserta di Ayana Hotel, kawasan Sudirman, Jakarta.

“Gender parity didambakan untuk itu (mencapai PDB), lalu selanjutnya bagaimana kita menuju ke sana. Semua pihak harus berpartisipasi tentu di dalamnya juga ada porsi peran pemerintah, swasta, dan individu,” ujar Managing Partner McKinsey Indonesia Phillia Wibowo pada konferensi tersebut.

Dia juga mengutarakan, terdapat beberapa poin yang perlu dicermati untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam dunia kerja di Tanah Air. Tidak hanya menciptakan pemerataan kesempatan tetapi juga disertai perlindungan hukum dan jaminan hak partisipasi politik. Seluruh penerapannya harus sinergis dari tingkat daerah hingga pusat.

Chief of Staff Tokopedia Inna Chandika menjadi salah satu pembicara lain dalam konferensi ini. Dia menuturkan, untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam dunia kerja harus dimulai dari masing-masing individu. Dengan kata lain, secara personal, seorang perempuan harus melawan pola pikir diri sendiri yang mungkin membatasi propsek karirnya.

“Masalah kita adalah soal persepsi, misalnya bahwa industry STEM selalu male centric. Pangkalnya adalah kesedaran dan persepsi dari para perempuan sendiri, mereka mampu untuk masuk dan berkarya di dunia kerja,” paparnya.

Sementara, Deputy Managing Director DEKA Marketing Research Yanti Nisro Corbett mengutarakan, kehadiran perempuan secara lebih setara dalam dunia kerja khususnya jajaran manajemen senior mampu membuat perusahaan lebih dinamis dan inovatif. “Engagement dalam perusahaan juga lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Evan Indrawijaya, Human Resource Director Danone Indonesia mengatakan, selain mendorong perempuan, laki-laki juga harus mengambil peran demi terciptanya kesetaraan gender. Hal itu bisa dimulai dengan berbagi peran di rumah tangga, hingga bagaimana para pemimpin laki-laki di tempat kerja bisa memberikan kesempatan yang sama pada perempuan.

Government Affairs & Policy Director General Electric Indonesia, Donna Priadi juga menyatakan pentingnya panutan, mentor dan sponsor bagi perempuan. Dengan kehadiran support system tersebut juga bisa meningkatkan kepercayaan diri perempuan untuk bisa terus menuju kesuksesan.

Konferensi ini menandai selesainya kampanye kesetaraan gender selama setahun yang dijalankan oleh Katadata Indonesia dengan dukungan dari Investing in Women (IW) – sebuah inisiatif dari Pemerintah Australia yang mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia, Filipina, Vietnam dan Myanmar.

Di dalam sambutan, Direktur Katadata Heri Susanto menjelaskan bahwa  Asia Pasifik termasuk Indonesia, populasi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki di lapangan kerja. Sejalan dengan itu, hanya 20 persen perempuan di posisi manajerial dan baru 5 persen di jajaran direksi dan CFO.

“Namun, dalam beberapa tahun ini, ada kabar baik. Era digital di Indonesia memberi banyak bukti bahwa perempuan semakin mandiri dan berkembang pesat dalam menjalankan bisnis mereka,” katanya.

Dalam keynote-nya, Mr Allaster Cox, Wakil Kepala Misi di Kedutaan Besar Australia di Jakarta menempatkan dukungan kesetaraan gender dari Australia untuk Indonesia dalam konteks kerja sama ekonomi yang lebih luas antara kedua negara, menyoroti Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah ditandatangani pada Maret 2019.

“Sebagai bagian dari perannya sebagai mitra ekonomi Indonesia, Australia mendukung inisiatif untuk kesetaraan gender yang dapat memanfaatkan sumber daya Indonesia sendiri untuk menghasilkan pertumbuhan dan mendistribusikan manfaat kepada lebih banyak orang,” kata Cox.

Pleno pagi tersebut diikuti oleh lima sesi paralel, termasuk “The Missing Voice in the Gender Equality Conversation,” sebuah sesi yang diselenggarakan oleh partner IW lainnya, yakni Yayasan Pulih dan Aliansi Laki-laki Baru. Acara ini juga diselenggarakan bersama oleh Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE) yang didukung oleh IW.

Tentang Penyelenggara

Katadata adalah perusahaan media, data dan riset online di bidang ekonomi dan bisnis. Didirikan pada 1 April 2012 di Jakarta, perusahaan ini menyajikan berita, informasi, data, dan hasil riset secara mendalam bagi kepentingan para pemimpin bisnis dan pengambil kebijakan, namun dikemas secara lugas dan atraktif agar mudah dipahami publik. Tim Katadata terdiri dari para jurnalis dan periset berpengalaman di bidang energi, finansial, makroekonomi, perdagangan dan infrastruktur.

Investing in Women merupakan inisiatif Pemerintah Australia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pengurangan kemiskinan di Asia Tenggara. Investing in Women didirikan untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam ekonomi dan sebagai pemimpin bisnis, meningkatkan suara perempuan dalam penentuan keputusan dan kepemimpinan, memengaruhi sektor publik dan swasta untuk menyadari dan mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender. Investing in Women diimplementasikan di Indonesia, Myanmar, Filipina, dan Vietnam, dengan kantor pusat di Manila.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]