× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Keren Betul, “Sunglasses” ini Dibuat dari Sampah Plastik

By Redaksi
CEO The Ocean Cleanup, Boyan Slat dan Sunglass Hasil Ide Organisasinya. Foto : Inhabitat

MajalahCSR.id – The Great Pacific Garbage Patch adalah pulau sampah terapung yang berlokasi di Laut Pasifik. Beberapa organisasi pun tergerak turut ambil bagian dalam aksi bersih-bersih sampah itu dengan membawanya kembali ke darat. Tapi jika sebatas mengangkut sampah ke daratan, tentu hanya memindahkan masalah. Sebab itu, The Ocean Cleanup, organisasi non profit yang berbasis di Holland, Belanda, menawarkan solusi yang menarik. Mereka mengubah sampah plastik tersebut menjadi kacamata sunglasses yang sangat “fashionable”. Hasil keuntungan penjualan kacamata ini digunakan untuk upaya pembersihan sampah berkelanjutan di lautan.

Organisasi ini ternyata sudah bertahun-tahun mengembangkan sistem pengelolaan sampah. Pada pertengahan 2019, mereka  memakai cara yang disebut sistem moniker 001/B dan diterapkan pada aksi bersih sampah di Laut Pasifik Utara. Tim sebanyak 90 orang terdiri dari teknisi, periset, ilmuwan, dan ahli model komputasi sukses mengembalikan sampah lautan tersebut secara bertahap ke daratan. Sampah-sampah plastik diberi penanganan khusus dengan mengantonginya dan memberi label untuk kemudahan proses. Tujuannya untuk memastikan sampah plastik tersebut memang berasal dari The Great Pacific Garbage Patch.

Kini produk kacamata ini sudah memperoleh sertifikasi komersil karena sudah memenuhi standard sunglasses yang aman. Tentu saja, karena kacamata ini didesain oleh Yves Béhar dari Kalifornia, AS, dan juga diproduksi oleh produsen kacamata dunia asal Itali, Safilo. Seluruh bagian kacamata terbuat dari bahan daur ulang. Mulai dari lensa Polaris hingga engsel logamnya. Namun karena jumlah limbah plastik yang tersertifikasi terbatas, maka kacamata tersebut diproduksi dalam jumlah sedikit.   

Meskipun demikian dampaknya sangat luar biasa. Setiap pembelian kacamata tersebut mampu mensupport aksi membersihkan kawasan Great Pacific Garbage Patch yang luasnya setara 24 kali lapangan bola. Bahkan penjualan kacamata sejauh ini mampu membersihkan limbah plastik yang volumenya hingga 500 ribu kali lapangan bola. The Ocean Cleanup mendedikasikan seluruh keuntungan penjualan kacamatanya untuk biaya melanjutkan proses pengangkatan sampah.

“Sungguh menakjubkan bila dipikir setahun lalu daerah itu penuh dengan limbah plastik, kini berangsur menjadi perairan yang bersih dan cantik. Alhasil kami akhirnya bisa mengubah masalah menjadi solusi,” ungkap Boyan Slat, pendiri dan CEO The Ocean Cleanup kepada inhabitat.  

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]