× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Kebijakan Pengurangan Kantong Plastik dan Penerapannya

By Redaksi

Sampah plastik telah menjadi persoalan dunia. Isu ini makin ramai dibicarakan akhir-akhir ini terkait dengan aneka temuan lautan sampah plastik di berbagai wilayah dan dampaknya terhadap ekosistem. Padahal sudah sejak bertahun lalu pembicaraan tentang konsep zero waste mengemuka. Namun persoalan sampah masih terus berkembang.

Sejumlah fakta penerapan aturan kantong plastik di Amerika dan Eropa

Di Amerika Serikat, San Fransisco memulai untuk pertama kalinya. Pemerintah kota menerapkan kebijakan untuk tidak memberi konsumen kantong plastik. Berikutnya mereka melarang styrofoam, terutama untuk kemasan makanan. Botol plastik dibatasi penggunaanya. Sebagai gantinya, penyedia jasa makanan diminta menyiapkan kemasan yang dapat didaur ulang.

Sejak tahun 1994, Denmark telah menerapkan pengenaan pajak bagi kantong plastik kepada usaha ritel. Satu dekade berikutnya diberlakukan pajak khusus bagi pengecer yang menyediakan kantong plastik bagi pembeli.

Pada 2002 Republik Irlandia mulai mengenakan pajak sebesar 0,15 euro untuk satu kantong plastik. Aturan ini berhasil menjadikan 90 persen konsumen memutuskan membawa tas sendiri saat berbelanja. Pajak ini ditingkatkan menjadi 0,22 euro pada lima tahun kemudian.

Di Perancis, para pembelanja harus membeli tas plastik sebesar 2 hingga 42 pence. Pada 2007 bahkan larangan penggunaan kantong plastik diberlakukan penuh.

Skotlandia berhasil menekan jumlah sampah plastik setelah diberlakukan denda untuk semua pengguna tas plastik. Aturan yang diberlakukan pada 2014 ini menerapkan denda sebesar 5 pence berlaku untuk semua tas yang digunakan di semua pusat perbelanjaan, baik online maupun offline. Negara ini mengklain bahwa dalam sepuluh bulan pertama, penggunaan tas sekali pakai turun drastis hingga 80 persen.

Memasuki 2011, Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi mengeluarkan aturan larangan pemakaian kantong plastik bagi toko dan supermarket. Pemberlakuan aturan ini menjadikan Italia sebagai negara pertama Uni Eropa yang memberlakukan larangan penggunaan kantong plastik. Langkah ini sempat mendapat protes dari Inggris yang menganggap Italia membuat aturan sendiri. Karena belum ada kesepakatan Uni Eropa terkait pelarangan kantong plastik tak ramah lingkungan. Ketika itu Uni Eropa belum merilis rekomendasi yang tidak mengikat pada anggotanya terkait aturan ini.

Bukan hanya negara-negara di Amerika dan Eropa yang menerapkan aturan terkait penggunaan kantong plastik ini. Demikian halnya dengan kawasan Asia.

Kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik di Asia

Singapura telah mengampanyekan ‘Bring Your Own Bag’ atau ‘Bawa Kantong Anda Sendiri’ sejak 2007. Konsumen masih bisa menggunakan kantong plastik tapi dikenakan ekstra. Alhasil, pada hari pertama kampanye berhasil mengurangi 100.000 penggunaan kantong plastik dan menurunnya konsumsi kantong plastik hingga 60%.

Sejak 2008, China memberlakukan sanksi kepada usaha yang memberikan kantong plastik secara gratis. India memberlakukannya setahun kemudian. Larangan penggunaan sekaligus penerapan pajak kantong plastik pada usaha ritel. Selain itu dibuat kriteria standar untuk produksi kantong plastik yang ramah lingkungan.

Bangladesh bahkan telah menerapkan aturan larangan sampah beberapa tahun sebelumnya. Pasca terjadinya banjir sepanjang 1988-1998 yang merendam dua pertiga wilayahnya, negara ini memperkenalkan larangan ketat kantong plastik. Dari peristiwa banjir tersebut ditemukan kantong plastik yang menjadi penyebab utama tersumbatnya seluruh saluran air.

Di Indonesia sendiri kebijakan kantong plastik berbayar telah mulai diterapkan bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HSPN), Februari 2016. Kebijakan ini sebagai salah satu upaya pemerintah untuk menekan jumlah sampah plastik di Indonesia.

Berbagai kebijakan terkait sampah telah diterapkan di berbagai negara. Di Indonesia, No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah telah disahkan, Kementerian Lingkungan Hidup juga memberikan dukungan dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah mengenai pengelolaan sampah dengan konsep Extended Producer Responsibility (EPR). Lantas mengapa sampah masih menjadi persoalan yang tak kunjung mendapatkan hasil yang memadai?

Dampah sampah plastik aturan pelarangan

Berbagai laporan terkait pencemaran laut oleh sampah plastik menghiasi media massa. Akhir tahun lalu, seekor paus sperma ditemukan mati di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Mamalia laut berukuran panjang 9,5 meter tersebut ditemukan mati dengan perut dipenuhi sampah plastik. Pekan lalu, seekor paus lain ditemukan mati di perairan Filipina. Satwa langka dengan ukuran 4,7 meter ini mati menelan 40 kilogram sampah.

Peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck, pada tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia yakni 187,2 juta ton. China ada di peringkat pertama dengan capaian sampah plastik sebanyak 262,9 juta ton. Indonesia sebetulnya telah menetapkan target mengurangi sampah plastik di laut hingga 75 persen pada 2025. Namun beberapa pihak masih meragukan keberhasilannya, mengingatkan penegakan peraturan yang sejauh ini belum memadai. Kebiasaan masyarakat yang belum mengacu pada perilaku ramah lingkungan juga menjadi kendala besar pelaksanaan aturan reduksi sampah plastik ini. Ditambah lagi dengan keberatan yang datang dari kalangan pengusaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey menyesalkan diberlakukannya peraturan daerah (Perda) terkait pelarangan penggunaan kantong plastik di toko ritel modern. Roy menilai hal tersebut merugikan pengusaha atau peritel. Dalam pernyataan di depan pers pada November 2018, Roy menyatakan bahwa pada dasarnya Aprindo mendukung upaya pemerintah dalam mengurangi penggunaan kantong plastik. Ia menyadari kantong plastik dapat berdampak negatif atau buruk terhadap lingkungan. Namun ia menilai jika kebijakan yang diberlakukan berupa ‘pelarangan’ adalah tidak tepat. “Dua kata ini, pengurangan dan pelarangan ini tentunya suku kata yang jauh berbeda dan tidak memiliki kesamaan. Kalau pengurangan tentunya kita berupaya untuk mengontrol (penggunaan plastik), kemudian berusaha dikontrol, disesuaikan aturan, sesuaikan dengan apa yang diharapkan. Ini yang disebut pengurangan,” terangnya. Bahkan penguranganpun, menurut Roy tetap perlu dibarengi edukasi.

Seperti diketahui, bebrapa kota telah menerapkan pelarangan kantong plastik di ritel. Diawali dengan Banjarmasin, Balikpapan, lalu berlanjut ke kota-kota di Jawa seperti Jakarta, Bogor, dan Bandung.

 

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]