× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Kaum Disabilitas di Ranah Industri Kreatif

By Redaksi
Persons with disabilities have equal rights in the balance with healthy people. Concept of social equality of disabled people in society

MajalahCSR.id – Industri kreatif kian mendapat tempat di ranah global. Di beberapa negara, industri ini sudah menjadi industri andalan seperti halnya Korea Selatan lewat Kpop-nya.

Di Indonesia pun industri kreatif berkembang pesat. Selain musik, industri perfilman Indonesia kian mendapat tempat di negara lain. Beberapa aktor tanah air sudah go International bermain di film-film box office dunia. Hal ini membuktikan, kemampuan kreativitas bangsa ini sudah diakui di tingkat global.

Industri kreatif tentu membutuhkan para pekerja kreatif di belakangnya. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan para penyandang disabilitas? Bagaimana peran mereka di industri kreatif yang tengah berhembus kencang? Hal ini menjadi bahasan diskusi webinar beberapa waktu lalu, yang bertajuk “Peluang Kerja Disabilitas di Industri Kreatif”.

Kalangan disabilitas memang masih belum mendapat akses pekerjaan yang semestinya. Padahal dari sisi jumlah, menurut Gufroni Sakaril, Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), cukup signifikan di mana 8,41% atau sekira 21,4 juta orang adalah kalangan disabilitas di Indonesia (data 2015). Sampai saat ini, lanjut Gufroni, masih terdapat stigma negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas di Indonesia. Kalangan ini dianggap tak mampu dan berperan, hingga berkontribusi terhadap lingkungannya.

Padahal, di dalam amanat Undang-Undang Dasar pasal 27 (2) disebutkan, “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Hal ini juga diperkuat dengan Pasal 5   UU nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menyebut, “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan”.

Kondisi terpinggirkan ini mendorong peran kaum disabilitas lebih banyak di sektor informal. Padahal, banyak pula diantara mereka yang punya kemampuan bekerja di bidang informal. Di bidang industri kreatif, ada banyak profesi yang bisa digeluti oleh penyandang disabilitas. Mulai dari bidang perfilman (penulis skenario, sutradara, cameraman, audioman, dan lainnya), musisi, youtuber, influencer, programmer aplikasi, dan beberapa profesi sejenis.

“Sepanjang mereka (penyandang disabilitas) diberi akses pendidikan, mereka akan mendapatkan keterampilan (yang sama),” tegas Gufroni Sakaril.

Sementara, Ananda Sukarlan, musisi, komposer, pianis kenamaan sudah membuktikan bahwa kemampuan penyandang disabilitas dalam hal bermusik tak kalah dengan yang lainnya. Ananda mengaku sejak beberapa tahun, melakukan kerja sama dengan yayasan musik di Spanyol, Musica Abierta, untuk membantu anak-anak disabilitas mengembangkan kemampuan bermusik instrumen.

“Sebenarnya sekarang sudah bisa seseorang dengan satu tangan saja menjadi pianis professional,”cetus Ananda. Ananda bersama composer lain dari berbagai negara menulis partitur yang akan digunakan oleh siswa disabilitas untuk mengasah dan mengembangkan kemampuannya. Pianis kebanggaan Indonesia ini berharap partitur bisa dibawa ke Indonesia untuk mendorong penyandang disabilitas yang punya kemampuan bermusik terutama piano bisa berkarya dan berprofesi di bidangnya. Bahkan tak hanya piano, bila ada yang tertarik instrumen lain seperti gitar, biola, Ananda akan membantu menghubungi rekan komponis untuk mendapatkan partitur mereka.

“Saya bahkan sudah menyiapkan kompetisi piano di bulan di Agustus yang punya kategori penyandang disabilitas,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Budi Sumarno, Ketua Umum Komunitas Cinta Film Indonesia dan Founder Inklusi Film Indonesia. Penggiat film yang juga merangkul penyandang disabilitas untuk belajar pembuatan film. Mulai dari  penulis scenario, penata gambar, dan suara, dan bidang lain dalam pembuatan film.

“Penyandang tuna netra biasanya piawai di bidang skenario atau penulisan naskah, yang tuna runggu bagus jika di pengatur gambar,” katanya.

 “Jangan membeda-bedakan mereka (penyandang disabilitas),” pesan Budi. Dalam komunitasnya, orang-orang berkebutuhan khusus diberikan pelatihan sesuai dengan kemampuannya. Hasilnya diakui Budi bahkan tidak berbeda dengan mereka yang memiliki fisik normal.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]