× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Kantor Ramah ASI, Jembatan Produktivitas Perempuan

By Redaksi

Jakarta – Majalahcsr. Pernahkah Anda memperhatikan sekeliling tempat Anda beraktivitas ? Rasanya sudah menjadi pemandangan yang jamak bahwa sebagian besar public service terutama di kota-kota besar menyediakan ruang-ruang laktasi. Meski euforia yang dibangun begitu gegap gempita, ternyata kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya pemberian ASI, tidaklah cukup besar.

Berdasar catatan yang dimiliki Asosiasi Konselor Laktasi Indonesia (AKLI) tahun 2010 menyebutkan hanya 15,3% saja angka kecukupan perolehan ASI. Selain karena belum mumpuni-nya dukungan dari Rumah Sakit, tenaga pelayan kesehatan dan informasi mengenai manfaat ASI,” Keluarga atau tempat bekerja pun tidak memberi dukungan sepenuhnya,” ujar Nia Umar, Ketua AKLI ketika dikonfirmasi lewat telpon, Jumat (5/12).

Di tengah era emansipasi dan kesetaraan, peran perempuan di tempat kerja tidak lagi berada di bagian belakang. Justru produktivitas karyawan termasuk perempuan menjadikannya sebagai mitra strategis. Sebagai tim, tuntutan equal dalam hal pencapaian target kerja menjadi penting, karenanya.

Era modern, ketika mesin terkomputerisasi, menyebabkan industri tak lagi menjadi dominasi kaum pria. Karena tak semata fisik, perempuan pun bisa mengisi posisi-posisi penting di setiap sektor usaha, bahkan di tempat-tempat yang bercitra maskulin, seperti industri perminyakan, ataupun kelistrikan. Sedangkan untuk industri yang lebih umum, wanita sudah lebih dulu mengambil peran penting di sana.

Walau begitu, perempuan tak lepas dari kodrat reproduksi. Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki rahim, wanita mengalami periode-periode tertentu ketika ia harus melahirkan dan memiliki Anak. Tatkala itulah, muncul stigma bahwa kodrat wanita itu menghambat produktivitas.

Kreativitas manusia tidak ada batasnya. Ketika stigma itu muncul, perlawanan dan berbagai upaya untuk mengatasinya pun terus dilakukan. Tak lain, untuk menghapus kesan bahwa produktivitas wanita lebih rendah dari pria, karena harus menghabiskan waktu panjang untuk pengasuhan anak.

Ruang – ruang laktasi menjadi solusi bagi terjaminnya produktivitas para perempuan yang sedang menyusui. Peran sebagai ibu menyusui sekaligus karyawati bisa dilakukan berbarengan. Karyawati menjadi lebih jarang absen karena telah mencukupi kebutuhan ASI bagi bayinya. Biaya kesehatan yang ditanggung perusahaan pun menjadi berkurang—dengan asumsi, anak yang diberi ASI menjadi lebih sehat. Tingkat stress dan turnover yang dialami oleh pekerja wanita juga akan semakin berkurang.

Tentu, berbagai hal diatas itulah yang kemudian dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan “recruitment incentive.” Selanjutnya, tujuan atau goal dari perusahaan pun dapat tercapai dengan berasas pada Human Capital. Karyawan bukan lagi sebagai alat produksi namun telah menjadi aset bagi perusahaan.

Tuntutan perusahaan yang modern, sudah tidak lagi melulu berbicara dalam skup internal. Upaya memenuhi tantangan MDG’s harus terus dilakukan oleh perusahaan. Yaitu, diantaranya mengurangi angka kematian bayi serta meningkatkan angka kesehatan ibu.

Regulasi program Kantor Ramah ASI yang bermula dari Deklarasi Innocenti  menyebut bahwa setiap negara harus memberikan perlindungan dan dorongan kepada Ibu agar berhasil memberikan ASI secara ekslusif kepada bayinya. Kemudian diikuti dengan  UU No. 13/ 2003 pasal 76 ayat (3) tentang ketenagakerjaan yaitu pengusaha mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 – pukul 07.00 serta wajib memberikan makanan dan minuman bergizi. Pasal 83 menyebutkan bahwa pekerja perempuan diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.

Berdasar pada Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif Konvensi tentang Hak Anak bahwa setiap anak menyandang hak untuk hidup serta kepastian untuk dapat bertahan hidup dan tumbuh kembang yang optimal yaitu hak anak untuk disusui dan hak ibu menyusui anaknya. Adapun Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Kesehatan No.48/ Men/ PP/ XII/ 2008, No: PER.27/ MEN/ XII/ 2008, No: 1177/ Menkes/ PB/ XII/ 2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Kerja di Tempat Kerja menjelaskan tentang pemberian kesempatan kepada pekerja/buruh perempuan untuk memerah ASI selama waktu kerja dan menyimpan ASI perah untuk diberikan kepada anaknya. Hal ini sebagai upaya untuk :

  • Memberi kesempatan kepada pekerja/ buruh perempuan untuk memberikan atau memerah ASI selama waktu kerja dan menyimpan ASI perah untuk diberikan kepada anaknya.
  • Memenuhi hak pekerja/buruh perempuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anaknya.
  • Memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI guna meningkatkan gizi dan kekebalan anak.
  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini

Anak ASI Lebih Pandai dan Low Cost

Memperhatikan kesehatan bayi menjadi idaman orang tua manapun di belahan bumi ini. Bukan rahasia lagi, dengan memberi ASI eksklusif turut pula memberi andil terhadap pertumbuhan bayi. ASI merupakan asupan makanan terpenting bagi bayi. WHO menyarankan ASI Eksklusif untuk bayi 0 – 6 bulan, dan setelahnya ASI tetap diteruskan dengan makanan tambahan sampai usia 2 tahun. Pertanyaannya sekarang, apakah pemberian ASI turut pula berkontribusi terhadap kecerdasan anak ? Jawabannya, ya.

Berdasar penelitian yang dilakukan oleh Richards et.al 2002 (Inggris), anak ASI terbukti lebih pandai. Anak ASI secara bermakna menunjukkan hasil pendidikannya lebih tinggi yang mana hasil tidak bergantung pada latar belakang socio ekonomi. Sebanyak 3253 orang di Denmark disusui (1 bulan IQ 5 point lebih rendah dari yang disusui 7-9 bulan yang mana terdapat korelasi lamanya pemberian ASI di tingkat IQ. (Mortensen El et al JAMA (2002). Dan berdasar Meta Analisa terhadap 40 penelitian: sebanyak 68 % menyimpulkan bahwa menyusui meningkatkan kepandaian (Jain et al 2002 (United States)).

Tidak berhenti hanya di cerdas, terbukti dengan memberi ASI eksklusif juga punya dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan keluarga. Jika harga 1 kaleng susu formula sebesar Rp.65.500,- dan jumlah bayi yang terlahir di Indonesia sebanyak 5 juta per tahun, maka biaya 6 bulan formula untuk bayi-bayi ini adalah 5 juta x 55 kaleng (a 400 grm) x Rp 65,500 = Rp 18 , 012 Triliun. Dengan demikian, tiap bayi memerlukan sekitar Rp.3,6 juta dalam 6 bulan ( Rp.600.000/bln ). Hal ini berarti lebih dari 100% dari keluarga berpendapatan Rp 500.000 perbulan ( Rp 3 juta / 6 bln).

Pastinya, keuntungan materil dan immateril inilah yang menjadi spirit luar biasa bagi perempuan bekerja untuk tetap memberikan ASI bagi sang buah hati. Terlebih, secara nyata jelas – jelas ini berdampak langsung bagi para Ibu menyusui yang bekerja. Mulai dari dapat menunda kesuburan, menimbulkan ikatan batin yang kuat antara Ibu dan anak, mengurangi kemungkinan osteoporosis, Rematik dan DM, mengurangi resiko penyakit kanker, mengurangi resiko ibu terkena gejala depresi dan resiko keuangan.
Yuk, Bangun Ruang Laktasi !

Pentingnya peran Ruang Laktasi sudah tak diragukan lagi. Tapi, bagaimana menduplikasikannya? Untuk memenuhi rasa penasaran Anda, berikut beberapa tahapan untuk mendirikan Ruang Laktasi di kantor-kantor yang menjadi syarat Departemen Kesehatan :

  • Tersedianya ruangan khusus dengan ukuran minimal 3×4 m2 dan/atau disesuaikan dengan jumlah pekerja perempuan yang sedang menyusui.
  • Ada pintu yang dapat dikunci, yang mudah dibuka/ditutup.
  • Lantai keramik/semen/karpet.
  • Memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup.
  • Bebas potensi bahaya di tempat kerja termasuk bebas polusi.
  • Lingkungan cukup tenang jauh dari kebisingan.
  • Penerangan dalam ruangan cukup dan tidak menyilaukan.
  • Kelembapan berkisar antara 30-50%, maksimum 60%.
  • Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci peralatan.

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]