× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Kabar Baik, Ditemukan Bakteri Pengurai Plastik

By Redaksi
Jeanny Yao dan Miranda Wang Penemu Bakteri Pengurai Plastik

Di tengah kekhawatiran ancaman sampah plastik di darat maupun laut, ada kabar menarik yang cukup melegakan. Dua pelajar, Jeanny Yao, 21, dan Miranda Wang, 22, berhasil menemukan metode mengurai plastik menjadi karbondioksida dan air.

Polusi sampah plastik sudah menjadi isu global. Yang paling memprihatinkan, begitu banyak sampah plastik yang terdampar ke lautan yang mengganggu ekosistem di sana. Berbagai media baik lokal maupun global yang sudah melaporkan banyaknya hewan laut mati lantaran terjerat atau memakan sampah plastik. Ancaman kepunahan pun jadi keniscayaan bagi keberadaan makhluk laut.

Sampah Plastik di Laut

Menurut riset yang sudah dilakukan, kelak pada 2050, kita lebih banyak menemukan plastik daripada ikan di lautan. Hal ini pula yang mendorong banyak pihak berupaya menemukan solusi terhadap masalah sampah plastik.

Salah satu studi yang cukup menarik perhatian adalah yang dilakukan dua pelajar bernama Jeanny Yao dan Miranda Wang. Dua gadis muda ini, seperti dilansir dari www.physics-astronomy.org, berhasil menemukan spesies bakteri yang diduga bisa menguraikan plastik. Selama bertahun-tahun dua gadis ini fokus dengan penelitiannya. Jerih payah keduanya pun terbayar dengan penemuan bakteri tersebut. Bahkan Jeanny dan Miranda mendapat kucuran dana sponsor senilai USD 400 ribu untuk mendalami dan bakteri.

Keduanya mendapat ganjaran 5 penghargaan, bahkan mampu memenangkan penghargaan ilmiah bergengsi Perlman Science Award. Bakteri yang ditemukan mampu mengurai plastik menjadi karbondioksisa (CO2) dan air (H2O). Dampak penemuan ini memang luar biasa. Ada setidaknya dua manfaat, pertama memudahkan membersihkan sampah plastik di pantai, sekaligus memproduksi bahan baku mentah untuk pakaian.

Sampah Plastik di Laut

“Sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan orang memakai plastik (dalam keseharian). Kita butuh teknologi untuk menjadikan sampah plastik bisa terurai dan kembali dimanfatkan,” ucap Miranda.

Proses teknologi ini terbagi menjadi dua tahap. Pertama, plastik dilarutkan dengan bantuan enzim sebagai media katalis. Alhasil, plastik menjadi bentuk polimer yang amat lunak. Zat ini lalu disimpan dalam wadah biodigester (yang didalamnya terdapat bakteri). Bakteri tersebut akan mengubah plastik menjadi CO2 dan H2O. Proses ini hanya berlangsung selama 24 jam saja.

Jeany dan Miranda dikabarkan akan pindah ke Silicon Valley untuk mendalami penemuan mereka. Keduanya bakal mencoba mengembangkan teknik daur ulang plastik yang lebih sulit, yaitu seperti polystyrene. Sayangnya, informasi menyebut, butuh waktu dua tahun lagi agar temuan mereka dapat dimanfaatkan secara bebas.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]