× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Jembatan Penyebrangan “Ecoduct” yang Selamatkan Satwa Liar

By Redaksi
Jembatan perlintasan satwa liar atau "ecoduct". Foto : dreamstime.com

MajalahCSR.id – Departemen Transportasi Swedia belum lama ini mengumumkan tuntasnya pembangunan jembatan penyebrangan khusus satwa (ecoduct) yang melintasi sejumlah negara Eropa di Skåne, selatan negara tersebut. ”Ecoduct” biasanya dibangun untuk perlintasan migrasi satwa sehingga aman dari kemungkinan insiden tumbukkan dengan perlintasan manusia (seperti jalur lalu lintas). Pada Januari tahun lalu, Swedia mengumumkan rencananya membangun perlintasan rusa kutub demi menolong satwa itu melintasi jalur jalan secara aman.  

Dilansir The Guardian, jembatan dan jalur lintas bawah yang disebut “ecoduct” ini juga dibangun di sejumlah negara. Keberadaannya memang dibutuhkan untuk melindungi satwa liar melintasi wilayah yang berlalu lintas padat.  Presiden AS, Joe Biden dikabarkan sudah mengucurkan dana US$350 miliar dari rencana US$1,2 triliun rencana infrastruktur demi membangun perlintasan satwa liar.  

Di selatan Kalifornia, dikabarkan sedang berlangsung pembangunan jembatan yang disebut sebagai ecoduct terbesar di 2022 ini. Jembatan ini akan membantu singa gunung yang terisolasi untuk berpindah wilayah. Alhasil keberadaan “ecoduct” ini dapat menekan tingkat kecelakaan hewan  saat melintas di sejumlah kawasan di AS.   

Menurut data, rata-rata dalam setahun terjadi 1 hingga 2 juta peristiwa tabrakan antara satwa liar dan kendaraan, termasuk kijang di dunia. Peristiwa itu setidaknya mengakibatkan lebih dari 26.000 orang terluka, 200 di antaranya tewas, ditambah kerugian besar properti yang rusak dan kematian satwa liar. Kecelakaan ini juga memperparah berkurangnya populasi satwa, termasuk satwa-satwa langka.  

“Sepuluh tahun lalu, jembatan satwa liar adalah program eksperimen. Kami tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak. Nyatanya, keberadaannya mampu mengurangi peristiwa kecelakaan. Dalam sejumlah kasus, pengurangannya antara 85% hingga 99%,” ungkap Rob Ament, pakar ekologi jalan di Montana State University. “Anda dapat membangun desain yang bermanfaat untuk beragam spesies satwa..Bahkan di lokasi yang bukan dataran, yang membuat rusa Amerika melintas di North Dakota.”

Saat ini, jembatan satwa liar ini ditemukan di hampir semua negara di dunia. Mulai dari perlintasan gajah liar dekat Gunung Kenya, Afrika, hingga The Aligator Alley di Florida, yang membantu buaya, rusa, dan panter yang hampir punah melintasi kawasan rawa di sana.

Perlintasan lainnya adalah “terowongan cinta” di Australia dan koridor harimau di India. Semua proyek “ecoduct” ini menyediakan perlintasan yang aman bagi sejumlah spesies hewan. Demikian juga di Kosta Rika, terdapat jembatan kanopi yang terbuat dari temali tebal, yang menolong monyet-monyet melintasi jalan agar terhindar dari serangan anjing.  

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]