banner
Dok. idntimes.com
Berita

Jangan Swastakan Air di Jakarta

908 views

Jakarta – Majalahcsr. Pada Kamis, (22/3) kemarin sedianya akan dilangsungkan penandatangan kontrak restrukturasi kerja sama air antara PAM Jaya, Palyja, dan Aetra. Kerjasama ini akan berdampak pada kehilangan pengelolaan air minum oleh PAM Jaya karena dialihkan ke pihak swasta.

Namun, hal ini batal karena adanya penolakan dari masyarakat. Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) menggelar aksi mandi bareng di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta. Aksi ini juga digelar dalam rangka hari air sedunia.

Mereka menolak pengelolaan air yang diberikan Pemprov DKI kepada pihak swasta. Aksi mereka dilakukan atas dasar Putusan Mahkamah Agung Nomor 31/Pdt/2017.

Dalam putusan itu MA telah memerintahkan untuk menghentikan swastanisasi air di Jakarta, mengembalikan pengelolaan air sesuai dengan kovenan internasional hak-hak ekonomi dan sosial budaya yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005, serta sesuai dengan Komentar Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait Hak Atas Air.

Dok. idntimes.com

Seperti yang dilansir IDNtimes.com, peserta aksi datang ke depan Gedung Balaikota DKI Jakarta memakai handuk dan perlengkapan mandi. Mereka membawa selang dan beberapa jerigen yang didorong menggunakan gerobak.

Sebagian masa yang terdiri dari wanita mandi di depan pagar balaikota. Masa lainnya mencuci baju menggunakan ember-ember besar. Sembari orasi, mereka meminta Gubernur DKI Jakarta untuk bergabung dengan kerumunan masa.

Saat berorasi, massa mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka bercerita untuk mendapatkan air bisa menghabiskan uang sekitat Rp 30-50 ribu per hari.

Dok. idntimes.com

Dok. idntimes.com

“Saya mau sampaikan unek-unek saya mumpung ada di Balai Kota tolong bapak Anies-Sandi kami warga Indonesia. Untuk menikmati air bersih aja susah,” kata Amini warga yang berorasi di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (22/3).

“Kami orang miskin aja minta keadilan. Kami untuk mandi seember kecil harganya mahal. Kalau seharian bisa Rp 50 ribu,” lanjutnya.

Selain itu, peserta aksi juga meminta pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk mencabut swastanisasi air. Mereka meminta air diberikan air secara gratis.

“Kami minta tolong cabut swastanisasi. Agar kampung kami bisa dimasuki air Amini seorang warga dan mendapatkan air secara gratis,” ucap Amini.

Aksi ini berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB. Hingga pukul 13.00 WIB masa masih berkumpul di depan Balaikota DKI Jakarta melakukan aksi diam.

Keywords: ,
banner